Nio F2 Masuk Daftar WEF Lighthouse, AI Kini Memimpin 80% Keputusan Produksi

Nio kembali mencuri perhatian di panggung manufaktur global setelah pabrik keduanya, F2, masuk ke Global Lighthouse Network milik World Economic Forum (WEF). Pengakuan ini menempatkan fasilitas Nio di Hefei sebagai salah satu contoh penerapan teknologi Revolusi Industri Keempat pada skala besar.

WEF mengumumkan tambahan terbaru jaringan tersebut pada 22 Juni. Jaringan yang dibangun bersama McKinsey & Company ini menilai fasilitas manufaktur dengan standar evaluasi yang ketat dan proses seleksi independen, sehingga kerap dipandang sebagai tolok ukur manufaktur canggih.

AI jadi inti operasi pabrik

Di F2, kecerdasan buatan mengambil peran besar dalam proses produksi. Nio menyebut sekitar 80% skenario manufaktur di pabrik itu sudah didukung pengambilan keputusan berbasis AI, sementara 90% alur kerja riset dan pengembangan telah diotomatisasi.

WEF menilai transformasi itu membantu Nio mempercepat speed-to-market hingga 44%. Perusahaan juga membangun sistem closed-loop real-time yang menghubungkan AI di dalam kendaraan, jaringan battery swap, dan platform digital twin yang mampu mengelola lebih dari 3,6 juta konfigurasi kendaraan.

Pabrik F2 sendiri beroperasi sebagai smart factory yang sepenuhnya terdigitalisasi. Sistemnya mengandalkan algoritma AI industri, foundation models, serta portofolio model AI khusus yang terus dikembangkan secara internal.

Dorongan efisiensi di tengah persaingan EV

WEF menyoroti bahwa persaingan di sektor kendaraan listrik semakin ketat. Kondisi itu menuntut perusahaan bergerak lebih cepat dalam pengembangan produk, penyesuaian fitur, serta integrasi sistem lintas riset, manufaktur, dan manajemen kualitas.

Dalam konteks itu, otomatisasi menjadi pembeda penting bagi Nio. Penerapan teknologi di F2 menunjukkan upaya perusahaan menjawab tuntutan industri dengan menghubungkan proses pengembangan dan produksi secara lebih rapat.

Jejak otomasi di pabrik ini juga sudah terlihat lebih awal. Pada Maret 2025, pendiri sekaligus Chairman dan CEO Nio, William Li, membagikan gambar animasi di Weibo yang menampilkan lengan robot sebagai pemeriksa kualitas di F2.

Li mengatakan saat itu bahwa robot inspeksi bekerja mulus melalui rangkaian tugas, mulai dari memasukkan charging gun, memotret, melakukan inspeksi, hingga melepas kembali perangkat tersebut. Hal ini memperlihatkan bagaimana robotika mulai mengambil porsi lebih besar dalam tugas berulang di lini produksi.

Pengakuan lain sebelum Lighthouse

Sebelum masuk ke jaringan Lighthouse, F2 juga sudah mengantongi pengakuan lain di China. Fasilitas itu ditetapkan sebagai National Green Factory oleh Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China.

Selain itu, China Automotive Technology and Research Center (CATARC) memberi status Super Automotive Factory kepada pabrik tersebut. Deretan pengakuan ini memperkuat posisi F2 sebagai fasilitas yang menonjol, bukan hanya dari sisi digitalisasi tetapi juga dari aspek efisiensi dan standar industri.

Pabrik yang dibuka untuk publik

F2 tidak hanya dibangun untuk produksi. Sejak awal, pabrik itu juga dirancang agar bisa diakses publik, sejalan dengan keinginan Nio untuk memperkenalkan ekosistem manufaktur cerdas China kepada lebih banyak orang.

Sejak tur pabrik dimulai pada 2018, fasilitas F1 dan F2 Nio di Hefei telah menerima hampir 300.000 pengunjung dari berbagai negara. Angka itu menunjukkan bahwa pabrik ini berfungsi ganda, sebagai pusat produksi sekaligus etalase teknologi industri.

Nio mengatakan sistem manufaktur canggihnya akan terus mengacu pada standar Global Lighthouse Network. Perusahaan juga berencana memperdalam integrasi AI dengan teknologi manufaktur lanjutan untuk menetapkan tolok ukur baru bagi manufaktur cerdas di China.

Source: cnevpost.com

Terkait