Usulan agar Carlos Ghosn kembali memimpin Nissan mencuat dalam rapat umum pemegang saham tahunan Nissan Motor Co. Seorang pemegang saham meminta mantan bos yang pernah membawa Nissan keluar dari krisis itu ditunjuk lagi sebagai Chief Executive Officer.
Usulan itu langsung memancing perhatian karena muncul saat Nissan masih berupaya bangkit dari berbagai tantangan bisnis dalam beberapa tahun terakhir. Bagi sebagian investor, nama Ghosn tetap lekat dengan periode kebangkitan besar Nissan pada awal 2000-an.
Namun manajemen Nissan menolak gagasan tersebut. Perusahaan menegaskan tidak memiliki rencana untuk mengangkat kembali Ghosn ke jajaran manajemen.
Nissan juga menekankan bahwa fokus perusahaan kini berada di bawah kepemimpinan CEO Ivan Espinosa. Dalam rapat tahunan yang sama, Espinosa kembali memperoleh dukungan dari para pemegang saham.
Nama lama, arah baru
Munculnya nama Carlos Ghosn menunjukkan bahwa pengaruhnya belum sepenuhnya hilang di mata sebagian investor Nissan. Hal itu terjadi meski perusahaan saat ini sudah bergerak dengan arah strategi yang berbeda dari era kepemimpinannya.
Di bawah kendali strategi produk Ivan Espinosa, Nissan disebut berfokus pada perampingan portofolio, realisme pasar, dan transisi elektrifikasi yang pragmatis. Pendekatan itu menandai pergeseran dari ambisi mengejar kuantitas penjualan pada era Ghosn menuju fokus pada kualitas dan profitabilitas.
Espinosa juga disebut sebagai salah satu arsitek utama lini produk Nissan saat ini. Perannya dinilai penting dalam membentuk identitas produk yang lebih fokus dan efisien.
Nissan saat ini menempatkan restrukturisasi global sebagai prioritas penting. Perusahaan juga menargetkan peningkatan efisiensi operasional dan percepatan pengembangan kendaraan listrik untuk menghadapi persaingan yang makin ketat, terutama dari pabrikan Tiongkok.
Warisan besar Carlos Ghosn
Carlos Ghosn memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Nissan. Setelah bergabung pada 1999 melalui aliansi Renault-Nissan, ia memimpin program restrukturisasi yang dikenal sebagai Nissan Revival Plan.
Program itu membuat Nissan kembali mencetak keuntungan. Keberhasilan tersebut memperkuat posisi perusahaan di pasar global dan sering dianggap sebagai salah satu kebangkitan korporasi paling spektakuler dalam industri otomotif modern.
Latar belakang itulah yang membuat sebagian pemegang saham masih menilai Ghosn sebagai figur penyelamat. Di tengah tekanan bisnis saat ini, rekam jejak itu kembali diangkat sebagai alasan mengapa namanya masih dianggap relevan oleh sebagian investor.
Meski begitu, warisan itu tidak bisa dilepaskan dari akhir perjalanan yang kontroversial. Pada 2018, Ghosn ditangkap di Jepang atas dugaan pelanggaran keuangan.
Setelah itu, ia diberhentikan dari posisinya sebagai chairman Nissan serta Mitsubishi Motors. Setahun kemudian, Ghosn melarikan diri dari Jepang ke Lebanon.
Peristiwa tersebut membuat namanya terus memicu perdebatan di industri otomotif. Karena itu, usulan untuk membawanya kembali ke kursi CEO langsung menjadi isu sensitif sekaligus simbolis.
Fokus Nissan saat ini
Penolakan manajemen menunjukkan Nissan tidak ingin membuka kembali bab lama yang sarat kontroversi. Perusahaan tampak memilih menjaga kesinambungan strategi yang sudah dijalankan saat ini.
Di bawah Espinosa, Nissan mendorong pendekatan yang lebih fleksibel terhadap elektrifikasi. Ia disebut sebagai salah satu otak di balik cetak biru Nissan Ambition 2030.
Pendekatan itu berbeda dari sebagian pabrikan yang lebih cepat mengumumkan penghentian total mesin bensin dalam waktu dekat. Strategi Espinosa dinilai lebih adaptif terhadap kesiapan infrastruktur di berbagai negara.
Nissan juga disebut mengandalkan kombinasi e-POWER dan EV untuk menjawab kebutuhan konsumen saat ini. Di saat yang sama, perusahaan berupaya menjaga efisiensi biaya pengembangan dengan ketat.
Arah tersebut menjadi fondasi penting bagi upaya pemulihan Nissan. Fokusnya bukan lagi sekadar memperbesar volume, melainkan memperbaiki profitabilitas sambil menata ulang posisi merek dan lini produk.
Munculnya usulan soal Ghosn menunjukkan bahwa sebagian pemegang saham masih melihat masa lalu sebagai tolok ukur ketika menilai masa depan Nissan. Namun sinyal dari manajemen cukup jelas, perusahaan memilih melanjutkan restrukturisasi global dan strategi elektrifikasi pragmatis bersama Ivan Espinosa.
Source: kabaroto.com






