Insentif Motor Listrik Cuma Setahun Dinilai Gagal, AISMOLI Minta Kepastian Minimal 3 Tahun

Desakan Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) kepada pemerintah menyoroti satu persoalan utama yang dinilai menahan laju pasar motor listrik, yakni ketidakpastian insentif. Organisasi ini meminta kebijakan bantuan pembelian motor listrik tidak lagi berlaku singkat, melainkan minimal tiga tahun.

Bagi AISMOLI, kepastian jangka panjang lebih penting daripada kebijakan yang diperbarui dari tahun ke tahun. Skema multi-years dinilai dapat memberi sinyal yang lebih kuat kepada konsumen, pelaku industri, dan investor untuk mengambil keputusan.

Public Relations & Event Executive AISMOLI, Riniwaty Sinaga, menyatakan kebijakan insentif sebaiknya tidak lagi dirancang hanya untuk satu tahun. Menurut dia, stabilitas regulasi menjadi kunci agar ekosistem kendaraan rendah emisi bisa tumbuh lebih maksimal.

AISMOLI menilai masa berlaku tiga tahun sebagai target yang realistis. Alasannya, periode itu masih berada dalam rentang pemerintahan yang sama sehingga lebih memungkinkan untuk dijaga konsistensinya.

Menurut Riniwaty, kepastian durasi insentif akan membangun kepercayaan pasar yang lebih kuat dibanding kebijakan yang berubah setiap tahun. Ia juga mengusulkan agar masa berlaku minimal tiga tahun dijadikan dasar program baru.

Di sisi lain, asosiasi tersebut memandang tiga tahun belum menjadi batas ideal bagi pertumbuhan industri. AISMOLI menilai masa berlaku lima tahun akan lebih baik untuk mendorong pertumbuhan organik yang berkelanjutan.

Kepastian pasar dinilai krusial

AISMOLI berpandangan bahwa insentif berdurasi pendek belum cukup menciptakan volume pasar yang kuat. Tanpa intervensi pemerintah yang konsisten dalam jangka lebih panjang, ekosistem kendaraan listrik dinilai sulit berkembang secara mandiri.

Pandangan ini menempatkan insentif bukan sekadar potongan harga untuk pembeli. Bagi industri, insentif juga menjadi fondasi pembentukan pasar yang stabil, yang pada akhirnya menentukan keberanian investasi dan ekspansi usaha.

Konsumen membutuhkan kepastian agar tidak menunda pembelian karena menunggu skema berikutnya. Sementara itu, produsen dan investor memerlukan arah kebijakan yang jelas untuk menyusun rencana bisnis dengan horizon yang lebih panjang.

AISMOLI juga menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada nominal insentif. Regulasi teknis yang disiapkan sejak awal disebut sama pentingnya agar pelaksanaan program tidak terhambat ketika aturan resmi diterbitkan.

Menurut Riniwaty, kesiapan teknis perlu dibangun bersamaan dengan desain kebijakan. Dengan begitu, program dapat segera berjalan saat regulasi keluar dan tidak tersendat oleh persoalan administratif.

Asosiasi itu menyatakan siap bersinergi apabila pemerintah mengumumkan kebijakan baru dalam waktu dekat. Dukungan dari pelaku industri dinilai penting agar implementasi insentif bisa lebih cepat dan tepat sasaran.

Pemerintah siapkan subsidi Rp5 juta

Di tengah dorongan tersebut, pemerintah berencana kembali memberikan subsidi Rp5 juta untuk setiap pembelian sepeda motor listrik baru. Skema ini ditujukan untuk mempercepat adopsi kendaraan rendah emisi, terutama di kota-kota besar Indonesia.

Aturan yang mengatur skema subsidi itu disebut akan dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan. Penyelesaian regulasi tersebut ditargetkan pada Juli 2026.

Rencana itu menjadi perhatian karena kebijakan serupa sebelumnya hanya berjalan selama satu tahun. Durasi pendek itulah yang kini dikritik AISMOLI karena dianggap belum efektif menciptakan efek domino bagi industri otomotif nasional.

Bagi pelaku industri, masalah utama bukan hanya ada atau tidak adanya subsidi. Yang lebih menentukan adalah seberapa lama kebijakan itu dijamin berlaku sehingga pasar bisa merespons dengan pola yang lebih stabil.

AISMOLI memandang insentif jangka panjang dapat membantu membentuk ekosistem kendaraan listrik yang lebih sehat. Jika arah kebijakan lebih pasti, pelaku usaha dapat menyiapkan strategi produksi, distribusi, dan pengembangan pasar secara lebih terukur.

Desakan ini juga menunjukkan bahwa fase pengembangan kendaraan listrik tidak cukup ditopang oleh kebijakan yang bersifat sementara. Industri membutuhkan kesinambungan agar adopsi tidak hanya melonjak sesaat, tetapi tumbuh secara bertahap dan berkelanjutan.

Dalam konteks itu, penyelesaian regulasi subsidi Rp5 juta pada Juli 2026 akan menjadi langkah penting. Namun bagi AISMOLI, efektivitas kebijakan akan jauh lebih besar jika pemerintah sekaligus menetapkan kepastian masa berlaku insentif sejak awal.

Source: www.suara.com

Terkait