Harga Bensin Naik, GAC Malah Tunda Mobil Bensin ke Indonesia Karena Belum Tepat

Harga bensin yang naik membuat GAC memilih langkah berbeda di pasar Indonesia. Pabrikan asal China itu menunda peluncuran mobil yang masih mengandalkan bahan bakar fosil, termasuk E9 PHEV dan Emzoom.

Keputusan itu memperlihatkan arah yang semakin tegas dari GAC di tengah situasi pasar yang belum stabil. Di Indonesia, merek ini saat ini hanya menghadirkan lini elektrifikasi Battery Electric Vehicle atau mobil listrik murni.

Menunda model non-BEV

Andry Ciu, CEO GAC Indonesia, menyampaikan bahwa peluncuran E9 dan Emzoom ditunda untuk ajang GIIAS 2026. Ia menegaskan penundaan itu dilakukan karena kondisi dinilai belum tepat untuk memperkenalkan kendaraan berbahan bakar fosil.

Menurut Andry, kenaikan harga Pertamax dan maraknya demonstrasi menjadi pertimbangan penting. Ia menyebut situasi tersebut bukan waktu yang pas untuk melahirkan produk baru dengan teknologi yang masih memakai bahan bakar fosil.

E9 PHEV sendiri sebelumnya sempat diperlihatkan kepada sejumlah awak media di Purwakarta saat peresmian pabrik pada Juni 2025. Sementara itu, Emzoom belum pernah dibawa ke Indonesia, meski model tersebut sudah lebih dulu meluncur di Malaysia.

Berbeda dari arah pabrikan lain

Langkah GAC ini berbeda dari strategi sejumlah pabrikan China lain yang mulai memperluas portofolio ke Plug-in Hybrid Electric Vehicle atau PHEV. GAC justru memilih menahan diri sampai situasi pasar dianggap kembali stabil.

Andry menjelaskan bahwa penundaan E9 PHEV juga terkait karakter teknologinya yang tetap memakai bahan bakar fosil. Karena itu, GAC menunda peluncuran seluruh kendaraan yang masih bergantung pada bahan bakar fosil.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa GAC belum ingin terburu-buru masuk ke segmen yang sensitif terhadap isu harga bensin. Perusahaan tampaknya ingin menjaga citra elektrifikasi yang sudah dibangun melalui lini BEV di Indonesia.

GIIAS 2026 tanpa produk baru

Hingga saat ini, Andry menyebut belum ada rencana peluncuran produk baru GAC di pameran otomotif nasional GIIAS 2026. Meski begitu, ia memastikan tetap ada kejutan yang disiapkan untuk pengunjung dan calon konsumen.

Pernyataan itu memberi sinyal bahwa GAC masih melihat Indonesia sebagai pasar penting. Namun, fokus peluncuran tampaknya akan tetap diarahkan ke produk yang lebih selaras dengan strategi elektrifikasi penuh.

Tekanan pasar ikut terasa

Di sisi lain, penjualan GAC di Indonesia juga sedang menghadapi tantangan. Salah satu faktor yang disebut berpengaruh adalah penundaan pemberian insentif EV dari pemerintah.

Kondisi itu membuat sebagian konsumen menahan keputusan membeli mobil listrik baru sambil menunggu kepastian subsidi. Dampaknya terlihat pada data Gaikindo yang mencatat penjualan retail GAC turun dari 633 unit pada April 2026 menjadi 454 unit pada Mei 2026.

Situasi tersebut menambah alasan mengapa GAC memilih berhati-hati dalam merancang produk baru. Di tengah tekanan pasar, perusahaan tampaknya lebih memilih menunggu momentum yang lebih aman sebelum memperkenalkan model yang masih terkait bahan bakar fosil.

Source: otomotif.katadata.co.id

Terkait