Selat Hormuz Kembali Ramai, Jalur Minyak Dunia Masih Menggantung di Ambang Bahaya

Author: Qoo Media

Aktivitas kapal di Selat Hormuz memang mulai meningkat setelah Iran dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan sementara untuk meredakan konflik. Meski begitu, jalur pelayaran yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia itu belum bisa disebut aman karena masih ada persoalan pengelolaan, keamanan, dan rencana pungutan biaya kapal.

Data pelacakan maritim menunjukkan puluhan kapal tetap melintas pada Sabtu dan Minggu, tetapi jumlahnya masih jauh di bawah kondisi normal sebelum ketegangan memburuk. Situasi ini membuat pasar minyak dan pelaku industri pelayaran tetap berhati-hati, karena setiap perubahan di Selat Hormuz bisa langsung berdampak luas.

Jalur penting yang belum sepenuhnya pulih

Selat Hormuz kembali menjadi perhatian setelah ketegangan antara Iran dan AS mencuat lagi. Iran sempat menyatakan akan menutup selat itu, tetapi AS membantah pernyataan tersebut dan lalu lintas kapal tetap berjalan meski dengan tingkat kewaspadaan tinggi.

Berdasarkan data Kpler, sebanyak 71 kapal melintasi selat itu antara Jumat hingga Minggu. Angka tersebut masih jauh dari kondisi normal, ketika sekitar 100 hingga 130 kapal melewati jalur itu setiap hari sebelum konflik terjadi.

Kesepakatan sementara memberi Iran peran mengelola selat selama masa transisi 60 hari. Selama periode itu, Iran juga sepakat tidak mengenakan biaya lintas kapal sambil membahas pengaturan jangka panjang dengan Oman dan enam negara Teluk lainnya.

Ancaman biaya lintas kapal masih memicu ketidakpastian

Meski ada kesepakatan sementara, isu pungutan tetap menjadi sumber ketegangan. Presiden AS Donald Trump bahkan menyebut kemungkinan penerapan biaya oleh pihak AS jika kesepakatan akhir dengan Iran tidak tercapai, dengan alasan biaya keamanan dan perlindungan jalur pelayaran.

Sebelumnya, Iran membentuk otoritas khusus untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz dan meminta kapal yang melintas untuk mendaftar pada lembaga itu. Iran juga disebut mempertimbangkan skema pembayaran bagi kapal yang lewat, langkah yang memicu kritik dari industri pelayaran.

Para ahli hukum dan asosiasi pelayaran menilai pungutan sepihak di jalur perairan internasional dapat berbenturan dengan prinsip kebebasan navigasi. Mereka menegaskan biaya hanya lazim dikenakan untuk layanan khusus, bukan untuk sekadar melintas di jalur alami internasional.

Rute alternatif dipilih, tapi risiko belum hilang

Dalam kerangka kesepakatan sementara, Iran juga diminta melakukan pembersihan ranjau serta menghapus hambatan teknis dan militer di jalur pelayaran dalam 30 hari. Namun, jalur utama di tengah selat disebut masih berbahaya dan belum sepenuhnya terbuka.

Sebagian kapal kini memilih rute alternatif melalui jalur utara di wilayah Iran dan jalur selatan di wilayah Oman. Kendati demikian, tingkat kehati-hatian tetap tinggi, termasuk penggunaan sistem pelacakan yang dimatikan oleh sebagian kapal untuk menghindari risiko.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meningkatnya jumlah transit belum otomatis menghapus ancaman. Selat Hormuz tetap berada dalam fase sensitif karena pengelolaan jangka panjangnya belum jelas dan ketegangan politik masih bisa memengaruhi arus pelayaran kapan saja.

Dampak ke pasar minyak masih terasa

Pergerakan kapal yang mulai pulih ikut memengaruhi sentimen pasar minyak global. Harga minyak dunia sempat melemah tipis saat investor memantau perkembangan pengiriman melalui selat itu setelah perundingan damai AS-Iran.

Mengacu pada Reuters, harga minyak Brent turun 20 sen menjadi US$ 77,70 per barel, sedangkan WTI turun 12 sen menjadi US$73,74 per barel. Pada perdagangan sebelumnya, harga minyak bahkan sempat jatuh lebih dari 3% setelah AS memberi keringanan sanksi selama 60 hari kepada Iran.

Analis ING menilai peningkatan bertahap arus minyak melalui Selat Hormuz terus menekan pasar. Kepala riset Sparta Commodities, Neil Crosby, juga menyebut kenaikan transit kapal sebagai indikator penting bagi pasar karena mencerminkan pergerakan minyak sekaligus kemajuan diplomatik.

Kepala analis pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai skeptisisme pasar masih tinggi akibat ketidakpercayaan mendalam antara AS dan Iran. Kondisi itu membuat pemulihan harga minyak ke level sebelum konflik diperkirakan berlangsung bertahap, bukan cepat, selama kepastian soal Selat Hormuz belum benar-benar tercapai.

Source: www.beritasatu.com
Terbaru