Harga Mobil Listrik Mulai Naik, Pengamat Ungkap Produsen Kini Kejar Margin Bukan Lagi Diskon

Kenaikan harga mobil listrik di Indonesia mulai memperlihatkan pola yang lebih besar dari sekadar naiknya biaya produksi. Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai banyak produsen kini sedang berusaha memulihkan margin keuntungan setelah beberapa tahun bertarung lewat diskon agresif dan promosi besar-besaran.

Perubahan itu mulai terasa di pasar sepanjang paruh pertama 2026. Sejumlah model kendaraan listrik sudah menyesuaikan harga, sementara beberapa merek baru memilih masuk dengan banderol yang sejak awal lebih rasional agar tidak perlu bergantung pada potongan harga besar.

Margin Jadi Penjelasan Utama

Yannes menyebut kenaikan harga EV memang dipengaruhi biaya produksi, tetapi faktor pemulihan margin tampak lebih dominan. Ia menilai produsen tidak bisa terus menjual dengan keuntungan sangat tipis setelah periode perang harga yang menekan profitabilitas, terutama bagi brand asal China.

Menurut dia, kenaikan biaya tetap nyata. Tekanan datang dari berakhirnya sejumlah insentif, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya biaya logistik, tingginya ketergantungan pada komponen impor, serta kebutuhan investasi untuk memenuhi kewajiban produksi lokal dan Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN.

Di pasar global, pola serupa juga mulai terlihat. Sejumlah produsen mengurangi cashback agresif dan mendorong penjualan model dengan nilai jual lebih tinggi untuk memperbaiki keuntungan.

Harga Sejumlah Model Sudah Berubah

Penyesuaian harga sudah tercatat pada beberapa model di Indonesia. BYD Atto 1 varian Dynamic naik dari Rp195 juta menjadi Rp199 juta pada Februari 2026.

Chery Omoda E5 Pure juga bergerak dari Rp369,9 juta menjadi Rp379,9 juta. Wuling Air ev naik dari Rp206 juta menjadi Rp214 juta, sedangkan Geely EX2 Pro berubah dari harga promosi Rp229,9 juta menjadi harga reguler Rp239,9 juta pada April 2026.

Perubahan harga ini menunjukkan bahwa fase kompetisi yang dulu ditopang diskon besar mulai bergeser. Produsen tampak ingin keluar dari perang harga yang berkepanjangan dan menjaga bisnis tetap sehat melalui margin yang lebih aman.

Pasar Indonesia Jadi Arena Penting

Yannes menilai Indonesia menjadi pasar penting bagi produsen, terutama brand China, untuk memulihkan profitabilitas. Ia melihat tekanan margin di pasar ini cukup besar, sehingga penyesuaian harga menjadi bagian dari strategi bisnis yang lebih luas.

Beberapa merek yang masuk ke Indonesia tahun ini seperti XPeng, Aion, dan Denza juga memilih harga awal yang dinilai lebih rasional. Pendekatan itu berbeda dengan strategi lama yang memasang harga tinggi lalu memberi diskon besar untuk menarik perhatian konsumen.

Menurut Yannes, produsen premium tidak hanya mengejar volume penjualan. Mereka juga berupaya membangun citra merek melalui teknologi, fitur, dan diferensiasi produk.

Dampak Insentif dan Kewajiban Produksi Lokal

Perubahan harga juga bertepatan dengan berakhirnya insentif impor kendaraan listrik utuh atau completely built up, alias CBU, pada akhir 2025. Setelah itu, pemerintah mewajibkan sejumlah produsen membangun fasilitas produksi lokal melalui skema completely knocked down atau CKD dan memenuhi target TKDN sebesar 40 persen.

Kebijakan tersebut membuat perusahaan harus mengalokasikan investasi baru untuk fasilitas produksi dan rantai pasok domestik. Beban investasi ini ikut membentuk struktur biaya yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga jual di pasar.

Pada segmen mobil listrik murah, tekanan biaya masih terasa kuat karena konsumen sensitif terhadap harga. Sebaliknya, pada segmen premium, Yannes melihat strategi kenaikan margin lebih dominan dibanding tekanan biaya murni.

Ia bahkan mencontohkan EV premium seperti Xpeng yang dinilai lebih menekankan repositioning merek lewat teknologi, fitur yang lebih canggih, dan desain futuristik. Meski demikian, harga produk itu masih disebut jauh lebih murah dibanding kompetitor Jepang dan Eropa sekelasnya.

Persaingan Masih Ketat, Hanya Berubah Bentuk

Meski harga beberapa model sudah naik, Yannes menilai persaingan mobil listrik di Indonesia belum mereda. Masuknya merek baru dengan produk terjangkau akan menjaga kompetisi tetap tinggi, terutama di segmen kendaraan listrik perkotaan.

Namun, bentuk persaingan tidak lagi hanya soal banting harga. Produsen kini makin mengandalkan fitur, garansi, pembiayaan, dan layanan purnajual untuk menarik konsumen di tengah pasar yang mulai menuntut keseimbangan antara harga dan nilai produk.

Terkait