Beban pengemudi ojek online kian berat ketika biaya operasional motor terus naik, sementara pendapatan mereka dinilai tidak ikut bergerak. Di lapangan, kenaikan harga suku cadang dan BBM disebut langsung menggerus pemasukan harian mitra.
Situasi itu terasa makin menekan karena potongan aplikasi masih berada di level 20 persen. Di saat revisi komisi yang sempat dijanjikan belum juga terbit, kebutuhan dasar kendaraan justru mengalami penyesuaian harga ke atas.
Ketua Umum Garda Indonesia Igun Wicaksono menyebut kenaikan suku cadang kendaraan, khususnya motor, memicu fluktuasi biaya perbaikan yang masuk ke capital expenditure. Menurut dia, faktor ini membuat pendapatan pengemudi ojol tergerus sekitar 10-20 persen.
Igun juga menilai persoalan tidak berhenti pada biaya servis dan penggantian komponen. Pendapatan pengemudi, kata dia, belum mengalami peningkatan dan malah cenderung stagnan, bahkan menurun di sejumlah kasus.
Biaya motor naik, pemasukan tertekan
Kenaikan biaya yang paling terasa datang dari komponen perawatan harian dan berkala. Harga suku cadang seperti oli dan ban disebut mengalami kenaikan besar.
Dari penelusuran di bengkel umum, koreksi harga komponen tersebut bisa mencapai 20 persen. Angka ini penting bagi pengemudi ojol karena motor dipakai terus-menerus setiap hari, sehingga frekuensi perawatan dan penggantian suku cadang lebih tinggi dibanding pemakaian biasa.
Kondisi itu membuat biaya kepemilikan kendaraan tidak lagi bisa dianggap beban kecil. Saat ban, oli, dan komponen lain naik, pengeluaran yang sebelumnya rutin menjadi lebih berat untuk ditanggung dari penghasilan harian yang sama.
Bagi pengemudi yang menggantungkan nafkah pada motor, beban ini bersifat langsung. Ketika kendaraan harus tetap prima agar bisa terus beroperasi, pengeluaran untuk bengkel dan perawatan sulit ditunda terlalu lama.
Harga BBM nonsubsidi ikut melonjak
Selain suku cadang, kenaikan harga BBM nonsubsidi turut mempersempit ruang pendapatan pengemudi. Per 10 Juni 2026, harga Pertamax naik menjadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter.
Kenaikan itu berarti hampir Rp 4 ribu per liter. Dalam operasional harian yang mengandalkan mobilitas tinggi, selisih tersebut dapat terasa besar bagi pengemudi yang menggunakan BBM nonsubsidi.
Pertamina juga menyesuaikan harga Pertamax Green. Dari sebelumnya Rp 12.900 per liter, harga BBM tersebut kini menjadi Rp 17.000 per liter, atau naik Rp 4.100 per liter.
Igun mengatakan kenaikan harga Pertamax juga berdampak pada berkurangnya penghasilan mitra. Meski begitu, ia menilai masih ada sedikit penahan tekanan karena rata-rata pengemudi ojol masih menggunakan BBM subsidi seperti Pertalite.
Fakta bahwa banyak pengemudi masih bertahan dengan BBM subsidi menunjukkan margin pendapatan mereka sangat tipis. Saat biaya bahan bakar alternatif yang lebih tinggi melonjak, pilihan pengeluaran mereka menjadi semakin sempit.
Komisi aplikasi belum berubah
Di tengah kenaikan biaya operasional, pengemudi masih harus menghadapi potongan 20 persen untuk biaya aplikasi. Besaran ini menjadi sorotan karena langsung mengurangi nilai yang diterima mitra dari order yang mereka jalankan.
Masalahnya, revisi komisi yang sempat dijanjikan belum benar-benar berlaku hingga sekarang. Akibatnya, tekanan datang dari dua arah sekaligus, yakni beban biaya kendaraan yang meningkat dan porsi pendapatan yang tetap terpotong.
Kondisi tersebut membuat ruang napas ekonomi pengemudi semakin terbatas. Saat pemasukan tidak naik, setiap perubahan harga pada kebutuhan utama motor akan langsung terasa pada penghasilan bersih yang mereka bawa pulang.
Bagi banyak pengemudi, motor bukan sekadar alat transportasi melainkan aset kerja utama. Karena itu, kenaikan harga sparepart dan BBM tidak hanya berdampak pada biaya perawatan, tetapi juga pada kemampuan mereka menjaga ritme kerja harian.
Tekanan ini menjelaskan mengapa isu harga suku cadang dan BBM menjadi sangat sensitif di kalangan ojol. Ketika ongkos operasional membengkak sementara pendapatan masih segitu-gitu saja, selisihnya harus ditutup dari penghasilan yang justru disebut terus tergerus.
