Honda menghadapi momen yang sangat jarang dalam sejarah panjangnya. Untuk pertama kalinya setelah hampir 70 tahun, perusahaan itu mencatat rugi bersih tahunan dan situasi tersebut membuat Presiden sekaligus CEO Honda Motor Co., Toshihiro Mibe, sampai menyampaikan permintaan maaf kepada para pemegang saham.
Permintaan maaf itu disampaikan saat rapat pemegang saham tahunan di Tokyo. Di hadapan para investor, Mibe mengakui buruknya hasil keuangan perusahaan dan menyebut kerugian tersebut telah menimbulkan kekhawatiran serta ketidaknyamanan yang besar.
Meski begitu, para pemegang saham tetap menyetujui Mibe untuk kembali menjadi anggota dewan direksi. Keputusan itu menunjukkan bahwa manajemen puncak Honda masih mendapat kepercayaan, bahkan ketika perusahaan sedang berada dalam tekanan besar.
Kerugian yang dibukukan Honda terkait dengan perombakan bisnis kendaraan listriknya. Untuk tahun fiskal 2025, produsen otomotif Jepang itu melaporkan rugi bersih sebesar 423,94 miliar yen.
Angka tersebut menjadi sorotan karena Honda selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pabrikan otomotif besar yang stabil. Catatan rugi bersih tahunan pertama setelah hampir tujuh dekade menandai betapa seriusnya tantangan yang sedang dihadapi perusahaan.
Di awal rapat, Mibe tidak menutup-nutupi kondisi itu. Ia secara terbuka menyampaikan permintaan maaf yang mendalam kepada para pemegang saham atas dampak dari kerugian bersih yang tercatat pada hasil keuangan tahun fiskal sebelumnya.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa tekanan terhadap manajemen Honda datang bukan hanya dari pasar, tetapi juga dari para pemilik saham. Mibe mengatakan dirinya sepenuhnya memahami kritik keras yang diarahkan kepada manajemen atas keputusan-keputusan yang diambil perusahaan.
Tekanan di bisnis kendaraan listrik
Salah satu sumber tekanan terbesar datang dari melambatnya permintaan kendaraan listrik di Amerika Serikat. Dalam situasi itu, Honda memutuskan menghentikan pengembangan tiga model kendaraan listrik yang sebelumnya disiapkan untuk produksi di Amerika Utara.
Langkah tersebut menunjukkan adanya penyesuaian strategi yang cukup besar. Di saat banyak produsen global berlomba mempercepat transisi ke kendaraan listrik, Honda justru harus menata ulang arah bisnisnya karena kondisi pasar tidak berkembang sesuai harapan.
Perombakan di sektor kendaraan listrik inilah yang ikut membebani kinerja keuangan perusahaan. Dampaknya tidak berhenti pada rencana produk, tetapi juga langsung tercermin pada laporan tahunan Honda.
Meski mencatat rugi besar, Honda tidak ingin berlama-lama berada dalam fase defensif. Perusahaan menyatakan berharap dapat kembali meraih keuntungan pada tahun fiskal ini.
Harapan itu disampaikan bersamaan dengan komitmen Mibe untuk memulihkan jalur pertumbuhan perusahaan. Ia menegaskan tanggung jawabnya adalah membawa Honda kembali tumbuh dengan cepat, sambil terus menghadirkan produk mobilitas yang unik dan beragam ke pasar global.
Masih cari jalan lewat kerja sama
Di tengah tekanan tersebut, Honda juga terus membuka ruang kolaborasi dengan pabrikan Jepang lain. Mibe mengungkapkan bahwa Honda masih berdiskusi dengan Nissan Motor Co. dan Mitsubishi Motors Corp dalam sejumlah bidang strategis.
Pembicaraan itu mencakup platform kendaraan berbasis perangkat lunak generasi berikutnya serta baterai. Dua area tersebut dinilai penting karena akan menjadi fondasi utama persaingan industri otomotif ke depan.
Sampai saat ini belum ada keputusan konkret yang diumumkan dari pembicaraan tersebut. Namun, Mibe mengatakan diskusi berjalan dengan baik dan hubungan Honda dengan Nissan serta Mitsubishi tetap terjaga dengan baik.
Poin ini penting karena memperlihatkan bahwa respons Honda terhadap tekanan bukan semata pemangkasan atau penghentian proyek. Perusahaan juga mencoba membangun opsi baru melalui kerja sama di bidang teknologi yang semakin menentukan masa depan industri.
Bagi Honda, tantangannya kini bukan hanya menutup rugi, tetapi juga memastikan perubahan strategi tidak membuat perusahaan tertinggal. Perlambatan permintaan kendaraan listrik di Amerika Serikat telah memaksa perusahaan mengambil keputusan sulit, dan dampaknya sudah terasa di laporan keuangan.
Di sisi lain, kepercayaan pemegang saham yang masih diberikan kepada Mibe memberi ruang bagi manajemen untuk menata ulang arah perusahaan. Dengan target kembali untung pada tahun fiskal ini, perhatian pasar kini tertuju pada seberapa cepat Honda bisa mengubah restrukturisasi bisnis kendaraan listriknya menjadi pemulihan kinerja yang nyata.
