Toyota Hilux kini masuk babak baru yang langsung menarik perhatian pasar kendaraan niaga. PT Toyota-Astra Motor resmi memperkenalkan Hilux Battery Electric Vehicle atau BEV dengan harga Rp1,019 miliar OTR Jakarta, angka yang langsung membuatnya berdiri jauh di atas varian Hilux lain yang sudah lebih dulu beredar.
Label harga itu tidak datang sendirian. Hilux listrik ini juga menjadi varian paling mahal dalam lini Hilux di Indonesia saat ini, sekaligus menandai bahwa elektrifikasi kendaraan kerja tidak lagi hanya menyasar mobil penumpang.
Pickup kerja yang tetap mempertahankan karakter tangguh
Toyota tidak membawa Hilux EV sebagai eksperimen ringan. Model ini diposisikan sebagai langkah serius menuju transformasi kendaraan niaga yang lebih bersih dan efisien, tanpa meninggalkan reputasi Hilux sebagai pickup yang kuat di medan berat.
Selama puluhan tahun, Hilux dikenal sebagai salah satu pickup paling tangguh di dunia. Reputasinya dibangun dari daya tahan, kemampuan off-road, dan performa mesin diesel yang kuat.
Teknologi listrik, tapi bukan untuk sekadar dipakai di kota
Hilux EV hadir sebagai pickup double cabin listrik pertama Toyota yang dipasarkan di Indonesia dengan pendekatan “work-ready EV”. Artinya, kendaraan ini disiapkan bukan hanya untuk kebutuhan ramah lingkungan, tetapi juga untuk menunjang kerja lapangan dan operasional industri.
Di balik bodinya, Hilux EV memakai sistem penggerak AWD dual motor. Konfigurasi ini menggerakkan seluruh roda dan membantu menjaga traksi di berbagai kondisi jalan, termasuk area proyek dan medan off-road.
Spesifikasi utama Toyota Hilux Battery EV
| Komponen | Detail |
|---|---|
| Penggerak | AWD dual motor |
| Baterai | Lithium-ion 59,2 kWh |
| Output maksimum | 144 kW atau sekitar 193 hp |
| Jarak tempuh | Hingga 315 km |
| Wading depth | Hingga 700 mm |
| Struktur | Ladder frame |
| Suspensi belakang | De-Dion |
Baterai lithium-ion berkapasitas 59,2 kWh menjadi sumber tenaga utama model ini. Output maksimumnya mencapai 144 kW atau setara sekitar 193 hp, angka yang terbilang besar untuk pickup listrik.
Dalam kondisi ideal, Hilux EV mampu menempuh jarak sekitar 315 km sekali pengisian penuh. Jarak itu disesuaikan untuk kebutuhan operasional jarak menengah, bukan untuk sekadar angka promosi.
Kemampuan kerja tetap jadi fokus
Meski beralih ke listrik, karakter kerja Hilux tetap dipertahankan. Toyota masih membekalinya dengan wading depth hingga 700 mm, struktur ladder frame yang kokoh, dan suspensi belakang De-Dion untuk menjaga stabilitas saat membawa beban berat.
Paket ini menunjukkan bahwa Hilux EV tetap diarahkan sebagai kendaraan yang siap kerja. Fokusnya jelas, yakni menjaga kemampuan angkut dan ketahanan sasis tanpa mengorbankan arah elektrifikasi.
Harga yang jauh lebih tinggi dari versi diesel
Perbedaan harga menjadi sisi paling mencolok dari peluncuran ini. Hilux D-Cab Battery EV dipasarkan Rp1.019.000.000, sementara Hilux D-Cab 2.8 Diesel V 4×4 A/T sebagai varian diesel tertinggi dibanderol Rp574.200.000.
Di sisi lain, Hilux S-Cab 2.8 Diesel 4×4 M/T sebagai varian terendah dipasarkan Rp416.800.000. Selisih itu membuat Hilux listrik berada di segmen premium dan hampir dua kali lipat lebih mahal dibanding versi diesel tertinggi.
Kenapa harganya bisa setinggi itu?
Ada beberapa faktor yang membuat Hilux EV jauh lebih mahal. Sistem dual motor AWD dan baterai lithium-ion berkapasitas besar menjadi komponen utama biaya produksi.
Hilux EV juga memerlukan arsitektur khusus agar baterai bisa ditampung tanpa mengurangi kemampuan angkut dan ketahanan sasis ladder frame. Toyota tampaknya tidak menargetkannya sebagai kendaraan massal, melainkan sebagai solusi khusus untuk perusahaan dan sektor industri tertentu.
Tantangan di pasar Indonesia
Kehadiran Hilux EV membuka jalan baru, tetapi tantangannya juga tidak kecil. Infrastruktur charging di sektor industri belum merata, harga jualnya sangat tinggi, dan kebutuhan operasional jarak jauh masih menjadi keunggulan mesin konvensional.
Ada juga tantangan adaptasi pengguna fleet terhadap teknologi EV. Meski begitu, dorongan global menuju net-zero emission membuat model seperti Hilux EV punya peluang menjadi standar baru di masa depan.







