Lotus Putar Arah, Mobil Listrik Penuh Ditunda Dan Bensin Kembali Dipakai

Author: Qoo Media

Lotus mulai mengubah arah strateginya setelah pasar mobil sport listrik ternyata tidak bergerak secepat harapan. Merek Inggris yang kini dimiliki Geely itu menunda ambisi elektrifikasi penuh dan kembali memberi ruang bagi mobil bensin serta hibrida.

Keputusan ini membuat Lotus tampil lebih pragmatis di tengah pasar yang disebut rumit oleh CEO Lotus Technology Feng Qingfeng. Perusahaan tidak lagi memaksa transisi total terlalu cepat dan baru akan masuk sepenuhnya ke elektrifikasi ketika pasar dinilai sudah siap.

Jalur baru setelah strategi lama melambat

Perubahan arah Lotus menjadi sorotan karena sebelumnya perusahaan sangat agresif mendorong mobil listrik. Setelah masuk di bawah Geely pada 2017, Lotus menyusun rencana kebangkitan 10 tahun dengan target beralih penuh ke kendaraan listrik dan mobil pintar berbasis perangkat lunak pada 2028.

Dari strategi itu lahir model listrik seperti Evija, Eletre, dan Emeya. Namun, hasil penjualan menunjukkan bahwa adopsi mobil sport listrik belum sesuai ekspektasi.

Menurut laporan kinerja tahunan Lotus yang dikutip Yicai Global, penjualan global perusahaan turun 46 persen tahun lalu menjadi 6.520 unit. Pendapatan juga merosot 44 persen menjadi 519 juta dolar AS.

Bensin dan hibrida kembali masuk

Dalam surat kepada karyawan, Feng menyebut Lotus akan merilis Emira 420 dalam beberapa pekan ke depan. Model itu masih memakai mesin pembakaran internal, sehingga menjadi penegasan bahwa mesin bensin belum ditinggalkan.

Lotus juga menyiapkan Type 135, sebuah hypercar hibrida, pada 2028. Hibrida berarti kendaraan yang memadukan mesin bensin dan motor listrik, sementara hypercar adalah mobil performa sangat tinggi yang biasanya lebih ekstrem dari supercar.

Perubahan ini datang tak lama setelah Lotus memperkenalkan rencana Focus 2030. Dalam rencana itu, Lotus mengambil jalur yang lebih lentur dengan tetap menjual mobil bermesin bensin, kendaraan hibrida plug-in, dan mobil listrik berbasis baterai.

Target komposisinya sekitar 60:40 antara hibrida dan mobil listrik baterai dalam portofolio elektrifikasi Lotus selama masa transisi menuju listrik penuh. Arah ini menunjukkan Lotus masih menempatkan elektrifikasi sebagai tujuan akhir, tetapi tidak lagi dengan satu jalur yang kaku.

Dari ambisi volume ke fokus margin

Feng juga menegaskan bahwa Lotus tidak akan lagi mengejar pertumbuhan penjualan secara membabi buta. Fokus perusahaan kini bergeser ke margin laba yang lebih tinggi, dengan target bisa mencetak laba tahun depan.

Perubahan prioritas ini mendapat dukungan dari perbaikan kinerja keuangan. Rugi bersih Lotus berkurang 58 persen menjadi 464 juta dolar AS, dibantu bauran produk yang lebih baik dan pengendalian biaya.

Lotus juga mencoba menekan ongkos dengan menggabungkan riset, pengembangan, dan produksi mobil sport di Inggris bersama platform elektrifikasi dan teknologi cerdas yang berbasis di China. Langkah ini menjadi bagian dari strategi efisiensi sekaligus upaya menjaga daya saing di tengah tekanan pasar.

Jejak panjang merek klasik Inggris

Lotus sendiri punya sejarah panjang di industri otomotif. Didirikan pada 1948, merek ini pernah masuk jajaran produsen mobil sport papan atas dunia bersama Porsche dan Ferrari.

Namun, masalah keuangan membuat Lotus beberapa kali berpindah tangan. Perusahaan sempat diakuisisi General Motors pada 1986, lalu Proton pada 1996, sebelum akhirnya Geely mengambil alih pada 2017.

Di pasar modal, perubahan strategi ini juga langsung tercermin. Saham Lotus di Nasdaq dengan kode LOT ditutup turun 3,4 persen ke 1,43 dolar AS di New York.

Bagi Lotus, langkah terbaru ini menandai fase baru yang lebih hati-hati. Perusahaan tetap bergerak menuju elektrifikasi, tetapi kini menempuh jalan yang memberi tempat lebih besar bagi bensin dan hibrida di tengah pasar yang belum sepenuhnya siap menerima mobil listrik penuh.

Source: voi.id
Terbaru