Ferrari akhirnya menjawab satu permintaan lama para penggemarnya: mengembalikan transmisi manual ke jajaran produknya. Model yang mendapat giliran itu adalah 12Cilindri Manuale, sebuah grand tourer yang langsung menarik perhatian karena menawarkan sensasi tiga pedal di tengah era mobil performa yang makin bergantung pada transmisi otomatis.
Kabar ini terasa lebih menonjol karena Ferrari baru-baru ini mengambil langkah yang memicu perdebatan, mulai dari keputusan memberi mesin V6 pada supercar flagship F80 hingga meluncurkan Luce sebagai EV pertamanya. Di tengah perubahan arah itu, kehadiran 12Cilindri Manuale menjadi sinyal bahwa Ferrari masih mau melayani nostalgia para penyuka mobil sport klasik.
Manual, tapi bukan manual murni
Meski namanya mengarah ke transmisi manual, pengoperasian 12Cilindri Manuale ternyata tidak sesederhana mobil manual biasa. Ferrari merancang sistem ini dengan pendekatan yang unik, karena basisnya tetap memakai transmisi dual-clutch delapan percepatan seperti 12Cilindri standar.
Perbedaan utamanya ada pada sistem baru bernama “Manuale By-Wire”. Sistem ini memungkinkan pengemudi memindahkan perpindahan gigi utama ke enam percepatan, sehingga terasa seperti transmisi manual konvensional meski konstruksinya berbeda.
Pendekatan tersebut membuat Ferrari berada di jalur yang mirip dengan Koenigsegg CC850. Bedanya, Ferrari membungkus pengalaman itu dalam karakter grand tourer yang tetap mempertahankan teknologi dual-clutch di dalamnya.
Cara kerja yang memancing nostalgia
Untuk mengaktifkan sistem ini, pengemudi hanya perlu memilih mode manual, menginjak pedal kopling di bagian bawah, lalu menggerakkan tuas transmisi ‘gate’ logam khas Ferrari. Cara itu dibuat untuk menghadirkan ulang sensasi perpindahan gigi tradisional yang selama ini dirindukan banyak penggemar Ferrari lama.
Ferrari bahkan menyetel perilaku sistemnya agar terasa seperti pergantian gigi konvensional. Dalam pengoperasian yang tidak tepat, mesin disebut bisa saja mati, sehingga pengalaman ini menuntut perlakuan yang memang mendekati mobil manual sejati.
Sistemnya juga dibantu dua sensor “Hall-effect” yang memantau pergerakan tuas pemindah gigi. Ada pula aktuator elektrik kecil yang mencegah gigi masuk kecuali mode manual sudah dipilih.
Ada dua cara menyalakan mobil
Perilaku sistem ini juga bergantung pada cara mobil dinyalakan. Jika mobil dihidupkan hanya dengan menekan pedal rem, transmisi akan bekerja layaknya DCT normal dan masuk ke mode “Drive”.
Sebaliknya, jika mobil dinyalakan dengan menekan pedal kopling, “Manuale By-Wire” akan aktif dan mobil langsung masuk ke mode manual. Detail ini memperlihatkan bahwa Ferrari tidak sekadar menambahkan tuas bergaya klasik, tetapi juga membuat logika pengoperasian yang benar-benar berbeda.
Mesin tetap brutal, produksi sangat terbatas
Ferrari tidak mengubah sisi powertrain pada 12Cilindri Manuale. Mobil ini tetap memakai mesin 6.5L V12 naturally-aspirated dengan tenaga hingga 819 hp, yang sanggup mendorongnya mencapai kecepatan tertinggi 340 km/jam.
Ferrari berencana memproduksi 1.499 unit untuk 12Cilindri Manuale. Harga mulainya berada di 423.000 dolar AS atau Rp7,6 miliar, menempatkannya sebagai produk eksklusif untuk pembeli yang menginginkan perpaduan antara performa modern dan rasa berkendara bergaya lama.
