Xpeng mempercepat reorganisasi besar-besaran di bisnis robotiknya untuk mengejar produksi massal. Langkah ini menempatkan lebih banyak sumber daya grup ke dalam proyek humanoid robot, sekaligus menegaskan perubahan arah perusahaan dari produsen mobil listrik pintar menjadi perusahaan “physical AI”.
Di pusat perubahan itu, Xpeng menambah sembilan departemen tingkat kedua di robotics center. Chairman sekaligus CEO He Xiaopeng juga merangkap memimpin departemen produk setelah sebelumnya mengambil alih langsung kendali atas unit robotik.
Struktur baru untuk kejar skala produksi
Menurut laporan 21jingji, sembilan departemen baru itu mencakup embodied systems engineering, general foundation model, brand marketing, control and safety development, embodied intelligence, data closed-loop, product matrix, dan project management. Susunan ini menunjukkan bahwa Xpeng tidak hanya membangun riset robot, tetapi juga menyiapkan rantai kerja yang lebih lengkap untuk membawa produk ke tahap produksi.
He sebelumnya menyampaikan dalam surat internal bahwa dirinya akan bertindak sebagai “CEO” bisnis robotik untuk mempercepat komersialisasi. Ia juga menyebut peningkatan di level manajemen senior ini sebagai langkah penting dalam transformasi strategis Xpeng menjadi perusahaan physical AI.
Dalam surat itu, He mengatakan bahwa selama setahun terakhir ia meluangkan setidaknya satu hari penuh setiap pekan untuk bisnis robotik. Ia terlibat langsung dalam pemikiran mendalam, diskusi, dan pengambilan keputusan di unit tersebut.
Robotik dan mobil listrik mulai saling berbagi keahlian
Xpeng berada dalam posisi unik karena bergerak di dua bidang sekaligus, yakni humanoid robot dan mobil. Kondisi itu membuat banyak kapabilitas perusahaan bisa dipakai lintas unit, dari perangkat keras hingga pengembangan kecerdasan buatan.
Contohnya terlihat pada Gu Jie, kepala embodied systems engineering department di robotics center. Ia juga menjabat sebagai kepala powertrain Xpeng dan sebelumnya memimpin tim yang mengembangkan teknologi super extended-range perusahaan.
Di sisi perangkat lunak, pendekatan VLA atau Vision-Language-Action dan world models dipandang dapat mendukung baik autonomous driving maupun robotik. Karena itu, Liu Xianming yang memimpin general foundation model department juga menjabat sebagai kepala general intelligence center Xpeng.
Pada CVPR 2026, Liu menghadiri workshop pertama tentang penerapan embodied intelligence foundation models. Dalam tulisan setelah acara itu, ia menjelaskan bahwa VLA belajar dari perilaku manusia sementara world models belajar dari cara dunia berevolusi, dan keduanya saling melengkapi.
Pandangan serupa juga disampaikan Chen Long, kepala smart driving foundation model Xiaomi EV. Ia menggabungkan dua kemampuan itu dalam model Xiaomi OneVL untuk autonomous driving, dengan menyebutnya sebagai upaya membangun arsitektur terpadu bagi autonomous driving dan robotik.
Persaingan makin bergeser ke pabrik dan pengiriman
Perombakan di Xpeng juga mencerminkan tren yang lebih luas di kalangan startup EV China. 21jingji mencatat bahwa para pemain kini semakin menata organisasi mereka di sekitar robotik, bukan hanya kendaraan listrik.
Li Auto, misalnya, merestrukturisasi divisi intelijensinya menjadi tiga tim pada 14 Februari, yang masing-masing menangani humanoid robot, software bodies, dan foundation models. Pada Mei, Li Auto juga menambah tiga departemen tingkat kedua lagi, yakni embodied engineering, embodied interaction, dan embodied behavior.
Satu narasumber yang menjabat CTO di perusahaan pembuat humanoid robot menilai pengalaman pada infrastruktur AI untuk melatih model autonomous driving juga bisa diterapkan ke robot. Ia bahkan mengatakan bahwa untuk robot, infrastruktur AI lebih penting daripada model besar itu sendiri.
21jingji juga menyebut bahwa 2026 dipandang sebagai tahun pertama komersialisasi humanoid robot. Persaingan antarpabrikan kini bergeser dari fokus pada tim, demo, dan makalah menjadi pertarungan fasilitas, produksi massal, dan pengiriman, sementara sejumlah perusahaan disebut telah tumbang menjelang produksi skala besar.
Seorang CEO perusahaan humanoid robot berpendapat bahwa produsen mobil dan pembuat ponsel punya keunggulan di bidang robotik. Alasannya, mereka lebih memahami ritme produksi, standar, serta keseimbangan antara pasokan, manufaktur, dan penjualan.
Di sisi Xpeng, He menegaskan bahwa bisnis robotik kini mengintegrasikan banyak modul inti di dalam grup, mulai dari hardware, AI large models, supply chain, precision manufacturing, hingga marketing. Ia menyebut tingkat kompleksitas ini menuntut kolaborasi yang lebih dalam pada fase penting kampanye produksi massal.
