Perut buncit bukan hanya soal penampilan, tetapi juga bisa menjadi sinyal risiko kesehatan yang lebih serius. Kondisi ini dikaitkan dengan diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, stroke, perlemakan hati, hingga penyakit jantung.
Karena itu, para ahli menilai penting untuk mengenali kebiasaan sehari-hari yang diam-diam memicu penumpukan lemak di area perut. Beberapa di antaranya justru sering dianggap sepele karena terasa umum dilakukan dalam rutinitas harian.
Jarang bergerak jadi pemicu utama
Kurang aktivitas fisik disebut sebagai penyebab besar penumpukan lemak perut. Ahli gizi Katherine Brooking, MS, RD, mengatakan kebiasaan ini menurunkan pengeluaran energi dan sensitivitas insulin.
Saat otot tidak aktif, tubuh cenderung menyimpan lebih banyak lemak visceral dibanding lemak subkutan. Lemak visceral inilah yang banyak dikaitkan dengan perut yang membuncit dan risiko kesehatan yang lebih tinggi.
Brooking menyarankan olahraga teratur selama 30 hingga 60 menit per hari dalam seminggu. Ia juga menyarankan memilih jenis olahraga yang disukai agar lebih mudah dijalani secara konsisten.
Makanan olahan memudahkan lemak menumpuk
Konsumsi makanan olahan memang praktis di tengah kesibukan, tetapi jenis makanan ini biasanya tinggi karbohidrat olahan, gula tambahan, dan lemak jenuh. Kombinasi tersebut dapat mendorong tubuh menyimpan kelebihan kalori sebagai lemak visceral.
Karolin Saweres, MS, RDN, LD, menjelaskan bahwa kebiasaan makan seperti ini membuat penumpukan lemak di perut menjadi lebih mudah terjadi. Brooking menyarankan pola makan yang kaya protein, lemak sehat, karbohidrat kompleks, serta banyak buah dan sayuran.
Pola makan seperti itu membantu menyeimbangkan kalori dan memberi nutrisi penting bagi tubuh. Dengan begitu, risiko penumpukan lemak berlebih dapat ditekan lebih baik.
Kurang tidur ikut mengganggu metabolisme
Kebiasaan lain yang sering luput diperhatikan adalah kurang tidur. Masalah ini tidak hanya membuat tubuh terasa lelah, tetapi juga mengganggu metabolisme.
Brooking mengatakan kurang tidur mengubah hormon leptin dan ghrelin serta meningkatkan kortisol. Perubahan ini dapat meningkatkan keinginan makan dan mendorong penimbunan lemak perut.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pembatasan tidur ringan dapat mengganggu hormon pengatur nafsu makan, sensitivitas insulin, dan cara tubuh menyimpan energi. Dalam jangka panjang, kalori berlebih jadi lebih mudah dialihkan ke lemak perut meski berat badan tidak banyak berubah.
Karena itu, tidur berkualitas selama 7 hingga 9 jam setiap hari disarankan dilakukan pada jam yang sama. Lingkungan tidur yang nyaman juga membantu tubuh beristirahat lebih nyenyak.
Stres kronis membuat lemak lebih mudah berkumpul di perut
Stres yang berlangsung lama juga disebut dapat mengubah cara tubuh menyimpan lemak di area perut. dr. Nesochi Okeke-Igbokwe menjelaskan bahwa stres kronis memicu pelepasan hormon kortisol yang berkontribusi pada penumpukan lemak visceral.
Saat kadar kortisol tetap tinggi dalam waktu lama, keinginan makan bisa meningkat dan sinyal lapar normal ikut terganggu. Kondisi ini juga dapat mengubah cara tubuh memproses serta menyimpan energi.
Para ahli menyarankan pengelolaan stres melalui meditasi, olahraga, berkumpul dengan teman, atau berbicara dengan profesional. Langkah sederhana ini membantu menekan efek stres terhadap kebiasaan makan dan penyimpanan lemak di perut.
