Masih ada dua merek asal China yang belum sepenuhnya meninggalkan impor mobil ke Indonesia, meski pasar kendaraan listrik lokal terus bergerak ke arah perakitan dalam negeri. BYD dan MG Motor sama-sama masih mendatangkan unit dari China hingga Mei 2026, walau strategi keduanya terlihat berbeda.
Bagi pembaca, kabar ini penting karena menunjukkan bahwa transisi menuju produksi lokal belum merata di semua merek. Di saat sebagian pemain sudah merakit penuh di Indonesia, BYD justru sedang menahan impor besar-besaran sambil mulai memindahkan produksi, sementara MG Motor masih mengandalkan impor untuk sebagian modelnya.
BYD mulai kurangi impor saat produksi bersiap jalan
BYD tercatat hanya mendatangkan 358 unit CBU dari China selama Januari hingga Mei 2026. Angka itu jauh lebih kecil dibanding impor sepanjang 2025 yang mencapai 64.013 unit, serta 2024 yang masih tembus 16.767 unit.
Penurunan itu terjadi karena proses transisi produksi di Indonesia sudah dimulai sekitar April. Perusahaan juga disebut menargetkan produksi di kuartal pertama 2026, lalu persiapan pabriknya selesai setelah memasuki kuartal kedua 2026.
Langkah ini membuat suplai impor BYD menyusut tajam dan ikut menekan penjualan dalam jangka pendek. Dari yang semula bisa menjual ribuan unit per bulan, kini penjualannya tercatat hanya ratusan unit.
Namun kondisi itu tampaknya bukan masalah besar bagi BYD selama produksi lokal mulai berjalan. Jika impor langsung dihentikan total, perusahaan tidak akan memiliki unit untuk dikirim ke konsumen, terutama saat masa transisi belum sepenuhnya stabil.
Atto 1 dan M6 jadi prioritas perakitan
BYD tampak memprioritaskan model yang paling kuat di pasar untuk dirakit lebih dulu. Atto 1 dan M6 disebut sebagai model yang kemungkinan diproduksi lebih awal karena keduanya selama ini menjadi andalan penjualan.
Atto 1 dikenal sebagai mobil termurah BYD, sementara M6 menjadi mobil keluarga listrik murni yang banyak dicari. Keduanya juga sama-sama masuk jajaran mobil listrik terlaris di Indonesia.
Prioritas itu masuk akal karena BYD ingin menahan dampak penurunan penjualan sambil mengalihkan suplai ke produksi lokal. Setelah itu, model lain seperti Sealion 7 disebut bisa menyusul karena juga cukup laris di segmen SUV listrik.
Ada juga kemungkinan M6 DM sudah langsung dirakit lokal setelah diperkenalkan beberapa bulan lalu. Jika benar demikian, BYD tidak perlu lagi bergantung penuh pada pengiriman unit impor untuk model tersebut.
MG Motor masih mendatangkan unit dari China
Berbeda dengan BYD, SAIC Motor Indonesia lewat merek MG Motor masih membawa unit dari China dalam jumlah yang lebih kecil. Selama Januari hingga Mei 2026, MG Motor tercatat mengimpor 53 unit CBU dari negara asalnya.
Jumlah itu turun dibanding 2025 yang mencapai 122 unit, dan jauh lebih rendah dari 2024 yang menembus 1.205 unit. Penurunan ini menunjukkan MG juga mulai menahan impor, meski skalanya tidak sebesar BYD.
Selain CBU, MG Motor juga masih mendatangkan unit CKD dari China. Sejak awal tahun ini, jumlahnya mencapai 1.385 unit.
Kondisi MG berbeda dengan Wuling yang sudah merakit semua mobilnya secara lokal. Pada MG, baru segelintir model yang tampak dirakit, sementara tidak semua mobil bisa langsung diproduksi lokal begitu diluncurkan di Indonesia.
Gambaran pasar belum seragam
Data impor itu menunjukkan bahwa proses lokalisasi kendaraan listrik di Indonesia belum berjalan seragam antar merek. BYD sedang masuk fase pengurangan impor besar-besaran, sedangkan MG Motor masih menjaga suplai lewat jalur impor dan CKD.
Di sisi lain, skala impor BYD memang jauh lebih besar dibanding MG Motor. Selama setahun, BYD masih menjadi pengimpor mobil terbanyak dari luar negeri dengan volume lebih dari 60 ribu unit, sebelum akhirnya mulai mempercepat perakitan lokal.
Perubahan strategi itu akan sangat menentukan performa penjualan beberapa bulan ke depan. Jika produksi lokal berjalan lancar, BYD berpeluang memulihkan distribusi dan menjaga posisi model seperti Atto 1 dan M6 di pasar mobil listrik Indonesia.
