Era mobil listrik murah di Indonesia tampaknya mulai memasuki fase baru. Setelah beberapa tahun ditopang insentif impor dan perang harga agresif, harga sejumlah model EV mulai bergerak naik.
Perubahan ini penting karena menandai bergesernya strategi produsen dari memburu volume penjualan ke mengejar margin dan keberlanjutan bisnis. Di saat yang sama, pemerintah juga mulai memperketat arah industri lewat penghentian fasilitas untuk mobil listrik impor utuh atau completely built up (CBU).
Harga mulai naik di beberapa model
Pergerakan harga sudah terlihat pada 2026. BYD Atto 1 varian Dynamic naik dari Rp195 juta menjadi Rp199 juta pada Februari 2026, sementara Chery Omoda E5 Pure naik dari Rp369,9 juta menjadi Rp379,9 juta.
Wuling Air ev juga meningkat dari Rp206 juta menjadi Rp214 juta. Geely EX2 Pro berubah dari harga promosi Rp229,9 juta menjadi harga reguler Rp239,9 juta pada April 2026.
Kenaikan itu memang tidak besar, tetapi arahnya jelas. Sejumlah merek yang sebelumnya mengandalkan harga agresif kini mulai menyesuaikan harga atau menghentikan program promosi peluncuran.
Tekanan dari berakhirnya insentif
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai perang harga EV mulai mereda, meski belum sepenuhnya selesai. Ia menyebut fase 2024-2025 sebagai masa penetrasi agresif, ketika produsen China memakai diskon, bundling, dan harga rendah untuk merebut pangsa pasar.
Perubahan besar datang setelah pemerintah menghentikan fasilitas impor CBU pada akhir 2025. Produsen yang sebelumnya mendapat kuota impor kini diwajibkan mulai melakukan produksi lokal atau completely knocked down (CKD) pada periode 2026–2027 dengan volume setara kuota impor yang pernah diberikan.
Aturan itu mengubah struktur biaya produsen. Selain kehilangan fasilitas fiskal, perusahaan juga harus menyiapkan investasi baru untuk membangun rantai produksi di dalam negeri.
Yannes mengatakan kondisi tersebut membuat harga murah ekstrem semakin sulit dipertahankan. Ia menyebut berakhirnya insentif CBU impor, tuntutan TKDN, biaya logistik, dan kebutuhan produksi lokal sebagai faktor yang menekan strategi harga lama.
TKDN ikut mendorong penyesuaian
Tekanan lain datang dari kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN. Pada 2026, pemerintah menetapkan batas minimal TKDN kendaraan listrik sebesar 40 persen.
Kebijakan ini mendorong produsen untuk meningkatkan investasi pada fasilitas perakitan, pengadaan komponen lokal, dan pengembangan rantai pasok domestik. Akibatnya, biaya investasi awal ikut meningkat.
Dengan kondisi itu, produsen tidak lagi bisa hanya mengandalkan diskon dan promosi. Mereka juga harus memastikan bisnis tetap berjalan lewat basis produksi yang lebih kuat dan efisien.
Pergeseran ini membuat model bisnis EV di Indonesia ikut berubah. Jika sebelumnya fokus utama ada pada ekspansi penjualan, kini perhatian bergeser ke profitabilitas dan efisiensi operasional.
Produsen China ubah arah persaingan
Perubahan serupa juga terlihat secara global. Setelah perang harga sepanjang 2025, sejumlah produsen kendaraan listrik China mulai mengalihkan fokus dari perebutan volume penjualan ke pemulihan margin keuntungan.
Laba per kendaraan beberapa produsen dilaporkan tertekan akibat diskon agresif selama fase ekspansi pasar. Untuk memperbaiki profitabilitas, perusahaan mulai mengurangi cashback besar-besaran dan meningkatkan porsi penjualan kendaraan premium.
Langkah lain yang ditempuh adalah membangun fasilitas produksi di negara tujuan ekspor, termasuk Indonesia. Cara ini dipakai untuk menekan biaya logistik dan mengurangi risiko hambatan perdagangan di masa depan.
Namun, Yannes menilai kompetisi di pasar kendaraan listrik belum selesai. Menurut dia, persaingan hanya berubah bentuk dari diskon destruktif menjadi perang nilai, garansi, fitur, pembiayaan, dan layanan 3S atau sales-service-spareparts.
Ia juga menyebut akan masuk lagi beberapa brand low cost EV baru yang berpotensi semakin menggerus pasar LCGC ICE brand Jepang di kota-kota besar. Dengan kondisi seperti ini, harga EV murah memang belum hilang sepenuhnya, tetapi ruang untuk bertahan di level lama kini semakin sempit.







