Menanam bawang putih di dataran rendah ternyata bukan hal yang mustahil. Di Bima, Nusa Tenggara Barat, ada contoh budidaya yang menunjukkan tanaman ini tetap bisa tumbuh pada ketinggian 70–80 meter di atas permukaan laut.
Kisah itu menarik karena bawang putih selama ini lebih sering diasosiasikan dengan daerah sejuk dan tinggi. Namun, ada varietas dan teknik tanam tertentu yang membuat budidaya di lahan rendah tetap berjalan, meski hasilnya belum setinggi lahan pegunungan.
Pilih varietas yang adaptif
Peneliti bawang putih di BPSI Tanaman Sayuran, Agnofi Merdeka Efendi, menyebut pertumbuhan optimal bawang putih berada di kebun dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut. Suhu idealnya berkisar 15–25 derajat Celsius.
Untuk dataran rendah, Agnofi menyebut lumbu putih asal Yogyakarta sebagai varietas yang bisa digunakan. Varietas ini mampu beradaptasi pada ketinggian 0 sampai 200 meter di atas permukaan laut.
Langkah tanam di lahan rendah
Di lapangan, Yamin dari Desa Lido, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, memisahkan umbi bawang putih dari kulitnya sebelum ditanam. Ia merendam 100 kilogram benih dalam 20–30 liter air yang dicampur 250 gram vetsin untuk mempercepat dormansi.
Benih kemudian ditanam di lahan dengan jarak 30 x 30 sentimeter. Dengan pola itu, populasi tanaman bisa mencapai sekitar 50.000 tanaman per hektare.
Penanaman di dataran rendah idealnya dilakukan pada bulan Juni dan Juli. Setelah tanam, Yamin juga meletakkan jerami di lahan untuk menjaga kelembapan tanah.
Pemupukan dan perawatan
Pemenuhan nutrisi dilakukan dengan 150 kilogram NPK per hektare. Pemberian pupuk dilakukan dua kali, yakni saat tanaman berumur 20 hari setelah tanam dan 42 hari setelah tanam.
Perawatan yang konsisten menjadi bagian penting dalam budidaya ini. Dalam kondisi yang dikelola dengan baik, Yamin menyebut masa pemeliharaan berlangsung sekitar 100 hari sebelum panen.
Tanda panen dan hasil yang dicapai
Ciri bawang putih siap dipanen terlihat saat umbi mulai muncul ke permukaan. Kondisi lain yang menjadi penanda adalah hampir 90 persen daun sudah menguning.
Dengan pola tanam tersebut, Yamin memanen 8–9 ton bawang putih per hektare. Hasil itu masih di bawah produksi varietas yang sama di dataran tinggi yang bisa mencapai 10 ton per hektare.
Kualitas dan tantangan produksi
Kualitas bawang putih dapat dilihat dari diameter umbi. Umbi dengan diameter lebih dari 4 sentimeter dinilai berkualitas baik.
Selain ukuran, produksi juga menjadi ukuran penting. Produksi tinggi disebut perlu berada di atas 20 ton per hektare agar bawang lokal lebih kuat bersaing dengan bawang putih impor asal Tiongkok.
Di Indonesia, produktivitas bawang putih rata-rata masih berada di angka 7,8 ton per hektare. Kandungan metabolit sekunder berupa alisin juga ikut menentukan kualitas bawang putih yang dihasilkan.






