BYD Buka Suara Soal Kontainer Tanjung Priok, Bantah Sengaja Menahan Barang di Pelabuhan

Author: Qoo Media

PT BYD Motors Indonesia merespons tudingan yang menyebut perusahaan itu ikut menjadi penyebab penumpukan sekitar 10 ribu kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. BYD mengakui memang ada kontainer miliknya yang tertahan, tetapi menegaskan kondisi itu bukan karena unsur kesengajaan.

Perusahaan juga meminta maaf atas ketidaknyamanan yang timbul dari situasi tersebut. Respons ini muncul setelah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyebut ada pembiaran barang impor di area pelabuhan, termasuk oleh BYD dan Wuling, hingga tidak segera keluar selama tiga hari.

Menurut Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, jumlah kontainer milik BYD tidak sebesar angka yang ramai dibicarakan. Ia mengatakan setelah pengecekan secara komprehensif, porsi kontainer BYD hanya merupakan sebagian kecil dari total volume yang menjadi perhatian.

BYD juga membantah tudingan bahwa perusahaan sengaja menahan atau memperlambat pengeluaran kontainer dari pelabuhan. Dari sisi bisnis, perusahaan menilai membiarkan kontainer terlalu lama di pelabuhan justru merugikan secara finansial.

Luther menyebut biaya penyimpanan dan penalti harian di pelabuhan lebih besar dibandingkan biaya logistik dan penyimpanan di fasilitas sendiri maupun tempat sementara. Karena itu, menurut BYD, tidak ada alasan bisnis untuk sengaja menunda proses distribusi barang.

Alasan penumpukan menurut BYD

BYD menyatakan penumpukan terjadi karena dinamika operasional dan logistik yang melibatkan banyak pihak. Perusahaan menyebut tingginya volume kedatangan barang pada periode yang bersamaan secara reguler setiap minggu menjadi salah satu pemicu utama.

Selain itu, ada faktor hari libur nasional yang ikut memengaruhi kelancaran arus barang. Kepadatan lalu lintas distribusi dan penyesuaian kapasitas pengangkutan perusahaan logistik akibat dampak kenaikan BBM juga disebut memperberat proses pengeluaran kontainer.

Penjelasan ini menjadi titik penting karena isu yang berkembang tidak hanya menyangkut jumlah kontainer, tetapi juga dugaan adanya pembiaran. BYD berusaha menempatkan persoalan ini sebagai masalah rantai logistik yang lebih luas, bukan keputusan sepihak perusahaan.

Di saat yang sama, pengakuan adanya penumpukan menunjukkan bahwa BYD tidak menepis fakta dasar soal keterlambatan pergerakan kontainer. Perusahaan hanya menolak anggapan bahwa keterlambatan itu dilakukan secara sengaja.

Langkah percepatan di lapangan

BYD mengatakan sudah berkoordinasi dengan seluruh pihak untuk memastikan distribusi kontainer berjalan lebih baik. Sejak awal Juni, perusahaan mengklaim telah menjalankan berbagai langkah percepatan dan hasilnya mulai terlihat positif.

Salah satu langkah yang diambil adalah menambah armada logistik perusahaan untuk mempercepat pemindahan barang dari area pelabuhan. BYD juga menyebut mayoritas kontainer yang tiba pada periode sebelumnya telah dipindahkan.

Selain memperkuat armada, perusahaan menyiapkan tempat penyimpanan sementara di sekitar pelabuhan. Langkah ini ditujukan untuk membantu percepatan pengeluaran kontainer dan mengurangi kepadatan di area penumpukan utama.

BYD menyatakan terus memantau realisasi pemindahan tersebut. Perusahaan berharap proses pengosongan dapat diselesaikan dalam waktu dekat.

Isi kontainer bukan mobil utuh

Di tengah perhatian publik terhadap merek otomotif yang disebut dalam persoalan ini, BYD menegaskan isi kontainer yang berada di pelabuhan bukan unit mobil utuh. Kontainer itu disebut berisi komponen untuk proses perakitan dan suku cadang.

Penjelasan tersebut penting karena memberi konteks terhadap jenis barang yang terdampak penumpukan. Artinya, keterlambatan tidak berkaitan langsung dengan stok mobil jadi di pelabuhan, melainkan logistik penunjang produksi lokal dan kebutuhan purnajual.

Pernyataan ini juga memperlihatkan bahwa dampak penumpukan bisa menjalar ke rantai operasional yang lebih luas. Komponen perakitan dan spare parts merupakan bagian penting untuk menjaga kelancaran layanan dan aktivitas produksi.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama menyebut sekitar 10 ribu kontainer sempat menumpuk di Tanjung Priok. Dalam penjelasannya, pembiaran barang di pelabuhan itu disebut antara lain dilakukan oleh BYD dan Wuling.

Dengan klarifikasi ini, BYD berupaya menepis anggapan bahwa perusahaan menjadi salah satu penyebab utama penumpukan kontainer di pelabuhan. Namun perusahaan tetap mengakui ada bagian dari proses distribusinya yang terdampak kepadatan logistik dan kini sedang dipercepat melalui penambahan armada serta penyediaan lokasi simpan sementara di sekitar Tanjung Priok.

Source: oto.detik.com
Terbaru