Mendengarkan musik saat menyetir memang terasa biasa, tetapi pilihan lagu ternyata bisa memengaruhi cara seseorang mengendalikan mobil. Tempo, volume, dan genre musik disebut dapat berpengaruh pada fokus, emosi, hingga keputusan pengemudi di jalan.
Peringatan ini disorot Korlantas Polri dengan mengacu pada sejumlah kajian keselamatan lalu lintas. Dalam kondisi tertentu, musik yang diputar di kabin bukan sekadar hiburan, melainkan faktor yang bisa ikut membentuk perilaku berkendara.
Menurut Korlantas Polri, musik bertempo cepat dapat mendorong pengemudi melaju lebih agresif. Efek ini berkaitan dengan peningkatan adrenalin yang membuat respons berkendara berubah tanpa selalu disadari.
Penelitian dari South China University of Technology menunjukkan tempo musik dapat memengaruhi kecepatan kendaraan. Musik dengan tempo di atas 120 BPM disebut dapat meningkatkan adrenalin sehingga pengemudi cenderung melaju lebih cepat dan lebih agresif.
Sebaliknya, musik dengan tempo yang lebih tenang justru dinilai membantu menjaga kestabilan emosi saat berkendara. Rentang 60 hingga 80 BPM disebut cenderung membuat pengemudi lebih rileks dan menjaga kecepatan kendaraan lebih konsisten di berbagai kondisi jalan.
Korlantas Polri juga menyoroti pentingnya volume musik di dalam mobil. Musik yang terlalu keras bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga bisa menurunkan kinerja kognitif pengemudi.
Riset dari Bochum University of Applied Sciences dan Memorial University of Newfoundland menunjukkan volume musik yang terlalu keras dapat mengganggu kemampuan berpikir saat menyetir. Dalam situasi darurat, respons pengemudi bahkan dapat melambat hingga sekitar 20 persen.
Efek ini menjadi penting karena berkendara menuntut pengemudi memproses banyak informasi dalam waktu singkat. Saat perhatian terpecah, kemampuan membaca situasi lalu lintas dan mengambil keputusan bisa ikut terganggu.
Bukan hanya tempo dan volume, jenis musik juga ikut berpengaruh. Sejumlah penelitian yang dikutip menunjukkan genre tertentu lebih aman untuk didengarkan selama perjalanan.
Musik pop dinilai cenderung lebih aman karena struktur musiknya tidak terlalu membebani kerja otak. Sebaliknya, genre dengan struktur musik yang kompleks dapat menyita perhatian dan mengurangi fokus terhadap kondisi lalu lintas.
Kondisi ini menjelaskan mengapa hiburan di mobil tetap perlu diatur dengan bijak. Lagu yang terlalu rumit, terlalu cepat, atau terlalu keras bisa mengalihkan perhatian dari tugas utama pengemudi, yaitu mengendalikan kendaraan dengan aman.
Korlantas Polri juga mengingatkan bahwa bernyanyi secara berlebihan saat mengemudi dapat mengganggu konsentrasi. Aktivitas itu terlihat sepele, tetapi tetap berpotensi mengalihkan perhatian dari kondisi jalan di sekitar kendaraan.
Risiko lain datang dari suara eksternal yang tertutup oleh audio kabin. Jika volume terlalu tinggi, pengemudi bisa terlambat mendengar klakson, sirene kendaraan prioritas, atau peringatan dari pengguna jalan lain.
Dari sisi aturan, pengemudi memang tidak dilarang mendengarkan musik atau radio selama berkendara. Namun kewajiban utamanya tetap sama, yakni mengemudikan kendaraan secara wajar dan penuh konsentrasi.
Hal itu diatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 106 ayat 1. Aturan tersebut menegaskan bahwa keselamatan dan konsentrasi tetap menjadi dasar utama saat seseorang berada di balik kemudi.
Musik boleh, asal tidak ganggu fokus
Korlantas Polri menegaskan mendengarkan musik saat berkendara masih diperbolehkan selama tidak mengganggu konsentrasi. Karena itu, pengemudi disarankan memilih lagu dan pengaturan audio yang mendukung kenyamanan tanpa mengorbankan keselamatan.
Salah satu anjuran yang disampaikan adalah menjaga volume pada tingkat sedang. Dengan begitu, suara dari luar kendaraan seperti klakson dan sirene tetap bisa terdengar dengan jelas.
Korlantas Polri juga menyarankan pengemudi memilih musik bertempo tenang, yakni sekitar 60 sampai 100 BPM. Pilihan ini dinilai lebih mendukung kondisi emosional yang stabil selama perjalanan.
Sebaliknya, musik agresif sebaiknya dihindari saat sedang mengemudi. Musik seperti ini dinilai dapat memicu perilaku berkendara yang tidak aman dan membuat pengemudi lebih mudah terpancing untuk melaju cepat.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan kecil di dalam kabin dapat memberi dampak nyata di jalan. Bagi pengemudi, memilih lagu ternyata bukan hanya soal selera, tetapi juga bagian dari upaya menjaga fokus dan keselamatan selama perjalanan.
Source: oto.detik.com






