Zero Motorcycles mulai mengirim sinyal baru lewat Lompico Concept. Motor listrik ringkas ini membawa baterai 8,8 kWh dan tenaga sekitar 40 daya kuda, tetapi perhatian terbesar justru tertuju pada dugaan keterkaitannya dengan Hero MotoCorp.
Arah produk ini juga berbeda dari citra Zero selama ini. Lompico tidak dibangun untuk mengejar tenaga besar atau akselerasi ekstrem, melainkan untuk masuk ke kelas komuter perkotaan yang mendekati motor bensin 400 cc.
Perubahan arah itu terasa penting karena Zero selama ini kerap menghadapi dua tantangan besar. Harga motornya dikenal tinggi, sementara jarak tempuh dan infrastruktur pengisian daya masih menjadi pertimbangan utama banyak pembeli.
Karena itu, Lompico terlihat sebagai upaya Zero menjangkau pasar yang lebih luas. Motor ini tampak menyasar pengendara harian yang membutuhkan kendaraan praktis, ringan, dan masuk akal dari sisi penggunaan.
Nama Hero MotoCorp kemudian muncul sebagai bagian yang membuat proyek ini makin menarik. Raksasa otomotif asal India itu disebut sudah menanamkan jutaan dolar ke Zero dan ikut mengembangkan platform motor listrik kecil untuk pasar global.
Kerja sama tersebut memberi keuntungan bagi kedua pihak. Hero mendapat akses ke teknologi kendaraan listrik Zero, sementara Zero memperoleh skala produksi, rantai pasok, dan pengalaman manufaktur yang lebih kuat.
Kemiripan dengan VxZ
Keterkaitan itu makin menonjol setelah gambar paten Hero Vida VxZ versi produksi dan Zero Lompico muncul. Awal tahun ini, divisi kendaraan listrik Hero, Vida, memang memperkenalkan VxZ, singkatan dari Vida x Zero.
RideApart mencatat banyak kemiripan antara keduanya. Rangka teralisnya terlihat serupa, begitu juga roda, komponen rem, suspensi depan upside-down, monoshock belakang, lengan ayun, layar TFT, dan dudukan pelat nomor di lengan ayun.
Rangka teralis adalah rangka pipa berbentuk jalinan yang umum dipakai untuk menjaga kekuatan sambil menekan bobot. Monoshock berarti satu peredam kejut di bagian belakang, sedangkan TFT adalah layar digital berwarna untuk menampilkan informasi kendaraan.
Dengan daftar kesamaan yang cukup panjang, Lompico sulit dianggap sekadar kebetulan. Motor ini lebih tepat dibaca sebagai produk yang berbagi basis teknis dengan Hero VxZ.
Meski begitu, Lompico tetap tidak bisa disederhanakan sebagai “Hero yang ditempeli logo Zero”. Industri otomotif sudah lama mengenal praktik berbagi platform, dan dua merek bisa memakai fondasi yang sama tetapi tetap menjual karakter produk yang berbeda.
Ciri Zero tetap terasa
Salah satu pembeda utama Lompico ada pada perangkat lunaknya. Zero memperkenalkan sistem operasi Cypher 4 yang membawa konektivitas, diagnosis prediktif, manajemen pengisian daya, dan pengaturan yang lebih luas.
Diagnosis prediktif penting karena sistem dapat membaca potensi gangguan sebelum masalah membesar. Dalam motor listrik, pengalaman berkendara memang tidak hanya ditentukan motor dan baterai, tetapi juga oleh kualitas perangkat lunak.
Dari sisi pasar, Lompico diposisikan untuk ruang yang cukup menjanjikan. Performanya disebut cocok untuk negara berkembang, pengguna lisensi A2 di Eropa, dan komuter perkotaan di Amerika Serikat.
Desainnya juga dibuat tetap akrab bagi banyak pengendara. Lompico masih terlihat seperti sepeda motor, bukan kendaraan yang terlalu futuristis seperti properti film fiksi ilmiah.
Hal itu relevan karena banyak pengguna motor listrik tidak mencari tampilan yang ekstrem. Mereka lebih butuh motor yang enak dilihat, mudah dipakai, menyenangkan dikendarai, dan masih masuk akal dari sisi harga.
Jika arah ini berlanjut, Lompico bisa menjadi petunjuk penting tentang strategi baru Zero. Hero membawa kekuatan produksi, Zero menghadirkan teknologi dan pengalaman berkendara, lalu keduanya bertemu di kelas motor listrik yang lebih realistis untuk pasar global.
Dalam konteks itu, Lompico mungkin bukan motor listrik paling bertenaga dari Zero. Namun, justru karena posisinya yang lebih membumi, model ini berpotensi menjadi salah satu produk paling penting bagi arah bisnis Zero ke depan.
Source: voi.id






