CATL mulai menggeser cara ekspansi globalnya. Produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia itu kini tidak hanya bertumpu pada ekspor baterai, tetapi juga mendorong lisensi teknologi dan kemitraan manufaktur sebagai sumber pertumbuhan baru di pasar internasional.
Perubahan strategi ini terlihat jelas lewat proyek bersama Ford di Amerika Serikat. Melalui skema lisensi teknologi CATL, fasilitas baterai milik Ford sudah memulai produksi, dan langkah itu menjadi penanda bahwa model bisnis CATL mulai bergerak dari ekspor murni ke kombinasi investasi, perdagangan, dan transfer teknologi.
Dari ekspor ke lisensi teknologi
Wakil Presiden CATL, Meng Xiangfeng, mengonfirmasi perubahan arah itu dalam konferensi tahunan Aliansi Inovasi Industri Baterai Daya Otomotif China. Ia menilai perusahaan yang ingin berekspansi ke luar negeri tidak bisa lagi mengandalkan model ekspor semata.
Meng menyebut perusahaan baterai China harus mengutamakan kepatuhan. Ia juga menekankan pentingnya kemampuan memahami regulasi tiap negara tujuan dan ikut terlibat dalam penyusunan standar serta kebijakan lokal agar tetap kompetitif.
Strategi baru ini muncul di tengah hambatan perdagangan yang makin ketat. Tarif impor, kewajiban kandungan lokal, dan aturan jejak karbon menjadi tantangan yang mendorong perusahaan seperti CATL mencari cara ekspansi yang lebih fleksibel.
Proyek Ford jadi contoh paling nyata
Kolaborasi CATL dan Ford diumumkan pertama kali pada Februari 2023. Saat itu Ford berencana membangun pabrik baterai lithium iron phosphate atau LFP di Michigan dengan investasi sekitar US$3,5 miliar dan kapasitas 35 GWh, cukup untuk memasok sekitar 400.000 kendaraan listrik per tahun.
Namun proyek tersebut sempat tersendat setelah sejumlah anggota Kongres Partai Republik mempertanyakan kemitraan itu. Mereka khawatir skema tersebut memberi manfaat subsidi kepada CATL melalui Inflation Reduction Act.
Tekanan politik membuat proyek sempat dihentikan, sebelum akhirnya dilanjutkan pada November 2023 dengan skala yang lebih kecil. Investasinya dipangkas menjadi US$2 miliar, sementara kapasitas produksi turun menjadi 20 GWh.
Tekanan regulasi masih membayangi
Tantangan untuk proyek itu tidak berhenti di sana. Pada 2025, perubahan kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang menghentikan lebih awal insentif pajak kendaraan listrik ikut menekan bisnis Ford. Perusahaan itu kemudian membukukan penurunan nilai aset bisnis kendaraan listrik sebesar US$19,5 miliar.
Meski menghadapi tekanan politik dan regulasi, Ford dan CATL tetap melanjutkan kerja sama. Ford bahkan memperluas fungsi fasilitas tersebut untuk memproduksi sistem penyimpanan energi, meski langkah itu kembali menjadi sorotan Kongres Amerika Serikat pada awal 2026.
Pada 17 Juni lalu, Ford mengonfirmasi fasilitas itu telah menghasilkan batch perdana sel baterai LFP prismatik. Sel-sel tersebut kini masuk tahap pengujian kualitas dengan target tingkat cacat hanya satu banding satu miliar, sesuai standar manufaktur CATL.
Peta baru ekspansi CATL di luar China
Produksi komersial di fasilitas itu dijadwalkan mulai pada 2026. Baterai yang dihasilkan akan dipakai untuk pikap listrik ekonomis dan kendaraan listrik ukuran menengah Ford.
Model kerja sama ini berbeda dengan proyek CATL di Hungaria dan Indonesia yang juga dijadwalkan mulai berproduksi pada tahun ini. Dalam proyek Ford, lisensi teknologi menjadi inti kerja sama karena memungkinkan produksi di Amerika Serikat tetap mengikuti standar CATL tanpa bergantung pada ekspor baterai dari China.
Di luar Ford, muncul pula laporan bahwa CATL tengah menjajaki lisensi teknologi baterai LFP kepada General Motors untuk mendukung produksi baterai di Amerika Serikat. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa CATL semakin serius membangun sumber pertumbuhan baru lewat monetisasi teknologi di tengah perubahan besar dalam perdagangan global.
