BYD Cuma Laku 895 Unit Sebulan, Transisi Produksi Lokal Ternyata Jadi Biang Turunnya

BYD mendadak mengalami bulan yang berat di pasar mobil listrik Indonesia. Di tengah reputasi kuat sebagai merek EV yang selama ini dominan, penjualan bulan lalu hanya mencapai 895 unit.

Angka itu terasa janggal karena performa BYD biasanya jauh lebih tinggi. Model-model andalannya seperti M6, Sealion 7, dan Atto 1 selama ini justru dikenal mampu terjual ribuan unit per bulan.

Penurunan yang tidak biasa

Sebelumnya, BYD masih mencatat volume penjualan yang besar dalam beberapa bulan berturut-turut. Pada Januari, penjualannya tembus 4.879 unit, lalu 4.653 unit pada Februari, 2.941 unit pada Maret, dan 4.625 unit pada April.

Penurunan pada Maret memang bisa dimaklumi karena ada libur Lebaran. Namun, angka 895 unit di bulan berikutnya membuat penurunan kali ini terlihat jauh lebih tajam dari biasanya.

Atto 1 ikut terpukul

Sorotan terbesar tertuju pada Atto 1, model mungil yang sempat terjual ratusan unit tiap bulan. Bulan lalu, penjualannya hanya menyentuh puluhan unit.

M6 juga terkena dampak serupa, meski penjualannya masih lebih baik dibanding Atto 1. Dua model ini sebelumnya menjadi penopang utama BYD di pasar BEV Indonesia.

Transisi ke produksi lokal jadi faktor utama

Kondisi pasar mobil yang tidak menentu memang ikut menekan penjualan banyak merek. Namun, penyebab utama lemahnya kinerja BYD disebut berasal dari proses transisi basis produksi ke lokal.

BYD sejak awal menyiapkan pabrik untuk merakit mobil di Indonesia. Pembangunan fasilitas itu disebut rampung sekitar akhir 2025 atau awal 2026, tetapi proses persiapannya ternyata memakan waktu lebih lama dari perkiraan.

Pada fase ini, produksi yang seharusnya bisa dimulai pada kuartal pertama tahun ini justru tertunda. Dampaknya langsung terasa ke distribusi dan penjualan unit yang selama ini masih bergantung pada skema sebelumnya.

Model terlaris ikut terpengaruh

Dampak transisi itu terlihat pada angka masing-masing model. Atto 1 hanya mencatat 28 unit, sedangkan M6 berada di angka 197 unit.

Sealion 7 kini menjadi salah satu tumpuan BYD, meski penjualannya juga turun drastis. Di sisi lain, Atto 3 dan E6 masih menunjukkan hasil yang relatif baik, sementara performa Dolphin dan Seal belum dijelaskan secara rinci.

BYD menilai situasi ini sebagai hal yang wajar dalam masa persiapan menuju produksi lokal. Pihak perusahaan juga yakin penjualan bisa pulih setelah produksi dimulai.

Persaingan makin ketat

Masalah BYD datang di saat persaingan mobil listrik di Indonesia juga makin ramai. Jaecoo J5 EV disebut banyak diburu konsumen belakangan ini dan berhasil merebut posisi teratas di pasar BEV.

Kondisi itu membuat posisi BYD tidak lagi sebebas sebelumnya, meski merek ini masih punya basis konsumen kuat. M6 dan Atto 1 sebelumnya memang sempat menjadi BEV terlaris di Indonesia, masing-masing pada 2024 dan 2025.

Kini BYD harus menunggu transisi ke produksi lokal selesai sebelum bisa kembali mengandalkan volume besar. Sampai saat ini, perusahaan belum mengumumkan kapan produksi itu benar-benar akan dimulai.

Source: ridertua.com

Terkait