Harga Pertamax Berpotensi Turun Lagi Bulan Depan, Proyeksinya Bisa Terus Melandai hingga Desember 2026

Harga Pertamax berpotensi turun lagi pada bulan depan seiring tren pelemahan harga minyak dunia yang mulai terlihat dalam beberapa waktu terakhir. Arah penurunan ini menjadi perhatian karena Pertamax termasuk BBM nonsubsidi yang penetapan harganya sangat dipengaruhi pergerakan harga minyak global.

Sinyal itu menguat setelah Pertamina Patra Niaga menyebut harga Jenis Bahan Bakar Umum, termasuk Pertamax Series, untuk bulan depan akan mengikuti dinamika harga minyak dunia. Dengan acuan harga satu bulan sebelumnya, perubahan di pasar minyak internasional menjadi faktor kunci yang menentukan harga di tingkat konsumen.

Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, menyampaikan bahwa evaluasi harga dilakukan dengan basis pergerakan harga pada bulan sebelumnya. Artinya, jika tren minyak mentah terus melandai, ruang penyesuaian harga Pertamax ke bawah tetap terbuka.

Pergerakan harga minyak dunia memang menunjukkan koreksi yang cukup tajam. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh 117 dolar AS per barel pada April, lalu turun cepat ke kisaran 78 dolar AS per barel setelah muncul kerangka damai atas konflik AS-Iran yang sebelumnya direncanakan ditandatangani di Swiss.

Meski proses penyelesaian konflik tersebut belum mencapai titik temu, pasar tetap merespons sinyal deeskalasi. Situasi geopolitik yang sedikit mereda ikut menekan harga minyak mentah utama dunia dan memberi dampak pada prospek harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

Harga Pertamax Sangat Bergantung pada Minyak Dunia

Sebagai BBM nonsubsidi, Pertamax tidak dipatok seperti BBM bersubsidi. Karena itu, setiap kenaikan atau penurunan harga minyak global dapat langsung memengaruhi ruang penetapan harga Pertamax di seluruh Indonesia.

Dalam kondisi harga minyak naik, harga Pertamax cenderung ikut terdorong naik. Sebaliknya, saat harga minyak mentah dunia bergerak turun, harga Pertamax juga berpotensi ikut melandai pada periode penyesuaian berikutnya.

Joko Pranoto menegaskan arah harga ke depan akan dilihat dari perkembangan yang terjadi di pasar. Pernyataan itu menegaskan bahwa penyesuaian belum dipastikan besarannya, tetapi fondasi utamanya tetap pada harga minyak bulan sebelumnya.

Selain Brent, acuan lain yang penting adalah Indonesian Crude Price atau ICP. Harga rata-rata minyak mentah Indonesia pada Mei tercatat sebesar 106,56 dolar AS per barel, lebih rendah dibandingkan ICP April yang berada di level 117,31 dolar AS per barel.

Turunnya ICP memperkuat indikasi bahwa tekanan harga energi mulai mereda. Penurunan ini juga sejalan dengan pelemahan harga minyak mentah utama dunia dalam periode yang sama.

Faktor Geopolitik Jadi Penentu

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan penurunan ICP Mei sejalan dengan melemahnya harga minyak mentah utama dunia, khususnya Dated Brent. Salah satu pemicunya adalah meredanya ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Perkembangan ini penting karena pasar minyak sangat sensitif terhadap konflik di kawasan Timur Tengah. Ketika risiko pasokan dinilai menurun, harga minyak biasanya ikut terkoreksi karena kekhawatiran gangguan distribusi berkurang.

Laode juga menyebut sepanjang Mei pasar minyak global merespons sejumlah perkembangan yang mengindikasikan deeskalasi konflik di Timur Tengah. Sinyal seperti ini menjadi salah satu dasar yang mendukung ekspektasi harga BBM nonsubsidi bisa turun bertahap.

Di sisi lain, arah harga tetap bisa berubah jika tensi geopolitik kembali meningkat. Karena itu, peluang penurunan harga Pertamax bulan depan tetap bergantung pada konsistensi tren pelemahan minyak dunia.

Proyeksi Hingga Desember 2026

Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyaki, memproyeksikan harga Pertamax turun bertahap hingga akhir 2026. Menurut proyeksinya, harga Pertamax bergerak dari Rp16.250 per liter pada Juni menuju kisaran Rp12.100–Rp13.500 per liter pada Desember 2026.

Yayan menilai peluang penurunan harga BBM nonsubsidi sudah terbuka. Salah satu penandanya adalah penurunan yang lebih dulu terlihat pada Dexlite dan Pertamina Dex.

Untuk Juli 2026, Yayan memproyeksikan harga Pertamax turun ke Rp15.228 per liter. Setelah itu, harga diperkirakan kembali turun menjadi Rp14.557 per liter pada Agustus dan Rp14.112 per liter pada September.

Tren penurunan diproyeksikan berlanjut pada Oktober ke Rp13.814 per liter. Lalu harga diperkirakan bergerak ke Rp13.614 per liter pada November dan Rp13.479 per liter pada Desember.

Rangkaian proyeksi tersebut menunjukkan potensi penurunan yang berlangsung bertahap, bukan sekaligus dalam satu waktu. Dengan pola seperti itu, arah harga Pertamax bulan depan akan menjadi indikator awal apakah tren pelemahan benar-benar berlanjut sampai penghujung 2026.

Source: otodriver.com

Terkait