Nissan Ubah Haluan, Akui Mengejar Volume Justru Bisa Merusak Citra Perusahaan

Nissan mulai mengubah arah di saat banyak pabrikan masih terpaku pada target volume. Di bawah CEO Ivan Espinosa, perusahaan menilai pendekatan mengejar penjualan sebesar-besarnya justru dapat menjadi beban bagi bisnis otomotif.

Pernyataan itu menandai perubahan sikap yang cukup tegas di tengah pasar yang tidak menentu. Espinosa menilai perusahaan perlu lebih hati-hati agar pertumbuhan tidak merusak kesehatan keuangan maupun citra merek.

Volume tinggi tidak selalu aman

Espinosa menyebut dorongan untuk mengejar volume sebagai pendekatan yang tidak ideal bagi industri otomotif. Ia mengatakan strategi lama yang berfokus pada “volume, volume, dan volume” bukan cara yang baik untuk menjalankan perusahaan otomotif.

Pandangan itu sejalan dengan komentar CEO Toyota, Kenta Kon, yang sebelumnya menilai penambahan terlalu banyak trim pada satu model bisa menimbulkan masalah. Kon lebih memilih penjualan yang lebih sedikit jika margin keuntungannya lebih tinggi.

Bagi Nissan, risiko mengejar volume tidak hanya soal angka penjualan. Espinosa juga menilai ketergantungan pada mobil sewaan di Amerika Serikat bisa menjadi buah simalakama karena berpotensi merusak citra perusahaan.

Pemangkasan besar untuk memperbaiki bisnis

Di saat yang sama, Nissan menyiapkan langkah efisiensi berskala besar. Perusahaan berencana menghapus sekitar 20.000 lapangan kerja, menutup tujuh pabrik, serta menutup dua studio desain.

Langkah itu diikuti dengan pemangkasan kapasitas produksi tahunan yang cukup besar. Nissan akan menurunkannya dari 3,5 juta menjadi 2,5 juta unit, sambil memangkas jumlah platform dari 13 menjadi 7.

Rangkaian perubahan tersebut memperlihatkan bahwa Nissan tidak hanya ingin mengejar volume. Perusahaan juga ingin mengecilkan struktur operasi agar lebih efisien dan lebih mudah dikendalikan.

Fokus baru di Amerika Utara

Espinosa menegaskan bahwa Nissan akan menghindari pasar mobil sewaan sebagai bagian dari upaya memulihkan citra perusahaan. Ia juga ingin mengembalikan performa penjualan Nissan di Amerika Utara ke jalur yang tepat.

Langkah ini penting karena Amerika Utara tetap menjadi pasar yang krusial bagi pabrikan Jepang tersebut. Jika strategi volume lama dinilai merugikan, maka pemulihan citra dan kualitas bisnis menjadi prioritas yang lebih masuk akal.

Perubahan arah ini juga menunjukkan bahwa Nissan ingin membangun ulang fondasi bisnisnya, bukan sekadar mengejar angka pengiriman. Fokusnya kini bergeser ke kombinasi antara efisiensi, profitabilitas, dan posisi merek yang lebih sehat.

Produk baru tetap disiapkan

Meski sedang menekan biaya, Nissan tetap menyiapkan sejumlah langkah produk di bawah kepemimpinan Espinosa. Salah satunya adalah membangkitkan model Skyline di Jepang pada musim dingin ini.

Untuk pasar Amerika Utara, Nissan juga berencana memperkenalkan Rogue Hybrid e-POWER ke jajaran elektrifikasi mulai 2027. Selain itu, perusahaan menyiapkan kehadiran Xterra sebagai SUV ladder frame dengan mesin V6 bensin murni dan varian hybrid.

Langkah-langkah itu menunjukkan Nissan belum meninggalkan ambisi produk. Namun, arah barunya lebih berhati-hati, dengan fokus pada model yang dinilai bisa mendukung pemulihan bisnis tanpa mengulang tekanan dari strategi mengejar volume semata.

Source: www.bincangbincangmobil.com
Terkait