Penerapan biodiesel B50 resmi dimulai secara nasional pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini menandai langkah baru pemerintah setelah sebelumnya menjalankan B35 dan B40 untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Di balik target besar tersebut, pakar mengingatkan ada konsekuensi teknis yang perlu dipahami pemilik kendaraan diesel. B50 dinilai tetap bisa dipakai secara umum, tetapi kandungan Fatty Acid Methyl Ester atau FAME yang lebih tinggi membuat perawatan mesin perlu lebih diperhatikan.
Pemerintah juga menargetkan penghentian impor solar pada 2026 melalui penguatan produksi kilang dan percepatan biodiesel B50. Karena itu, implementasi B50 bukan sekadar perubahan jenis bahan bakar, tetapi bagian dari strategi energi yang lebih luas.
Bagi pengguna kendaraan diesel, isu yang paling dekat adalah dampaknya pada karakter kerja mesin. Sejumlah akademisi menilai B50 kompatibel untuk sebagian besar mesin diesel, namun ada beberapa catatan pada performa, sistem bahan bakar, dan komponen tertentu.
Performa mesin jadi sorotan
Pakar otomotif dari Universitas Gadjah Mada, Jayan Sentanuhady, menyatakan B50 pada dasarnya bisa digunakan untuk mesin diesel. Namun, kandungan FAME yang lebih tinggi dibanding B40 berpotensi memengaruhi karakter tenaga mesin.
Menurut Jayan, kenaikan kadar FAME membuat kecenderungan tenaga mesin bisa turun sekitar 5 sampai 10 persen. Di sisi lain, ia menilai emisi dari penggunaan B50 hampir tidak menjadi persoalan utama.
Peringatan terpenting, kata Jayan, ada pada sistem bahan bakar. Pengguna disarankan lebih sering melakukan perawatan, terutama pada komponen filter bahan bakar.
Saran ini muncul karena perubahan komposisi bahan bakar dapat memengaruhi kerja komponen penyaringan. Artinya, kendaraan mungkin tetap bisa berjalan normal, tetapi pemilik tidak bisa lagi mengabaikan jadwal perawatan rutin.
Karakter biodiesel berbeda dari solar murni
Pandangan serupa datang dari Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Wahyudi. Ia menyebut biodiesel modern pada dasarnya memang dirancang untuk mengakomodasi penggunaan pada mesin diesel secara umum.
Meski begitu, penggunaan B50 tetap memerlukan perhatian tambahan. Fokusnya ada pada perawatan dan pemantauan kondisi mesin secara berkala, terutama untuk kendaraan yang sudah lama digunakan.
Wahyudi menjelaskan biodiesel memiliki karakteristik yang berbeda dari solar murni. Bahan bakar ini memiliki tingkat kekentalan atau viskositas dan kepadatan atau densitas yang lebih tinggi, tetapi nilai kalor yang lebih rendah.
Karakter itu dapat memengaruhi proses pembakaran di dalam mesin. Pada kendaraan yang lebih lama, kondisi tersebut berpotensi menurunkan performa dan tenaga dibanding saat memakai solar murni.
Pernyataan ini sejalan dengan kekhawatiran soal penurunan power yang diungkap Jayan. Dengan kata lain, tantangan utama B50 bukan pada bisa atau tidaknya dipakai, melainkan pada bagaimana mesin merespons sifat bahan bakar yang berbeda.
Dampak ke ketahanan mesin
Dari sisi durabilitas, Wahyudi menilai pengaruh B50 terhadap ketahanan mesin secara umum tidak terlalu signifikan. Penilaian ini memberi sinyal bahwa penggunaan B50 tidak otomatis menimbulkan gangguan besar pada semua kendaraan diesel.
Namun, ada pengecualian yang perlu dicermati pada kendaraan berumur. Beberapa komponen berbahan karet di sistem bahan bakar berpotensi mengalami keausan lebih cepat.
Risiko itu membuat pemilik kendaraan lama perlu lebih waspada saat memantau kondisi saluran dan komponen bahan bakar. Pemeriksaan berkala menjadi penting agar potensi masalah bisa diketahui lebih dini.
Wahyudi menegaskan pengguna kendaraan pada dasarnya tidak perlu melakukan penyesuaian khusus. Hal yang lebih penting justru memastikan kualitas biodiesel yang beredar tetap baik dan sesuai standar.
Menurut dia, jika kualitas biodiesel terjaga, dampak negatif terhadap kendaraan dapat diminimalkan. Artinya, faktor mutu bahan bakar menjadi kunci penting selain kesiapan kendaraan itu sendiri.
Transisi energi, tapi perawatan tak boleh diabaikan
Masuknya B50 secara nasional menunjukkan transisi energi di sektor diesel kini bergerak lebih jauh. Namun, perubahan ini juga menuntut kedisiplinan baru dari pengguna kendaraan, terutama dalam perawatan sistem bahan bakar.
Filter bahan bakar menjadi komponen yang paling sering disorot oleh para pakar. Selain itu, kendaraan diesel yang lebih lama perlu dipantau lebih cermat karena karakter biodiesel yang lebih kental dapat memengaruhi pembakaran dan mempercepat keausan pada komponen tertentu.
Di sisi lain, para ahli tidak menyebut perlunya modifikasi besar pada kendaraan diesel secara umum. Pesan utamanya justru sederhana, yakni tetap menggunakan bahan bakar yang sesuai standar dan memperhatikan maintenance lebih rutin saat B50 mulai digunakan secara luas.
Source: otomotif.kompas.com






