Kenaikan BI Rate menjadi 5,75 persen mulai memunculkan perhatian serius di industri otomotif nasional. Pasalnya, kebijakan Bank Indonesia itu dinilai berpotensi menekan penjualan mobil baru lewat kenaikan suku bunga kredit kendaraan bermotor.
Dampaknya tidak dibaca sebagai efek yang langsung seragam di lapangan. Para pelaku usaha menilai respons perusahaan pembiayaan atau leasing akan sangat menentukan seberapa besar tekanan yang akhirnya dirasakan konsumen.
Marketing Director dan Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Sri Agung Handayani, mengatakan pihaknya belum bisa memastikan apakah penyesuaian BI Rate akan langsung memukul volume penjualan mobil. Menurut dia, efek kebijakan moneter tersebut masih bergantung pada cara leasing mengelola biaya pendanaan mereka.
Agung menjelaskan, kenaikan BI Rate memang berkaitan dengan potensi naiknya cicilan yang harus dibayar konsumen. Namun, setiap perusahaan pembiayaan memiliki sumber pendanaan yang berbeda sehingga penyesuaian bunga kredit tidak selalu terjadi dengan pola yang sama.
Pembelian mobil masih sangat bergantung pada kredit
Risiko tekanan penjualan menjadi lebih besar karena pasar otomotif domestik masih ditopang pembiayaan jangka panjang. Agung menyebut 70% hingga 80% pembelian kendaraan bermotor di Indonesia dilakukan secara kredit.
Dengan struktur seperti itu, perubahan suku bunga acuan dapat langsung memengaruhi keterjangkauan calon pembeli. Jika bunga kredit ikut naik, beban cicilan bulanan juga berpotensi bertambah dan membuat sebagian konsumen menunda pembelian.
Agung menilai kondisi itu bisa menekan penjualan mobil baru apabila kenaikan BI Rate diteruskan ke kendaraan bermotor. Meski begitu, ia menegaskan efek akhirnya tetap akan sangat ditentukan oleh keputusan masing-masing leasing company.
Leasing disebut punya ruang hitung sendiri
Menurut Agung, perusahaan pembiayaan tidak selalu bergantung pada sumber dana domestik. Karena itu, mereka masih punya ruang untuk menghitung ulang skema pembiayaan sebelum mengubah bunga kredit ke konsumen.
Ia juga menyebut bahwa tidak semua perusahaan pembiayaan akan bereaksi dengan cara yang sama. “Leasing company itu source dari funding-nya berbeda-beda,” ujarnya saat ditemui di Depok, Minggu (21/6/2026).
Dari sisi penjualan, jaringan dealer mulai membaca kebutuhan pasar dengan menyiapkan strategi yang lebih fleksibel. Salah satu opsi yang disorot adalah memperpanjang masa tenor agar pembayaran bulanan tetap terasa terjangkau bagi konsumen.
Tenor panjang jadi salah satu penyangga
Agung mengatakan ada upaya memberikan kemudahan bukan hanya pada saat pembayaran, tetapi juga pada kemampuan memperpanjang masa cicilan. Ia mencontohkan adanya skema tenor kredit 8 tahun yang sudah disiapkan, meski porsinya masih kecil.
Strategi seperti itu dipandang penting untuk menjaga daya beli masyarakat tetap stabil di tengah perubahan suku bunga. Dengan tenor yang lebih panjang, beban cicilan bisa ditekan meski total waktu pembayaran menjadi lebih lama.
Meski begitu, pasar masih menunggu seberapa besar penyesuaian yang benar-benar diterapkan di lapangan. Industri otomotif kini mencermati apakah konsumen hanya akan menghadapi kenaikan rate, atau justru masih mendapat ruang keringanan dari skema pembiayaan yang lebih longgar.
