BYD Buka Suara Soal Kontainer Priok, Bantah Sengaja Tahan Barang Di Pelabuhan

BYD Indonesia buka suara setelah namanya disebut dalam tudingan penumpukan 10 ribu kontainer di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Perusahaan menegaskan tidak ada unsur kesengajaan dalam kasus itu dan menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang muncul.

Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengatakan jumlah kontainer milik BYD hanya sebagian kecil dari total volume yang menjadi perhatian publik. Ia juga menolak anggapan bahwa perusahaan sengaja memperlambat proses pengeluaran barang dari area pelabuhan.

Tudingan ini sebelumnya disampaikan Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Djaka Budhi Utama. Ia menyebut 10 ribu kontainer sempat menumpuk di Tanjung Priok dan menilai pembiaran barang di pelabuhan itu di antaranya dilakukan oleh BYD dan Wuling.

BYD menilai kondisi yang terjadi tidak berdiri pada satu faktor. Perusahaan menyebut penumpukan dipengaruhi oleh banyak hal operasional dan logistik yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari tingginya volume kedatangan barang dalam periode yang sama secara reguler setiap minggu, hari libur nasional, kepadatan lalu lintas distribusi, hingga penyesuaian kapasitas pengangkutan perusahaan logistik akibat kenaikan BBM.

BYD Bantah Ada Unsur Kesengajaan

Luther menegaskan tidak ada upaya dari BYD untuk membiarkan kontainer tertahan lebih lama di pelabuhan. Menurut dia, secara bisnis kondisi itu justru merugikan perusahaan karena ada biaya penyimpanan dan penalti harian yang nilainya lebih besar dibandingkan biaya logistik dan penyimpanan biasa.

Pernyataan itu juga menjadi bantahan atas dugaan bahwa perusahaan memanfaatkan fasilitas pelabuhan untuk menahan barang impor selama tiga hari. BYD menilai praktik semacam itu tidak menguntungkan dan tidak sejalan dengan kepentingan operasional perusahaan.

Langkah Percepatan Distribusi

Di tengah sorotan itu, BYD menyebut sudah berkoordinasi dengan seluruh pihak untuk memastikan distribusi kontainer berjalan baik. Perusahaan juga menambah bala bantuan truk pengangkut agar pemindahan barang dari area pelabuhan bisa berlangsung lebih cepat.

Selain menambah armada logistik, BYD menyiapkan strategi cadangan dengan menyewa lahan kosong di luar pelabuhan. Langkah ini dipakai untuk membantu mengosongkan area penumpukan utama dan memperlancar proses keluar-masuk kontainer.

Luther mengatakan berbagai langkah percepatan sudah dijalankan sejak awal Juni dan mulai menunjukkan hasil positif. Ia menyebut mayoritas kontainer yang tiba pada periode sebelumnya telah dipindahkan dari lokasi penumpukan.

Perusahaan juga menyiapkan tempat simpan sementara di sekitar pelabuhan untuk mempercepat pengeluaran kontainer. BYD terus memantau realisasi pemindahan itu dengan harapan seluruh proses bisa selesai dalam waktu dekat.

Isi Kontainer Bukan Mobil Utuh

BYD turut meluruskan isi kontainer yang berada di pelabuhan. Luther menegaskan kontainer tersebut bukan berisi mobil utuh, melainkan komponen untuk proses perakitan dan suku cadang.

Penjelasan itu penting karena sorotan publik sempat mengarah pada dugaan bahwa barang impor BYD menumpuk dalam skala besar di area pelabuhan. Dengan penegasan tersebut, perusahaan ingin menunjukkan bahwa kontainer yang dimaksud berkaitan dengan kebutuhan purnajual dan produksi lokal, bukan unit mobil jadi.

Sikap BYD menambah lapisan klarifikasi di tengah perdebatan soal tata kelola barang impor di pelabuhan. Perusahaan kini menekankan fokusnya ada pada percepatan distribusi dan penyelesaian penumpukan yang disebut sudah mulai membaik.

Terkait