Astra Honda Motor memastikan semua motor bensin Honda yang dijual di Indonesia sudah kompatibel dengan bioetanol 10 persen atau E10. Pernyataan itu langsung menempatkan Honda di posisi siap menyambut arah baru bahan bakar nabati di pasar domestik.
Kompatibilitas itu juga berlaku untuk model anyar yang baru meluncur, Vario Evo 160. Wakil Presiden Direktur AHM Thomas Wijaya menegaskan, “Semuanya bisa, E5 sampai E10,” saat peluncuran model generasi kesembilan itu.
Pernyataan AHM menjadi penting karena Indonesia belum menerapkan mandatori bioetanol untuk bensin. Saat ini, kebijakan biofuel baru berjalan di sektor diesel melalui biodiesel 40 atau B40.
Pemerintah lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam memprioritaskan E5 sebagai tahap awal penerapan bioetanol. Targetnya, skema itu berjalan sebelum Desember 2026.
Setelah E5, ESDM merencanakan peningkatan ke E10 pada awal 2027. Tahap berikutnya adalah E20 yang ditargetkan berlaku pada Januari 2028.
Di sisi hilir, ESDM juga menyiapkan kewajiban bagi pengusaha SPBU swasta untuk mulai mencampur bensin dengan bahan bakar nabati etanol sebesar 5 persen pada semester II 2026. Kebijakan awal itu akan diberlakukan di Pulau Jawa.
Arah kebijakan tersebut bergerak seiring dengan target yang sudah lebih dulu dipasang di sektor diesel. Mandatori biodiesel saat ini berada di level B40 dan akan naik menjadi B50 mulai 1 Juli 2026.
Bagi pasar otomotif, kesiapan Honda memberi sinyal bahwa transisi ke campuran etanol tidak hanya bergantung pada pasokan bahan bakar. Pabrikan juga harus memastikan mesin yang beredar mampu menerima karakter bahan bakar baru tanpa mengganggu penggunaan harian.
Dengan pernyataan kompatibilitas ini, konsumen motor bensin Honda mendapat kepastian awal saat pemerintah dan pelaku usaha energi mulai menyiapkan ekosistem bioetanol. Namun, penerapan luas di SPBU masih menunggu tahapan regulasi dan kesiapan distribusi yang tengah disusun pemerintah.
