Pertamax Naik Nyaris Rp 4 Ribu per Liter, Kapan Bisa Turun Lagi dan Apa Syaratnya?

Author: Qoo Media

Harga Pertamax masih berpeluang turun lagi setelah sempat melonjak tajam pada pertengahan Juni. Sinyalnya datang dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang menegaskan penurunan harga BBM nonsubsidi sangat bergantung pada pergerakan harga minyak dunia.

Kabar ini penting karena kenaikan Pertamax sebelumnya sangat besar, nyaris Rp 4 ribu per liter. Perubahan itu langsung terasa bagi pengguna BBM nonsubsidi, terutama di tengah fluktuasi energi global yang masih dinamis.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyatakan harga Pertamax bisa turun ketika harga minyak dunia kembali normal. Menurut dia, hubungan antara harga minyak global dan BBM nonsubsidi di dalam negeri bersifat langsung karena pelaku usaha harus menyesuaikan harga keekonomian.

Anggia mengatakan, ketika harga minyak dunia turun, harga BBM nonsubsidi juga dipastikan akan turun. Sebaliknya, jika harga minyak dunia naik, maka harga BBM nonsubsidi juga harus ikut menyesuaikan.

Pernyataan itu menegaskan bahwa ruang penurunan harga tetap terbuka meski saat ini harga Pertamax sudah terlanjur naik. Artinya, penyesuaian tidak hanya bergerak satu arah ke atas, tetapi juga bisa kembali turun mengikuti kondisi pasar energi dunia.

Kenaikan yang Terjadi di Pertengahan Juni

Setelah ditahan selama berbulan-bulan, harga Pertamax akhirnya naik pada pertengahan Juni. Nilai kenaikannya cukup tajam, dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter.

Kenaikan juga terjadi pada Pertamax Green 95. Harga BBM dengan RON 95 itu naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Besarnya lonjakan ini membuat banyak konsumen mempertanyakan apakah harga baru tersebut akan bertahan lama. Apalagi, perubahan harga hampir Rp 4 ribu per liter dalam sekali penyesuaian termasuk signifikan bagi pengeluaran harian pengguna kendaraan.

Di sisi lain, pemerintah menekankan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi bukan fenomena yang hanya terjadi di Indonesia. Menurut Anggia, tren kenaikan ini juga terlihat di sejumlah negara lain.

Mengapa Harga Bisa Naik atau Turun

Kementerian ESDM menjelaskan bahwa fluktuasi harga energi global makin dinamis. Dalam kondisi seperti itu, pelaku usaha mau tidak mau harus menyesuaikan harga BBM nonsubsidi dengan harga keekonomian.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa mekanisme harga untuk produk nonsubsidi memang lebih sensitif terhadap perubahan eksternal. Saat tekanan harga minyak dunia mereda, ruang koreksi harga di level konsumen juga ikut terbuka.

Sebaliknya, selama tekanan global masih tinggi, harga di SPBU bisa tetap berada di level sekarang atau bahkan kembali berubah. Karena itu, arah harga Pertamax ke depan sangat ditentukan oleh pergerakan pasar minyak internasional.

Pernyataan pemerintah juga memberi gambaran bahwa penyesuaian harga bukan keputusan yang berdiri sendiri. Faktor global tetap menjadi acuan utama dalam menentukan harga jual BBM nonsubsidi.

BBM Subsidi Disebut Tetap Dijaga

Pada saat yang sama, pemerintah menegaskan harga BBM subsidi tidak akan naik. Anggia menyebut kebijakan itu diambil untuk melindungi masyarakat yang dinilai rentan secara ekonomi.

Ia mengatakan kebijakan Presiden adalah menjaga agar BBM subsidi tidak naik, meski kondisi geopolitik di luar negeri sedang sulit. Dengan begitu, beban gejolak harga energi global tidak seluruhnya diteruskan ke kelompok masyarakat yang paling sensitif terhadap kenaikan harga.

Pemisahan kebijakan antara BBM subsidi dan nonsubsidi menjadi poin penting dalam situasi sekarang. Ketika harga nonsubsidi bergerak mengikuti keekonomian, BBM subsidi tetap dipertahankan sebagai bantalan untuk kelompok tertentu.

Bagi pengguna Pertamax, situasinya berarti mereka perlu mencermati arah harga minyak dunia jika ingin melihat peluang penurunan harga ke depan. Selama harga global membaik, peluang koreksi harga Pertamax tetap ada.

Namun, pemerintah juga sudah memberi peringatan bahwa skenario sebaliknya bisa terjadi. Jika harga minyak dunia kembali naik, maka harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax juga berpotensi kembali disesuaikan.

Source: oto.detik.com
Terbaru