Penerapan biodiesel B50 kembali memunculkan perhatian, bukan karena pasokannya, melainkan karena dampaknya terhadap mesin kendaraan tua. Pada kendaraan roda empat dan alat berat berumur lama, campuran bahan bakar ini dinilai berisiko menurunkan performa karena karakter mesin generasi lawas tidak dirancang untuk bahan bakar nabati dengan karakter seperti itu.
Kelompok Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia menjelaskan bahwa B50 mengandung fatty acid methyl ester atau FAME sebesar 50 persen. Kandungan ini memiliki sifat pelarut yang dapat mempercepat kerusakan komponen karet atau seal di dalam mesin tua.
Risiko pada mesin lawas
Ketua K3EPB UI Ali Ahmudi Achyak menyebut karakter higroskopis pada campuran FAME membuat biodiesel mudah menyerap air. Jika penyimpanan dilakukan di tangki yang tidak mumpuni, kadar air di dalam bahan bakar dapat meningkat dan memicu masalah lanjutan.
Masalah itu menjadi lebih serius pada mobil dan alat berat keluaran lama. Sistem mekanis pada kendaraan tersebut tidak dibuat untuk mengonsumsi bahan bakar nabati, sehingga potensi penurunan performa mesin bisa terjadi secara drastis.
Ali menegaskan mobil tua dengan teknologi 70-an dan 80-an tidak cocok mengonsumsi B50. Menurut dia, pada masa itu belum ada pertimbangan untuk memanfaatkan bioenergi sehingga spesifikasi komponennya berbeda jauh dengan kebutuhan bahan bakar saat ini.
Sebaliknya, armada angkutan dan alat berat yang lebih baru diproyeksikan tidak menemui kendala berarti. Ali menilai pabrikan otomotif modern sudah menyesuaikan spesifikasi suku cadang, termasuk seal, agar kompatibel dengan penggunaan bahan bakar nabati.
Dampak penyimpanan buruk
Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung Yannes Martinus Pasaribu menambahkan bahwa penyimpanan B50 yang buruk dapat menurunkan kualitas bahan bakar secara signifikan. Dampaknya sangat negatif bagi kesehatan mesin karena kualitas bahan bakar yang turun akan mengganggu proses kerja sistem pembakaran.
Kontaminasi air dan kotoran pada B50 berpotensi memicu pembentukan sludge atau endapan. Endapan ini bisa menyumbat filter bahan bakar dan meninggalkan deposit berbahaya pada komponen injektor.
Menurut Yannes, rangkaian masalah tersebut dapat membuat pembakaran menjadi tidak sempurna. Efek lanjutannya adalah tenaga mesin berkurang, konsumsi bahan bakar meningkat, dan dalam skenario terburuk mesin bisa mogok.
B50 yang kualitasnya buruk juga memiliki sifat asam dan mudah teroksidasi. Kondisi itu mempercepat korosi pada komponen logam, sementara karakter pelarut dari FAME berisiko merusak seal karet atau elastomer di sistem bahan bakar dan memicu swelling atau cracking.
Yannes menyebut mesin modern dengan sistem common rail biasanya lebih sensitif dibandingkan mesin lama. Namun, dampak jangka panjangnya masih terus dievaluasi melalui uji coba yang berlangsung saat ini.
Kesiapan mandatori B50
Di sisi kebijakan, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan uji jalan penggunaan biodiesel campuran 50 persen FAME sudah rampung pada akhir Mei 2026. Pengujian menempuh jarak total 50.000 kilometer dan diterapkan pada berbagai jenis mesin serta komponen kendaraan jarak jauh.
Eniya menjelaskan uji di kapal, mesin tambang, otomotif, dan alsintan sudah selesai. Dua sektor lain, yakni kereta dan genset, masih berjalan, dengan uji genset yang disebut akan berlangsung sampai Oktober.
Meski begitu, target mandatori B50 tetap berlaku pada semester kedua tahun ini, tepatnya mulai 1 Juli 2026. Eniya menyebut hasil uji sampai 50.000 kilometer melampaui spesifikasi yang ada, termasuk pada ketahanan filter.
Dukungan distribusi juga sudah disiapkan PT Pertamina Patra Niaga. Perusahaan itu menyatakan 126 terminal BBM siap menyalurkan B50 secara serentak mulai 1 Juli 2026 ke SPBU dan APMS Pertamina melalui produk Biosolar dan Dexlite secara bertahap.
Sebagai langkah awal, Pertamina Patra Niaga menyalurkan 37,92 juta liter B50 pada 1 Juli 2026. Volume penyaluran nasional kemudian ditargetkan terus naik hingga 87,27 juta liter per hari, seiring penerapan mandatori yang berjalan di lapangan.







