Harga BBM Nonsubsidi Bisa Turun, ESDM Tegaskan Nasib Pertamax Ikut Minyak Dunia

Author: Qoo Media

Harga BBM nonsubsidi di Indonesia disebut bisa ikut turun bila harga minyak dunia melemah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan mekanisme pembentukan harga untuk jenis BBM ini memang mengikuti perkembangan pasar dan harga keekonomian.

Pernyataan itu penting di tengah perhatian publik terhadap perubahan harga energi dalam negeri. Bagi konsumen Pertamax, Dex Series, dan jenis nonsubsidi lain, arah harga sangat dipengaruhi langsung oleh tren minyak mentah global.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa saat harga minyak dunia bergerak turun, dampaknya dapat berimbas pada harga BBM nonsubsidi yang juga turun ke konsumen. Artinya, ruang penurunan harga tetap terbuka selama tekanan dari pasar energi global mereda.

Penegasan ini sekaligus memberi gambaran bahwa kenaikan dan penurunan BBM nonsubsidi tidak berdiri sendiri. Harga jualnya bergerak seiring perubahan harga pasar dan nilai keekonomian yang menjadi acuan penetapan.

Harga nonsubsidi mengikuti pasar

Menurut ESDM, ada perbedaan mendasar antara BBM subsidi dan nonsubsidi. BBM subsidi tetap dijaga pemerintah, sedangkan BBM nonsubsidi lebih dekat dengan mekanisme pasar.

Dalam skema itu, Pertalite dan solar subsidi tetap dipertahankan untuk melindungi kelompok masyarakat rentan. Sementara itu, Pertamax, Dex Series, dan produk sejenis mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa perubahan harga pada dua kelompok BBM itu tidak selalu sama. Ketika pasar global bergejolak, efeknya lebih cepat terasa pada produk nonsubsidi dibandingkan BBM yang mendapat perlindungan harga dari pemerintah.

Dwi Anggia juga menyampaikan bahwa pemerintah sebelumnya telah berupaya menahan kenaikan harga BBM nonsubsidi. Langkah itu dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan biaya energi.

Pemerintah disebut sempat berdiskusi dengan badan usaha milik negara maupun pihak swasta untuk mempertahankan harga BBM nonsubsidi. Upaya itu dilakukan ketika pasar energi global sedang berfluktuasi.

Namun, kenaikan harga minyak dunia pada periode sebelumnya membuat penyesuaian akhirnya sulit dihindari. Dalam konteks itu, BUMN pada akhirnya perlu menyesuaikan harga jual.

Anggia menyebut penyesuaian tersebut telah diawali oleh Pertamina pada 10 Juni 2026. Langkah itu menjadi contoh bagaimana gejolak harga global bisa langsung diteruskan ke pasar domestik untuk produk yang tidak disubsidi.

BBM subsidi tetap dipertahankan

Di tengah pembahasan soal kemungkinan turunnya harga nonsubsidi, pemerintah menegaskan posisi BBM subsidi tidak berubah. Harga Pertalite dan solar subsidi tetap dipertahankan sebagai bantalan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Penegasan ini juga relevan karena muncul isu terkait keberlanjutan Pertalite di pasar. PT Pertamina Patra Niaga memastikan produk RON 90 itu masih tersedia dan tetap disalurkan sesuai penugasan pemerintah.

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menyatakan stok Pertalite dalam kondisi tersedia. Distribusinya ke seluruh SPBU juga disebut berjalan normal.

Keterangan itu membantah anggapan bahwa Pertalite akan ditarik dari peredaran. Pertamina menegaskan hingga saat ini penyaluran Pertalite masih berlangsung sesuai ketentuan dan regulasi yang ditetapkan pemerintah.

Menurut Roberth, perusahaan terus memantau kondisi stok dan penyaluran BBM secara real-time di seluruh wilayah. Pemantauan itu dilakukan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dengan baik.

Pertamina Patra Niaga juga menyebut pengelolaan rantai pasok energi terus dioptimalkan. Dukungan infrastruktur terminal BBM, lembaga penyalur, armada distribusi, dan sistem pemantauan terintegrasi menjadi bagian dari upaya tersebut.

Penjelasan itu sekaligus menepis asumsi bahwa kekosongan Pertalite di SPBU tertentu berarti produk tersebut akan dihapus. Gangguan pasokan di lokasi tertentu tidak disebut sebagai tanda penghentian penyaluran secara nasional.

Apa artinya bagi konsumen

Bagi konsumen, pesan utama dari pemerintah adalah arah harga BBM nonsubsidi sangat bergantung pada perkembangan pasar minyak dunia. Jika tren global turun, maka peluang turunnya harga di dalam negeri juga terbuka.

Di sisi lain, kebijakan untuk menjaga harga BBM subsidi tetap dipertahankan menunjukkan adanya pemisahan perlakuan yang tegas. Pemerintah menempatkan Pertalite dan solar subsidi sebagai instrumen perlindungan, sementara harga produk nonsubsidi disesuaikan dengan kondisi keekonomian.

Dengan demikian, publik perlu melihat perubahan harga BBM dari dua jalur yang berbeda. Satu jalur ditopang kebijakan subsidi, sedangkan jalur lain bergerak sesuai dinamika pasar energi global yang terus berubah.

Source: otodriver.com
Terbaru