Ancaman asteroid tidak lagi dipandang sebagai adegan film semata. Tabrakan seperti peristiwa Tunguska pada 1908 pernah memicu ledakan besar di atmosfer Bumi dan merobohkan hutan dalam radius luas dari titik tumbukan.
Masalahnya, ancaman paling sulit justru datang dari arah Matahari. Asteroid tidak memancarkan cahaya sendiri, sehingga objek ini hanya terlihat karena memantulkan cahaya Matahari, dan kilau terang di sekitar Matahari membuatnya nyaris mustahil dipantau dari Bumi.
Mencari benda langit yang bersembunyi di silau Matahari
Selama ini, sistem pemantauan luar angkasa milik badan antariksa seperti NASA sudah disiapkan untuk mendeteksi asteroid berbahaya sebelum mendekat. Dengan cukup waktu, wahana antariksa bahkan bisa dikirim untuk mencegat dan mengubah arah asteroid yang mengancam planet ini.
Namun kemampuan itu hanya efektif untuk objek yang bisa terlihat sejak awal. Asteroid yang melintas di depan cakram Matahari atau bergerak terlalu dekat ke arah itu jauh lebih sulit dideteksi, terutama karena cahaya Matahari menenggelamkan sinyal pantulannya.
Untuk menutup celah itulah Badan Antariksa Eropa atau ESA mengembangkan misi Near-Earth Object Mission in the Infrared, disingkat NEOMIR. Misi ini dirancang untuk menemukan asteroid bahkan saat benda itu begitu dekat dengan Matahari hingga tidak terlihat dari Bumi.
Orbit khusus dan pengamatan inframerah
NEOMIR akan ditempatkan di orbit pada titik Lagrange pertama, atau L1, di antara Matahari dan Bumi. Orbit ini sama seperti yang digunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb, dan posisinya memberi sudut pandang yang tepat untuk mengamati asteroid yang datang dari arah Matahari.
Keunggulan lain datang dari cara pengamatannya. NEOMIR tidak mengandalkan cahaya tampak, melainkan inframerah, sehingga teleskop ini bisa menangkap tanda panas dari asteroid, termasuk yang gelap dan sulit terlihat dalam spektrum biasa.
Pendekatan ini penting karena tidak semua asteroid memantulkan cahaya dengan cara yang sama. Sebagian tersusun dari material yang lebih terang, tetapi sebagian lain jauh lebih gelap, dan justru kelompok inilah yang sulit ditemukan dengan teleskop optik.
ESA menjelaskan bahwa berada di luar atmosfer Bumi yang mendistorsi cahaya serta mengamati dalam inframerah akan membuat NEOMIR memantau cincin dekat Matahari yang tidak bisa dilihat dari permukaan Bumi. Objek yang berpotensi membahayakan dan belum bisa terdeteksi saat ini harus melintasi wilayah pengamatan itu.
Mengisi celah bersama misi NASA
NEOMIR belum dibangun dan masih dalam tahap pengembangan. ESA menargetkan peluncurannya sekitar 2030 dengan roket Ariane 6.
Misi ini akan bekerja berdampingan dengan Near-Earth Object Surveyor milik NASA, yang dijadwalkan meluncur pada 2027. Teleskop antariksa itu juga akan memakai inframerah untuk menemukan asteroid dan komet berbahaya, dengan target mengidentifikasi objek yang melintas dalam jarak 30 juta mil dari orbit Bumi.
NEO Surveyor dibangun untuk menemukan 90 persen objek dekat Bumi yang berdiameter lebih dari 140 meter. NEOMIR memiliki peran yang berbeda karena dirancang mencari objek dari ukuran apa pun selama berpotensi menjadi ancaman.
Tahap persiapan teknis masih berjalan
Untuk menyiapkan NEOMIR, ESA saat ini mengembangkan teknologi inti misi itu, termasuk detektor dan kebutuhan elektroniknya. Targetnya adalah membangun teleskop setengah meter dengan detektor untuk dua kanal inframerah pada rentang gelombang 5–10 mikrometer.
Kombinasi dua misi ini memberi lapisan pertahanan yang lebih kuat terhadap ancaman dari luar angkasa. Dengan kemampuan melihat objek yang tersembunyi oleh silau Matahari, para ilmuwan mendapat peluang lebih besar untuk menemukan asteroid berbahaya sebelum benda itu bergerak terlalu dekat ke Bumi.
