Mengemudi mobil matic memang terasa lebih mudah karena pengemudi hanya mengoperasikan pedal gas dan rem. Namun kemudahan itu justru bisa memicu kebiasaan yang keliru, termasuk mengerem dengan kaki kiri.
Kebiasaan ini dinilai berisiko karena dapat membuat mobil berhenti terlalu mendadak. Dalam situasi darurat, tekanan rem dari kaki kiri dikhawatirkan menjadi terlalu kuat dan membahayakan penumpang maupun pengguna jalan lain.
Mobil matic tidak memakai pedal kopling seperti mobil manual. Karena itu, ruang kerja kaki pengemudi lebih sederhana dan sering dianggap tidak membutuhkan teknik khusus.
Padahal, teknik dasar tetap penting agar mobil bisa dikendalikan dengan halus dan aman. Salah satu prinsip yang ditekankan adalah memakai satu kaki saja, yakni kaki kanan, untuk mengatur gas sekaligus rem.
Mengapa kaki kanan lebih dianjurkan
Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menyarankan pengemudi mobil matic menggunakan kaki kanan untuk mengontrol laju dan menghentikan kendaraan. Menurut dia, cara ini paling aman karena pengemudi bisa merasakan tekanan pedal dengan lebih baik.
Jusri menjelaskan bahwa kaki kanan membantu pengemudi menjaga feeling saat berpindah dari pedal gas ke pedal rem. Sensasi tekanan itu penting agar pengereman terjadi dengan terukur, bukan tiba-tiba berlebihan.
Sebaliknya, penggunaan kaki kiri untuk pedal rem disebut bukan cara yang tepat untuk penggunaan harian. Alasannya, kaki kiri dinilai lebih rentan memberi tekanan terlalu keras saat menginjak rem.
Risiko ini menjadi lebih besar ketika ada objek mendadak di depan kendaraan. Pengemudi bisa refleks menginjak rem dengan kuat, lalu mobil berhenti secara mendadak.
Risiko pengereman mendadak
Pengereman mendadak bukan hanya membuat perjalanan tidak nyaman. Kondisi ini juga bisa menimbulkan bahaya bagi penumpang di dalam mobil dan pengendara lain di sekitar kendaraan.
Saat mobil berhenti terlalu keras, penumpang bisa terkejut karena perpindahan beban terjadi mendadak. Di jalan ramai, kendaraan di belakang juga berisiko tidak sempat mengantisipasi perubahan kecepatan tersebut.
Karena itu, kebiasaan mengerem dengan kaki kiri tidak disarankan untuk pengemudi mobil matic dalam penggunaan biasa. Fokus utamanya bukan semata soal kebiasaan, melainkan soal kendali yang lebih aman dan lebih presisi.
Pemakaian satu kaki juga membuat pola berkendara menjadi lebih konsisten. Pengemudi tidak perlu membagi koordinasi antara dua kaki untuk dua pedal yang berbeda.
Beda kebutuhan harian dan balap
Jusri menyebut penggunaan dua kaki umumnya hanya dikenal untuk kebutuhan balap di sirkuit. Dalam konteks itu, teknik mengemudi dan tuntutan kendaraan memang berbeda dengan penggunaan di jalan umum.
Pada balap, pengemudi memiliki kebutuhan khusus untuk respons yang sangat cepat dan teknik yang terlatih. Namun kondisi tersebut tidak bisa disamakan dengan berkendara harian yang menuntut keselamatan, kenyamanan, dan antisipasi terhadap banyak pengguna jalan lain.
Itu sebabnya teknik yang aman di jalan raya tetap mengutamakan kesederhanaan kontrol. Dengan kaki kanan sebagai satu-satunya pengendali gas dan rem, pengemudi dinilai lebih mudah menjaga ritme mobil.
Banyak pengemudi memilih mobil matic karena praktis dan tidak melelahkan. Meski begitu, kemudahan tersebut tidak berarti semua kebiasaan mengemudi bisa dibenarkan.
Menggunakan kaki kiri untuk rem mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa besar saat pengemudi harus bereaksi cepat. Dalam kondisi seperti itu, kendali yang halus justru lebih penting daripada sekadar respons spontan.
Pengemudi mobil matic pada dasarnya hanya perlu membangun kebiasaan pedal yang benar sejak awal. Dengan begitu, perpindahan dari akselerasi ke pengereman bisa berlangsung lebih halus dan risiko mobil berhenti mendadak dapat ditekan.
Jalan umum menuntut prediksi, ketenangan, dan kontrol yang stabil. Karena itu, untuk mobil matic, penggunaan kaki kanan sebagai pengendali tunggal gas dan rem tetap menjadi cara yang paling aman menurut pelatih keselamatan berkendara.
