BYD Atto 1 Mengusik Honda Brio, Selisih Biaya Bulanannya Bisa Bikin Konsumen Berpikir Ulang

Pasar mobil entry level di Indonesia mulai menghadirkan pertanyaan baru bagi calon pembeli. Bukan lagi sekadar soal harga beli, tetapi soal berapa besar uang yang harus keluar setiap bulan setelah mobil dipakai.

Di titik itu, perbandingan BYD Atto 1 dan Honda Brio menjadi menarik. Keduanya sama-sama bermain di kelas mobil terjangkau, tetapi menawarkan cara yang sangat berbeda untuk menekan pengeluaran harian.

Kondisi ini muncul saat harga bahan bakar terus bergerak naik dan kendaraan listrik berkembang semakin agresif. Akibatnya, konsumen mulai menghitung ulang efisiensi energi, biaya operasional, hingga relevansi mobil untuk kebutuhan masa depan.

Sekilas, BYD Atto 1 dan Honda Brio memang punya irisan pasar yang mirip. Keduanya berdimensi kompak, cocok untuk mobilitas harian di kota besar, dan berada di rentang harga yang masih dianggap terjangkau oleh banyak konsumen Indonesia.

Dua konsep yang saling berlawanan

Meski menyasar segmen serupa, filosofi keduanya bertolak belakang. BYD Atto 1 datang sebagai mobil listrik modern yang menonjolkan efisiensi energi dan biaya pemakaian rendah, sementara Honda Brio tetap mengandalkan mesin bensin konvensional yang sudah lama dikenal tangguh dan praktis.

Perbedaan pendekatan ini membuat perbandingan keduanya tidak cukup dilihat dari brosur. Nilai utama justru muncul saat biaya penggunaan bulanan mulai dihitung dengan pola pemakaian yang sama.

BYD Atto 1 dibekali motor listrik bertenaga 75 dk dengan torsi 135 Nm. Pabrikan juga menyediakan dua pilihan baterai dengan jarak tempuh sekitar 300 kilometer hingga 380 kilometer dalam kondisi baterai penuh.

Dari simulasi pengujian, konsumsi energi BYD Atto 1 berada di kisaran 8,5 kilometer per kWh. Untuk penggunaan rutin 100 hingga 120 kilometer per hari, total perjalanan bulanan bisa mencapai 3.000 sampai 3.600 kilometer.

Dengan pola itu, kebutuhan listrik bulanan diperkirakan berada di kisaran 353 sampai 424 kWh. Jika memakai tarif listrik rumah sekitar Rp1.444 per kWh, biaya pengisian hanya sekitar Rp509 ribu sampai Rp612 ribu per bulan.

Bahkan saat pengisian lebih sering dilakukan di SPKLU dengan tarif sekitar Rp2.500 per kWh, total biaya masih berada di kisaran Rp847 ribu hingga Rp1,06 juta setiap bulan. Angka itu menunjukkan potensi penghematan yang signifikan untuk pengguna dengan mobilitas tinggi.

Selain itu, biaya servis mobil listrik dinilai relatif lebih ringan. Alasannya, komponen mesin pada kendaraan listrik lebih sederhana dibanding mobil konvensional.

Honda Brio masih punya modal kuat

Di sisi lain, Honda Brio tetap menjadi salah satu city car paling populer di Indonesia. Popularitas itu ditopang oleh reputasi hemat bahan bakar, karakter lincah di jalan padat, serta jaringan servis yang luas di banyak wilayah.

Honda Brio menggunakan mesin 1.200 cc dengan tenaga sekitar 90 dk dan torsi 110 Nm. Untuk efisiensi bahan bakar, pengujian menunjukkan angka di kisaran 16 kilometer per liter hingga 20 kilometer per liter.

Dengan pola perjalanan 3.000 sampai 3.600 kilometer per bulan, kebutuhan bahan bakar Brio diperkirakan mencapai 150 sampai 225 liter. Jika menggunakan Pertamax seharga Rp12.300 per liter, biaya bulanan yang harus disiapkan berkisar Rp1,84 juta hingga Rp2,77 juta.

Secara hitungan operasional, selisihnya terlihat cukup lebar dibanding BYD Atto 1. Namun keunggulan Brio tidak berhenti pada konsumsi bahan bakar.

Pengisian bensin hanya memerlukan waktu beberapa menit. SPBU juga tersedia hampir di seluruh wilayah Indonesia, sehingga pengguna tidak perlu menyesuaikan diri dengan ekosistem pengisian listrik.

Brio juga memiliki nilai tambah dari sisi purnajual. Harga jual kembalinya selama ini dikenal stabil dan relatif aman di pasar mobil bekas.

Yang dihitung kini bukan cuma harga showroom

Perbandingan ini memperlihatkan perubahan besar dalam cara konsumen memilih mobil murah. Jika sebelumnya ukuran utama ada pada harga beli dan konsumsi BBM, kini biaya penggunaan bulanan mulai menjadi faktor yang sama pentingnya.

BYD Atto 1 terlihat unggul ketika ukuran utamanya adalah efisiensi biaya transportasi harian. Biaya listriknya jauh lebih rendah daripada bensin, ditambah karakter kendaraan listrik yang menawarkan pengeluaran servis lebih sederhana.

Sebaliknya, Honda Brio masih kuat bagi konsumen yang mengutamakan kepraktisan penggunaan jangka panjang. Infrastruktur pengisian bahan bakar sudah matang, jaringan bengkel luas, dan nilai jual kembali masih menjadi daya tarik utama.

Karena itu, duel BYD Atto 1 dan Honda Brio bukan sekadar adu spesifikasi dua mobil murah. Persaingan ini mencerminkan pergeseran pasar otomotif Indonesia, ketika keputusan membeli mobil mulai ditentukan oleh total biaya pemakaian, bukan hanya angka yang terlihat saat transaksi di showroom.

Terkait