Hitung Biaya Pakai Changan Lumin, Cas di Rumah Cuma Rp 158 per Kilometer

Kenaikan harga BBM membuat biaya operasional kendaraan kembali menjadi sorotan. Dalam kondisi ini, hitung-hitungan biaya pakai mobil listrik seperti Changan Lumin menjadi relevan karena menunjukkan seberapa besar pengeluaran energi per kilometer.

Changan Indonesia menilai konsumen kini tidak lagi hanya melihat harga beli kendaraan. Total biaya kepemilikan, termasuk ongkos penggunaan harian, mulai menjadi pertimbangan penting sebelum memutuskan membeli mobil.

CEO Changan Indonesia Setiawan Surya mengatakan, perusahaan ingin memberi gambaran mengenai efisiensi penggunaan kendaraan listrik untuk mobilitas sehari-hari. Menurut dia, biaya operasional yang kompetitif dan dukungan layanan purnajual yang komprehensif dapat menjadi solusi mobilitas yang praktis serta ekonomis untuk jangka panjang.

Hitungan biaya per kilometer

Changan Lumin dibekali baterai berkapasitas 28,08 kWh. Mobil ini memiliki jarak tempuh hingga 301 kilometer berdasarkan metode pengujian NEDC.

Berdasarkan klaim internal Changan, konsumsi energinya mencapai 9,3 kWh per 100 kilometer. Angka itu setara dengan efisiensi sekitar 10,75 kilometer per kWh.

Dengan data tersebut, biaya penggunaan bisa dihitung dari tarif pengisian daya. Hasilnya menunjukkan ongkos energi murni Lumin berada di kisaran ratusan rupiah per kilometer, tergantung lokasi pengisian.

Jika pengisian dilakukan di rumah dengan tarif listrik non-subsidi PLN sekitar Rp 1.700 per kWh, biaya mengisi baterai dari kosong hingga penuh berada di sekitar Rp 48.000. Dari skema ini, biaya energi murni diperkirakan sekitar Rp 158 per kilometer.

Angka itu menjadi titik menarik bagi calon pengguna yang ingin menekan biaya harian. Semakin sering mobil diisi di rumah, semakin besar potensi efisiensi biaya energi yang bisa didapat.

Perbedaan biaya home charging dan SPKLU

Perhitungan akan berbeda saat pengisian dilakukan di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum atau SPKLU. Dengan tarif reguler sekitar Rp 2.475 per kWh, biaya pengisian penuh Changan Lumin mencapai sekitar Rp 70.000.

Dari tarif tersebut, biaya energi murni saat memakai SPKLU berada di kisaran Rp 230 per kilometer. Artinya, ada selisih sekitar Rp 72 per kilometer dibanding pengisian di rumah.

Selisih itu menunjukkan bahwa pola pengisian sangat memengaruhi ongkos penggunaan kendaraan listrik. Bagi pemilik yang memiliki akses home charging, beban biaya operasional harian berpotensi lebih rendah.

Di sisi lain, SPKLU tetap menjadi opsi penting untuk kebutuhan mobilitas tertentu. Terutama saat pengguna membutuhkan fleksibilitas pengisian di luar rumah atau saat menempuh perjalanan yang membuat baterai perlu segera diisi ulang.

Konteks efisiensi yang dicari konsumen

Perubahan fokus konsumen dari harga beli ke biaya penggunaan bukan hal yang lepas dari situasi pasar. Kenaikan harga BBM membuat banyak orang mulai menghitung ulang pengeluaran transportasi sehari-hari secara lebih rinci.

Dalam konteks itu, mobil listrik dinilai menawarkan biaya energi yang lebih efisien dibanding kendaraan bermesin konvensional. Changan Lumin lalu dijadikan ilustrasi untuk menunjukkan bagaimana pengeluaran energi dapat dihitung secara sederhana dari kapasitas baterai, konsumsi daya, dan tarif listrik.

Pendekatan seperti ini penting karena memberi gambaran yang lebih dekat dengan kebutuhan pengguna harian. Pembeli bisa menilai bukan hanya berapa dana yang dikeluarkan saat membeli mobil, tetapi juga berapa besar biaya yang harus disiapkan setiap kali kendaraan dipakai.

Faktor yang bisa membuat hasil berbeda

Meski begitu, angka biaya per kilometer tidak bersifat mutlak. Changan juga menegaskan bahwa konsumsi energi dan biaya aktual dapat berbeda tergantung berbagai kondisi penggunaan.

Gaya berkendara menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi hasil. Kondisi lalu lintas, suhu lingkungan, serta pola penggunaan kendaraan sehari-hari juga bisa membuat konsumsi energi bergerak di atas atau di bawah angka klaim.

Karena itu, hitung-hitungan Rp 158 per kilometer saat home charging dan Rp 230 per kilometer saat memakai SPKLU lebih tepat dibaca sebagai ilustrasi biaya energi murni. Angka tersebut memberi patokan awal bagi konsumen yang sedang membandingkan efisiensi penggunaan kendaraan untuk mobilitas harian.

Bagi pasar yang semakin sensitif terhadap biaya operasional, data seperti ini bisa menjadi bahan pertimbangan yang lebih konkret. Terutama saat keputusan membeli kendaraan tidak lagi berhenti pada harga di awal, melainkan berlanjut pada seberapa hemat mobil itu dipakai setiap hari.

Source: otomotif.kompas.com

Terkait