Penjualan motor listrik Alva justru melaju di saat insentif pembelian dari pemerintah sudah berhenti sejak akhir 2024. PT Ilectra Motor Group sebagai produsen Alva melihat kondisi ini sebagai tanda bahwa pasar mulai bergerak karena kebutuhan nyata, bukan semata karena dorongan subsidi.
Chief Marketing Officer Alva, Putu Swaditya Yudha, mengatakan kinerja penjualan perusahaan terus menunjukkan tren yang menjanjikan dari tahun ke tahun. Ia menyebut pertumbuhan itu tetap kuat meski dukungan insentif fiskal tidak lagi tersedia.
Lonjakan penjualan di tengah tanpa subsidi
Alva mencatat pertumbuhan penjualan 52 persen dari 2024 ke 2025. Angkanya naik dari hampir 3.000 unit menjadi 4.500 unit.
Putu Swaditya Yudha, yang akrab disapa Adit, mengatakan permintaan pada 2026 juga masih bergerak naik. Ia memberi sinyal bahwa permintaan tahun ini bisa lebih tinggi dibandingkan 2025, meski detail penjualannya belum dibuka.
Kenaikan itu menjadi sorotan karena terjadi di tengah absennya insentif pembelian motor listrik dari pemerintah. Situasi tersebut membuat performa Alva dianggap menarik sebagai indikator perubahan perilaku konsumen.
Pengalaman pengguna jadi pendorong utama
Alva menilai pengalaman langsung para pemilik motor listrik ikut mempercepat adopsi di pasar. Menurut Adit, konsumen yang sudah memakai kendaraan listrik mulai merasakan manfaatnya dalam mobilitas harian.
Pengalaman itu lalu menyebar lewat rekomendasi dari mulut ke mulut atau word of mouth. Dari sudut pandang Alva, cara ini mulai membentuk kesadaran baru di tengah calon pembeli yang masih mempertimbangkan kendaraan utama untuk kebutuhan sehari-hari.
Perubahan tersebut juga dibaca sebagai tanda bahwa edukasi pasar tidak hanya datang dari promosi merek. Penggunaan langsung oleh konsumen tampak mulai menjadi alat edukasi yang lebih efektif untuk kendaraan listrik roda dua.
Alva dorong dukungan non-fiskal
Di tengah berhentinya insentif pemerintah, Alva menilai masih ada ruang untuk kebijakan lain yang bisa menopang ekosistem kendaraan listrik. Perusahaan melihat dukungan non-fiskal dapat memberi dampak penting bagi industri.
Adit menyebut pemerintah tentu punya pertimbangan besar untuk program insentif karena berkaitan dengan anggaran negara. Namun, ia menilai kemudahan regulasi juga bisa membantu percepatan pertumbuhan.
Salah satu contoh yang dia tekankan adalah dukungan untuk pembangunan jaringan stasiun pengisian daya. Ia menilai regulasi yang lebih ramah dapat mempermudah merek berinvestasi di bisnis charging station.
Alva juga menyoroti pentingnya fasilitas pengisian daya di ruang publik. Perkantoran dan pusat perbelanjaan disebut bisa menjadi titik penting untuk meningkatkan kenyamanan pengguna motor listrik.
Alva N3 jadi penopang utama
Dari seluruh lini produk yang dipasarkan, Alva N3 menjadi model dengan kontribusi penjualan terbesar. Setelah itu, posisi berikutnya ditempati Alva One dan Alva Cervo.
Keberagaman produk ini dinilai membantu Alva menjawab kebutuhan konsumen yang makin beragam. Kebutuhan itu mencakup penggunaan harian di kota hingga mobilitas jarak menengah.
Selain produk, Alva juga memperluas jaringan pengisian daya di berbagai daerah. Saat ini, perusahaan memiliki 355 konektor pengisian daya yang tersebar di 170 lokasi di Indonesia.
Perluasan infrastruktur ini ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan dan rasa aman pengguna dalam aktivitas sehari-hari. Dengan penjualan yang tetap tumbuh dan jaringan pengisian yang terus diperluas, Alva melihat pasar motor listrik Indonesia masih menyimpan potensi besar dalam beberapa tahun ke depan.
Source: www.liputan6.com






