Sprinto Tembus 101 Km/Jam, Motor Listrik Rp25 Jutaan Ini Justru Unggul dari Polytron Fox 350?

Indomobil E-Motor Sprinto mulai menarik perhatian di kelas motor listrik Rp25 jutaan setelah hasil pengujian menunjukkan top speed hingga 101 km/jam. Angka itu membuatnya disebut lebih kencang dari beberapa rival pada aspek kecepatan puncak, termasuk saat dibandingkan dengan Polytron Fox 350.

Sorotan utama ada pada kemampuan Sprinto menembus batas 100 km/jam dalam kondisi pengujian tertentu. Untuk motor listrik di segmen harga ini, capaian tersebut menjadi nilai jual yang langsung mengangkat posisinya di tengah persaingan.

Motor ini hadir dengan tiga mode berkendara, yakni Comfort, Sport, dan Boost. Setiap mode memberi karakter performa yang berbeda sesuai kebutuhan penggunaan harian maupun saat menginginkan tenaga lebih besar.

Pada mode Comfort, kecepatan Sprinto dibatasi di kisaran 42 km/jam. Setelan ini dinilai lebih cocok untuk area perumahan, tetapi terasa terlalu lambat jika dipakai di jalan raya.

Karakter Sprinto berubah saat masuk ke mode yang lebih tinggi. Motor ini disebut menawarkan fleksibilitas yang tidak biasa untuk ukuran motor listrik entry level, karena pengendara bisa memilih fokus pada efisiensi atau performa.

Mode Sport dinilai lebih pas untuk mobilitas harian di perkotaan. Kecepatan pada mode ini dianggap cukup ideal, termasuk untuk kebutuhan menyalip kendaraan lain dengan lebih aman.

Puncak perhatian datang dari mode Boost. Dalam pengujian, Sprinto mampu mencapai 101 km/jam, sebuah angka yang langsung menempatkannya sebagai salah satu motor listrik dengan top speed menonjol di rentang harga tersebut.

Uji Performa dan Angka Akselerasi

Selain top speed, performa Sprinto juga diukur lewat alat Racebox. Hasilnya, motor ini mencatat akselerasi 0–60 km/jam dalam waktu sekitar 10 detik.

Untuk pengujian jarak 0–402 meter, Sprinto membukukan waktu di kisaran 23–24 detik. Catatan ini memberi gambaran bahwa motor tersebut tidak hanya mengandalkan klaim di atas kertas, tetapi juga menunjukkan hasil nyata dalam pengujian.

Meski begitu, angka akselerasi Sprinto belum sepenuhnya mengungguli Polytron Fox 350. Dalam pengujian yang disebutkan, Sprinto masih sedikit tertinggal dari rival tersebut pada aspek akselerasi.

Di sinilah perbandingan menjadi menarik. Jika Fox 350 masih lebih baik dalam urusan lari awal dan akselerasi, Sprinto justru tampil unggul pada kecepatan puncak.

Benarkah Bisa Saingi Polytron Fox 350?

Jawabannya bergantung pada aspek yang dibandingkan. Jika patokannya adalah top speed, Sprinto punya modal kuat karena sudah tembus 101 km/jam dalam kondisi pengujian tertentu.

Namun bila fokusnya pada performa akselerasi, Sprinto belum sepenuhnya berada di depan Fox 350. Artinya, persaingan keduanya tidak bisa disederhanakan hanya dari satu angka kecepatan tertinggi.

Bagi calon pembeli, perbedaan ini penting karena kebutuhan penggunaan motor listrik tidak selalu sama. Ada yang lebih membutuhkan respons awal dan akselerasi cepat, tetapi ada pula yang lebih memprioritaskan kemampuan melaju lebih tinggi di jalan terbuka.

Sprinto sendiri tampak dirancang untuk memberi pilihan karakter berkendara yang luas. Dari mode Comfort yang santai, Sport yang cocok untuk penggunaan kota, hingga Boost yang mengejar performa maksimum, pendekatannya terasa cukup lengkap.

Posisi di Segmen Rp25 Jutaan

Di kelas harga Rp25 jutaan, performa seperti ini menjadi faktor pembeda yang kuat. Tidak banyak motor listrik di rentang tersebut yang langsung menarik perhatian lewat kombinasi tiga mode berkendara dan top speed lebih dari 100 km/jam.

Karena itu, Sprinto mulai dianggap sebagai penantang serius di pasar motor listrik. Perhatian publik muncul bukan hanya karena mereknya, tetapi karena hasil pengujian memperlihatkan karakter yang berbeda dibanding motor listrik entry level lain.

Fakta bahwa mode Comfort hanya berada di sekitar 42 km/jam juga memberi gambaran bahwa motor ini tidak hanya mengejar angka puncak. Ada upaya menghadirkan pilihan setting yang lebih relevan untuk kondisi jalan dan kebutuhan pengguna yang beragam.

Pada akhirnya, klaim bahwa Indomobil E-Motor Sprinto lebih kencang dari rival memang punya dasar jika yang dilihat adalah top speed. Tetapi untuk menyebutnya sepenuhnya lebih unggul dari Polytron Fox 350, pembandingnya harus jelas karena akselerasi Sprinto masih tercatat sedikit di bawah kompetitornya itu.

Terkait