Di tengah ekonomi yang masih lesu, Daihatsu justru tetap menjaga performa penjualannya di Indonesia. Pabrikan asal Jepang itu masih bertahan di posisi kedua merek mobil terlaris sepanjang tahun ini, dengan pertumbuhan pasar yang ikut menguat.
Kunci utamanya ada pada pergerakan pasar yang membaik dan strategi yang pas membaca kebutuhan konsumen. Marketing Director dan Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor, Sri Agung Handayani, menyebut kondisi pasar dibandingkan tahun lalu meningkat 9-10%, baik dari sisi wholesales maupun retail.
Pasar yang bergerak di segmen yang tepat
Agung menjelaskan, pertumbuhan itu tidak terjadi merata di semua kelas. Segmen mobil medium high dan mobil komersial justru tumbuh, termasuk pick up dan semi komersial, sementara segmen LCGC mengalami penurunan kontribusi.
Namun, Daihatsu menyebut volume di kelas LCGC tidak turun. Pernyataan itu menunjukkan basis konsumen merek ini masih cukup kuat, terutama di luar kota yang menjadi salah satu kantong pasar penting.
Penjualan retail ikut naik
Daihatsu juga mencatat kinerja retail yang solid pada Mei 2026. Penjualannya mencapai 12.531 unit, tumbuh 25% dibandingkan Mei 2025, dan market share naik menjadi 17,4%.
Angka ini memberi sinyal bahwa permintaan tidak hanya datang dari kanal distribusi, tetapi juga dari pembelian langsung oleh konsumen. Di tengah tekanan ekonomi, capaian seperti ini menjadi modal penting bagi Daihatsu untuk menjaga posisinya di pasar.
Produksi ikut terdorong
Bukan hanya penjualan yang naik, produksi Daihatsu di Indonesia juga ikut meningkat. Dari Januari hingga Mei 2026, perusahaan memproduksi 169.000 unit mobil, naik 11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 152.400 unit.
Kenaikan produksi ini menunjukkan aktivitas pabrik berjalan lebih agresif untuk mengimbangi permintaan pasar. Pada saat yang sama, angka tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan penjualan tidak berhenti di showroom, tetapi juga merambat ke sisi manufaktur.
Pendorong datang dari pembeli lama dan fleet
Pertumbuhan Daihatsu juga ditopang oleh pembeli mobil kedua, termasuk pembeli additional, replacement, dan repeat order. Di sisi lain, segmen fleet atau armada mengalami peningkatan penjualan yang signifikan.
Agung menyebut kontribusi pembeli first car masih dominan, tetapi pembeli second buyer dan fleet ikut mengangkat total penjualan. Komposisinya kini sekitar 65% first car buyer dan 35% second buyer, sementara kontribusi fleet naik dari 15% menjadi 19% dari total penjualan.
Strategi di luar kota ikut berperan
Daihatsu melihat karakter konsumennya berbeda dari merek lain, terutama karena pasar mereka banyak tersebar di luar kota. Pola ini membantu perusahaan menjaga volume di segmen tertentu, termasuk LCGC, meski kontribusi segmen tersebut secara pasar menurun.
Kombinasi antara pertumbuhan segmen komersial, penguatan pembeli repeat order, dan naiknya kontribusi fleet membuat penjualan Daihatsu tetap stabil. Di saat ekonomi belum sepenuhnya pulih, strategi membaca kebutuhan konsumen dan menjaga basis pasar tampak menjadi penopang utama performa merek ini.
