Rugi Rp 47 Triliun Bikin Honda Putar Arah, Mobil Hybrid Kini Jadi Tumpuan Besar

Author: Qoo Media

Honda memilih jalur yang lebih aman setelah pergeseran besar di strategi elektrifikasinya memicu kerugian ratusan miliar yen. Pabrikan Jepang itu kini mengalihkan fokus global dari mobil listrik murni ke teknologi hybrid demi memulihkan profitabilitas.

Perubahan arah ini langsung menarik perhatian karena nilainya sangat besar bagi neraca perusahaan. Honda mencatat kerugian 423,9 miliar yen pada tahun fiskal lalu, sebuah pukulan yang disebut menjadi catatan kerugian pertama dalam sejarah berdirinya perusahaan.

Putar Haluan dari EV ke Hybrid

Honda sebelumnya dikenal agresif mendorong kendaraan listrik murni atau EV. Namun kini perusahaan secara resmi kembali memperkuat pengembangan mesin hybrid sebagai pusat strategi barunya.

Menurut Drive, keputusan itu diambil setelah biaya pembatalan strategi EV sebelumnya membebani keuangan internal. Honda mengakui proses transisi untuk menjauh dari kendaraan listrik memakan biaya sangat besar, mencapai 2,5 triliun yen Jepang.

Besarnya dampak finansial terlihat dari rincian kerugian yang dicatat perusahaan. Dalam tahun fiskal terakhir, Honda membukukan 1.577,8 miliar yen akibat “kerugian terkait kendaraan listrik”.

Langkah ini menunjukkan bahwa transisi ke EV tidak hanya soal teknologi dan produk. Di level korporasi, perubahan arah juga menyangkut risiko investasi, pembatalan proyek, dan penyesuaian strategi yang mahal.

Pasar Melemah, Tekanan Meningkat

Perubahan strategi Honda juga tidak lepas dari perlambatan performa pasar. Penjualan mobil Honda turun 8,9 persen secara global, dengan penurunan paling tajam terjadi di Tiongkok.

Tekanan juga terasa di Amerika Utara yang selama ini menjadi salah satu penopang utama penjualan. Di kawasan itu, penjualan ikut melemah sekitar 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut membuat langkah mengejar EV secara agresif dinilai semakin berisiko bagi kondisi keuangan perusahaan. Di tengah pasar global yang kompetitif dan tidak pasti, hybrid dipandang lebih realistis untuk menjaga bisnis tetap sehat.

Honda menilai pendekatan ini dapat membantu menstabilkan operasional saat pasar kendaraan listrik masih penuh tekanan. Dengan kata lain, perusahaan tidak meninggalkan arah elektrifikasi sepenuhnya, tetapi memilih jalur yang dinilai lebih aman secara komersial.

Target Balik ke Jalur Laba

Meski menanggung kerugian besar, manajemen Honda tetap memasang target ambisius. Perusahaan menargetkan laba operasi sebesar 1,4 triliun yen pada tahun fiskal 2029 melalui optimalisasi teknologi kendaraan hybrid.

Target itu menjadi sinyal bahwa Honda melihat hybrid bukan sekadar solusi sementara. Teknologi ini justru ditempatkan sebagai mesin utama pemulihan keuntungan dalam beberapa tahun ke depan.

Namun jalan menuju target tersebut tidak sepenuhnya bebas hambatan. Honda masih memperkirakan adanya dampak negatif lanjutan sebesar 500 miliar yen hingga tahun 2027.

Proyeksi itu menunjukkan beban dari perubahan strategi belum selesai dalam waktu dekat. Meski begitu, perusahaan menilai fokus baru ini tetap lebih masuk akal dibanding terus mempertahankan strategi EV yang terlalu berat bagi keuangan.

Investor dan Posisi Persaingan

Pergantian arah ini juga membawa dimensi lain, yakni soal kepercayaan pasar. Setelah rapor keuangan melemah, Honda berharap strategi hybrid dapat membantu mengembalikan keyakinan investor.

Di saat yang sama, langkah itu juga ditujukan untuk menstabilkan posisi Honda dalam persaingan otomotif global. Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan pasar dan penurunan penjualan membuat perusahaan perlu mencari pijakan yang lebih kuat.

Hybrid dipilih karena dianggap mampu memberi keseimbangan antara efisiensi, permintaan pasar, dan pengendalian biaya. Bagi Honda, keputusan ini tampaknya bukan hanya soal produk apa yang dijual, tetapi tentang bagaimana perusahaan menjaga keberlanjutan bisnis di tengah perubahan industri yang sangat cepat.

Perubahan strategi tersebut memperlihatkan bahwa perlombaan kendaraan listrik tidak selalu berjalan lurus bagi semua pabrikan. Bagi Honda, biaya untuk mengejar EV secara agresif terbukti terlalu mahal, sehingga hybrid kini menjadi taruhan utama untuk menahan kerugian, memulihkan laba, dan memperbaiki posisi di pasar global.

Source: www.suara.com
Terbaru