Penjualan BYD Anjlok Di Mei, Transisi Produksi Lokal Ternyata Jadi Penyebabnya

Penjualan BYD di Indonesia pada Mei merosot tajam setelah beberapa bulan sebelumnya bergerak jauh lebih tinggi. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan wholesales BYD hanya menyentuh 800 unit lebih, jauh di bawah capaian Januari, Februari, Maret, dan April.

Penurunan itu langsung mengubah posisi BYD di pasar. Pada Mei 2026, merek asal China tersebut terlempar dari 10 besar merek terlaris dan turun ke urutan 14, tertinggal dari sesama merek China seperti Chery dan Wuling.

Transisi produksi jadi faktor utama

Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan menyebut pelemahan itu terjadi karena perusahaan sedang menyesuaikan rantai pasok. Penyesuaian tersebut berlangsung seiring dimulainya produksi lokal di Indonesia.

Menurut Luther, angka wholesales memang terdampak oleh perpindahan sumber produksi. BYD sebelumnya masih mengandalkan kendaraan impor atau CBU, lalu kini beralih ke produksi dalam negeri.

Ia menjelaskan bahwa wholesales merupakan penjualan dari principal kepada dealer. Karena itu, perubahan dari barang impor ke produk lokal ikut memengaruhi distribusi ke jaringan penjualan dalam jangka pendek.

Dampaknya bersifat sementara

Luther menegaskan ada “sedikit shock” pada sisi angka selama proses transisi berlangsung. Namun, ia menyebut kondisi itu akan kembali normal dalam bulan ini.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa BYD memandang penurunan Mei bukan sebagai pelemahan permintaan semata, melainkan sebagai efek penyesuaian operasional. Dengan kata lain, distribusi ke dealer sedang mengalami perubahan struktur saat pabrikan menata ulang jalur pasoknya.

Pabrik Subang jadi basis baru

Perubahan tersebut berkaitan dengan pembangunan pabrik BYD di Subang, Jawa Barat. Fasilitas itu dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp16 triliun.

Pabrik ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit kendaraan per tahun. Kehadiran fasilitas tersebut diproyeksikan memperkuat basis produksi BYD di ASEAN.

Dengan latar itu, penurunan penjualan pada Mei menjadi potret sementara dari masa transisi bisnis BYD di Indonesia. Di satu sisi, distribusi ke dealer turun tajam, tetapi di sisi lain perusahaan sedang menggeser fondasi pasokannya dari impor ke produksi lokal.

Source: voi.id

Terkait