Bos besar Honda, Toshihiro Mibe, menyampaikan permintaan maaf kepada para pemegang saham setelah perusahaan mencatat rugi bersih tahunan pertama dalam hampir 70 tahun sejak melantai di bursa pada 1957. Momen ini menjadi sinyal paling jelas bahwa tekanan di bisnis otomotif Honda sudah masuk ke level yang sangat serius.
Honda membukukan rugi bersih 423,94 miliar yen atau sekitar Rp46,2 triliun untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Kerugian itu terutama dipicu beban restrukturisasi bisnis mobil listrik lebih dari US$9 miliar atau lebih dari Rp160 triliun, ditambah persaingan yang makin ketat dari pemain China.
Permintaan maaf di hadapan pemegang saham
Mibe menyampaikan permintaan maaf itu dalam rapat pemegang saham tahunan di Tokyo. Ia menyebut rugi bersih tersebut menimbulkan kekhawatiran dan ketidaknyamanan besar bagi para pemegang saham.
Honda menyebut kerugian terbesar datang dari perombakan bisnis mobil listrik. Di Amerika Serikat, pemangkasan subsidi kendaraan listrik membuat pangsa pasar Honda jauh di bawah perkiraan, sehingga penjualan model yang sudah direncanakan membutuhkan insentif besar.
Situasi itu mendorong Honda mencatat kerugian terkait EV dan menghentikan pengembangan tiga model mobil listrik untuk produksi di Amerika Utara. Langkah tersebut diambil seiring permintaan yang melambat.
Mibe mengatakan bila penjualan model-model itu tetap dilanjutkan, bisnis otomotif Honda bisa tetap merugi setidaknya lima tahun, bahkan mungkin hingga tujuh tahun. Ia menilai kondisi seperti itu akan sangat kritis bagi perusahaan.
Tekanan internal dan kritik dari mantan petinggi
Di balik angka rugi itu, Mibe juga menghadapi tekanan dari internal perusahaan. Mantan CEO Honda Nobuhiko Kawamoto disebut mendatangi kantor pusat di Tokyo pada April untuk mendesaknya mundur.
Sejumlah mantan petinggi Honda mengkritik Mibe karena dianggap mengabaikan China, pasar mobil terbesar di dunia. Mereka juga menilai taruhan Honda pada EV gagal dan justru menyeret perusahaan ke kerugian, sekaligus memperlihatkan ketergantungan yang makin besar pada divisi sepeda motor yang lebih menguntungkan.
Menjelang akhir rapat pemegang saham, seorang pemegang saham mengusulkan mosi pemecatan Mibe. Namun, usulan itu tidak dibawa ke pemungutan suara karena Mibe menyebut persoalan tersebut tidak masuk agenda.
Sebagian pemegang saham yang hadir juga menyuarakan kekecewaan. Seorang pegawai kantoran perempuan berusia 50-an tahun mengatakan ia kecewa dengan cara presiden direktur menangani persoalan ini.
Sinyal pemulihan masih dicari
Meski tekanan meningkat, usulan untuk mengangkat 11 anggota dewan direksi termasuk Mibe tetap disetujui. Mahito Shikama, 48 tahun, ikut masuk sebagai direktur baru dan dikenal terlibat dalam pengembangan kendaraan otonom Level 3 komersial serta SDV.
Voting itu sejalan dengan rekomendasi dua lembaga penasihat pemegang saham, Glass Lewis dan ISS. Di sisi lain, Honda tetap memproyeksikan kembali meraup untung pada tahun fiskal berjalan.
Mibe juga berjanji menjadikan bisnis mobil Honda sebagai sumber laba yang stabil dalam tiga tahun ke depan. Ia menegaskan tanggung jawabnya adalah cepat mengembalikan Honda ke jalur pertumbuhan sambil terus menghadirkan produk mobilitas yang unik dan beragam.
Honda turut menyebut pembicaraan dengan Nissan dan Mitsubishi mengenai teknologi kendaraan generasi berikutnya. Pembahasan itu mencakup platform software-defined vehicle atau SDV dan baterai, yang disebut sudah berlangsung sejak pertengahan 2024 dan kini berada pada tahap lanjut.
Sebagian proyek bahkan disebut hampir diumumkan. Di tengah tekanan investor, kritik internal, dan rugi terbesar dalam puluhan tahun, Honda kini dituntut membuktikan bahwa restrukturisasi mahal itu benar-benar bisa mengembalikan bisnis mobilnya ke jalur yang lebih sehat.
Source: www.cnnindonesia.com






