Volkswagen sedang menghadapi tekanan besar dari penurunan laba dan perlambatan penjualan yang terus membayangi bisnisnya. Dalam situasi itu, langkah efisiensi ekstrem mulai dibahas, termasuk opsi menutup empat pabrik di Jerman yang bisa berdampak luas ke ribuan pekerja.
Kabar ini menjadi penting karena Volkswagen bukan pemain kecil di industri otomotif global. Meski masih termasuk salah satu produsen mobil terlaris di dunia, posisinya tak lagi sekuat dulu setelah kursi pemimpin pasar global direbut Toyota.
Laba turun, tekanan naik
Kondisi keuangan Volkswagen memburuk dalam beberapa tahun terakhir. Laba yang didapat tahun lalu disebut anjlok hingga 44 persen, dan penurunan itu memperkuat dorongan untuk memangkas biaya operasional secara agresif.
Efisiensi tersebut tidak hanya menyentuh sisi internal perusahaan, tetapi juga menyasar aset produksi. Karena itu, penutupan pabrik mulai masuk dalam pembahasan sebagai salah satu cara untuk menahan dampak kerugian yang terus berlanjut.
Empat pabrik masuk daftar evaluasi
Volkswagen disebut bakal menutup empat pabriknya di Hanover, Emden, dan Zwickau. Satu pabrik lain yang ikut terdampak adalah pabrik Audi di Neckarslum, Jerman, meski merek itu berada di bawah grup VW.
Jika rencana itu berjalan, dampaknya langsung terasa ke pekerja. Total sekitar 45 ribu karyawan bekerja di empat pabrik tersebut, sementara lebih dari 100 ribu pekerja di seluruh dunia juga berpotensi ikut terdampak oleh gelombang efisiensi ini.
Tak hanya pabrik, struktur bisnis juga dirombak
Manajemen Volkswagen juga sedang mempertimbangkan penyederhanaan bisnis yang lebih luas. Salah satu opsi yang dibahas adalah memisahkan merek utamanya dari bisnis komponen kendaraan, langkah yang menunjukkan skala restrukturisasi yang cukup serius.
Selain itu, rapat dewan pada 9 Juli menjadi momen penting untuk menentukan apakah rencana efisiensi tersebut benar-benar dijalankan. Dalam rapat itu, VW juga membahas kemungkinan pemangkasan belanja investasi, pengurangan biaya administratif, dan perombakan struktur organisasi grup.
Penolakan pekerja dan tanda-tanda peringatan
Rencana itu memunculkan protes dari sejumlah pekerja karena dianggap merugikan karyawan. Di sisi lain, perusahaan tampaknya menyiapkan langkah antisipasi jika kondisi pasar memburuk lebih jauh.
Volkswagen sendiri belum menetapkan kapan pemangkasan besar-besaran itu akan dilakukan. Namun arah kebijakannya sudah jelas, yaitu mencari cara agar bisnis tetap bertahan lebih lama di tengah tekanan pasar dan turunnya keuntungan.
Bukan hanya VW yang merasakan tekanan
Langkah pemangkasan biaya sebenarnya juga terjadi di sejumlah merek lain. Neta di China menjadi salah satu contoh yang menghadapi situasi lebih berat, dengan kerugian akibat biaya produksi tinggi dan penjualan yang kurang maksimal.
Perusahaan itu bahkan harus melakukan restrukturisasi besar-besaran dan menghentikan produksi mobil di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Dibandingkan itu, Volkswagen masih berada pada posisi yang lebih kuat, meski tetap harus bergerak cepat agar tidak terus tertekan.
Indonesia masih jadi pasar yang berjalan normal
Di Indonesia, Volkswagen masih berjualan seperti biasa dan berhasil menjual sejumlah mobil. Model ID Buzz menjadi produk paling populernya sejauh ini, bahkan sudah diproduksi lokal untuk memenuhi permintaan di segmennya.
VW juga belum melihat masalah besar dalam penjualan di Indonesia. Meski tertinggal jauh dari merek senegaranya seperti Mercedes-Benz dan BMW, perusahaan tampaknya tetap fokus menjaga kehadirannya di pasar, termasuk di tengah makin banyaknya merek China yang masuk dengan mobil listrik dan PHEV.
Volkswagen sendiri memilih bermain di segmen BEV, tetapi baru satu model ID yang dijual di Indonesia. Sampai saat ini belum ada rencana untuk menambah lebih banyak model, sementara tekanan dari bisnis global tetap menjadi perhatian utama di Jerman.
