Penjualan BYD Atto 1 sedang berada di titik yang jauh dari performa terbaiknya, padahal model ini sempat menjadi andalan BYD di segmen BEV. Dalam beberapa bulan terakhir, angka distribusinya merosot tajam dan memunculkan pertanyaan besar: kapan mobil ini bisa pulih seperti dulu?
Yang paling mencolok, Atto 1 hanya terjual 26 unit pada bulan lalu, jauh di bawah capaian sebelumnya saat mobil ini masih menjadi BEV terlaris. Kondisi itu juga membuat BYD harus menghadapi tekanan lebih besar di tengah persaingan yang makin ketat, terutama dari Jaecoo J5 EV.
Dari rekor ke penurunan tajam
Atto 1 sebenarnya pernah menunjukkan performa yang sangat kuat. Saat baru dirilis, model BEV mungil ini mampu menembus total penjualan lebih dari 22 ribu unit dalam tiga bulan, sebuah rekor baru di pasarnya.
Capaian itu membuat Atto 1 berbeda jauh dari pola umum mobil sekelasnya. Biasanya, mobil seperti ini hanya laku ratusan unit per bulan atau mentok ribuan unit dalam setahun.
Namun tren itu berubah ketika penjualan mulai turun sejak Maret. Penurunan tersebut memang terjadi saat libur Lebaran, tetapi kondisi itu justru berlanjut lebih dalam pada bulan-bulan berikutnya.
Memasuki April, penjualannya anjlok, lalu pada bulan setelahnya tinggal tersisa 26 unit. Angka itu menjadi sinyal kuat bahwa masalahnya bukan sekadar fluktuasi musiman biasa.
Transisi produksi lokal jadi penyebab utama
BYD menjelaskan bahwa penurunan tersebut terjadi karena perusahaan sedang bertransisi ke produksi lokal. Karena pabrik sedang disiapkan, impor mobil dari China harus dikurangi terlebih dahulu.
Dampaknya langsung terasa pada penjualan mobil listrik BYD secara keseluruhan. Pada Mei 2026, penjualannya hanya mampu bertahan di level ratusan unit, yang menjadi hasil terendah sejak penjualan dimulai sekitar dua tahun lalu.
Kondisi itu menunjukkan bahwa masa transisi produksi memang memberi konsekuensi besar pada distribusi unit. Selama impor dikurangi, pasokan untuk pasar ikut terdorong turun.
Kapan penjualan bisa pulih?
BYD memastikan pengiriman unit pada bulan ini sudah kembali normal. Artinya, penjualan Atto 1 berpeluang pulih dan bergerak mendekati kondisi sebelum transisi produksi dimulai.
Perkiraan hasilnya baru akan terlihat sekitar pertengahan Juli. Pada fase itu, pasar akan mulai membaca apakah pemulihan distribusi benar-benar mengangkat kembali angka penjualan Atto 1.
Bagi BYD, momentum ini penting karena lima bulan pertama tahun 2026 belum memberi hasil yang memuaskan. Jika pengiriman kembali lancar, Atto 1 masih punya peluang untuk kembali merebut posisi teratas di segmennya.
Strategi BYD di tengah persaingan
BYD kini merakit model terlarisnya, termasuk Atto 1 dan M6. M6 sendiri dikenal sebagai salah satu MPV listrik entry level terlaris dan dipasarkan dengan harga sekitar Rp 400 jutaan.
Atto 1 juga diprioritaskan untuk dirakit lokal karena statusnya sebagai mobil termurah BYD. Langkah ini diambil untuk memenuhi permintaan pasar yang masih besar terhadap model tersebut.
Di saat yang sama, BYD tetap mengandalkan M6 sebagai tulang punggung penjualan. Dalam dua tahun terakhir, Atto 1 dan M6 sama-sama menjadi mobil listrik terlaris di Indonesia.
Persaingan kini memang tidak lagi mudah, karena pasar BEV sudah dikuasai rival senegaranya, Jaecoo J5 EV. BYD masih mengejar ketertinggalan lewat M6 dan Sealion 7, meski Sealion 7 sendiri belum dirakit lokal.
Situasi ini membuat pemulihan Atto 1 menjadi penting bukan hanya untuk satu model, tetapi juga untuk posisi BYD di pasar. Jika pengiriman benar-benar stabil lagi, model mungil ini masih punya peluang untuk kembali bersaing di puncak segmennya.
