Indomobil E-Motor Sprinto mendadak jadi sorotan karena angka performanya di luar dugaan untuk motor listrik di kisaran Rp25 jutaan. Dalam pengujian, motor ini disebut mampu menembus 101 km/jam saat memakai mode Boost, sebuah capaian yang membuatnya langsung dibandingkan dengan rival di kelas yang sama.
Daya tarik Sprinto tidak hanya datang dari top speed, tetapi juga dari posisinya sebagai motor listrik harian dengan harga Rp25,75 juta on the road Jakarta. Dengan banderol itu, Sprinto masuk ke area harga yang beririsan dengan motor bensin populer seperti Honda Vario 125, sehingga peluangnya dilirik konsumen yang ingin beralih ke kendaraan listrik menjadi lebih besar.
Top speed jadi senjata utama
Yang paling mencuri perhatian dari Sprinto adalah karakter performanya di mode berkendara paling agresif. Mode Boost memberi respons gas yang lebih spontan dan memungkinkan motor ini berlari hingga 101 km/jam, angka yang tergolong tinggi untuk motor listrik kecil di kelasnya.
Kecepatan puncak itu membuat Sprinto punya nilai jual yang berbeda dibanding banyak motor listrik harian lain yang lebih fokus pada efisiensi. Dalam skenario penggunaan nyata, mode ini juga disebut paling ideal untuk kebutuhan harian, terutama saat menyalip atau menghadapi tanjakan.
Meski begitu, performa Sprinto tidak hanya bertumpu pada satu mode. Motor ini dibekali tiga mode berkendara, yakni Comfort, Sport, dan Boost, yang masing-masing menawarkan karakter berbeda sesuai kebutuhan pengguna.
Mode Comfort membatasi kecepatan di kisaran 42 km/jam. Karakter ini lebih cocok untuk area perumahan atau perjalanan jarak dekat, tetapi dinilai terlalu pelan bila dipakai di jalan raya.
Mode Sport berada di tengah dengan kecepatan hingga 70 km/jam. Angka ini dinilai sudah cukup ideal untuk penggunaan harian di jalan perkotaan, saat pengendara membutuhkan laju yang stabil tanpa harus langsung memakai mode paling agresif.
Bagaimana jika dibandingkan dengan Polytron Fox 350?
Perbandingan dengan Polytron Fox 350 muncul karena keduanya bermain di segmen yang sama-sama menarik perhatian pasar motor listrik. Dari sisi akselerasi, Sprinto mencatat waktu sekitar 10 detik untuk 0–60 km/jam, sehingga performanya masih tergolong kompetitif meski bukan yang paling cepat.
Dalam pembandingan itu, Sprinto disebut sedikit lebih lambat dari Polytron Fox 350 saat berakselerasi. Namun, Sprinto justru unggul tipis dalam hal kecepatan puncak, sehingga persaingan keduanya menjadi menarik karena masing-masing punya kelebihan berbeda.
Artinya, jawaban soal apakah Sprinto bisa menyaingi Polytron Fox 350 bergantung pada aspek yang dilihat konsumen. Bila fokus utamanya adalah top speed, Sprinto punya amunisi yang kuat karena mampu menembus 101 km/jam.
Sebaliknya, jika perhatian lebih besar diarahkan pada ledakan akselerasi awal, Polytron Fox 350 masih disebut lebih unggul. Situasi ini menempatkan Sprinto bukan sekadar alternatif murah, melainkan pesaing yang punya karakter performa sendiri.
Jarak tempuh tetap jadi nilai penting
Motor listrik tidak cukup hanya kencang, karena konsumen harian juga menilai efisiensi dan daya jelajah. Di bagian ini, Sprinto membawa baterai berkapasitas 2,45 kWh yang menghasilkan angka jarak tempuh berbeda tergantung mode berkendara.
Pada mode Comfort, Sprinto mampu menempuh sekitar 116–120 km. Ini menjadi angka terbaiknya dan menunjukkan bahwa motor tersebut tetap punya sisi efisien saat dipakai santai.
Saat berpindah ke mode Sport, jarak tempuhnya berada di kisaran 85–90 km. Sementara pada mode Boost, ketika performa dikeluarkan lebih penuh, daya jelajah turun menjadi sekitar 75 km.
Angka itu dinilai masih cukup untuk kebutuhan komuter harian. Walau kapasitas baterainya lebih kecil dibanding beberapa kompetitor di kelas yang sama, efisiensi energi menjadi nilai tambah yang membuat Sprinto tetap relevan untuk pemakaian rutin.
Posisi di pasar motor listrik harian
Indomobil menghadirkan E-Motor Sprinto untuk menyasar segmen motor listrik harian dengan harga terjangkau. Pendekatan ini membuat Sprinto tidak hanya dijual sebagai kendaraan ramah lingkungan, tetapi juga sebagai opsi yang realistis bagi pengguna yang sebelumnya mempertimbangkan motor bensin di rentang harga serupa.
Kombinasi harga Rp25,75 juta on the road Jakarta, top speed 101 km/jam, dan jarak tempuh hingga 116–120 km di mode hemat membuat Sprinto punya paket yang cukup lengkap. Di tengah persaingan motor listrik yang semakin ramai, spesifikasi seperti ini memberi Sprinto alasan kuat untuk masuk daftar pertimbangan konsumen yang mencari kendaraan harian dengan performa mengejutkan.







