Insentif Kendaraan Listrik Kembali Mundur ke Agustus, Pasar Otomotif Menahan Napas

Insentif kendaraan listrik yang belum juga diumumkan membuat pelaku industri otomotif kembali menunggu kepastian dari pemerintah. Hyundai Motors Indonesia memilih tidak berspekulasi dan menyatakan akan mengikuti seluruh regulasi yang akhirnya ditetapkan.

Chief Operating Officer HMID Fransiscus Soerjopranoto mengatakan industri otomotif bertumpu pada dua hal, yakni konsumen dan aturan pemerintah. Karena itu, Hyundai menilai wajar jika pelaku usaha menunggu keputusan resmi sebelum menyesuaikan langkah bisnis.

“Kami hanya nunggu aturan dari pemerintah. Karena ya seperti teman-teman tahu kan bahwa kalau kita ingin berjualan otomotif di Indonesia ada dua kan. Satu customer, satu lagi regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah,” kata Frans di Jakarta, Kamis (2/7).

Hyundai juga menyebut tidak mempermasalahkan bila aturan insentif belum terbit. Perusahaan menegaskan akan tetap mengikuti kebijakan yang berlaku tanpa mengeluhkan proses yang berjalan.

“Dan untuk regulasi sendiri kan kita selalu mengikuti apa yang ditetapkan oleh pemerintah. Nah kita gak pernah komplain,” ujarnya.

Di tengah penundaan itu, Frans berharap pemerintah tetap menghadirkan kebijakan yang mendukung pengembangan kendaraan bermesin konvensional maupun teknologi yang lebih ramah lingkungan. Menurut dia, arah kebijakan yang jelas penting agar industri bisa bergerak dengan lebih pasti.

“Harapannya tentunya pastinya Indonesia bisa memberikan policy atau kebijakan yang mendukung engine ataupun powertrain yang lebih ramah lingkungan. Itu saja dari kami,” ucapnya.

Pemerintah sebelumnya sempat berencana memberlakukan insentif EV pada Juni. Jadwal itu kemudian bergeser ke Juli, lalu kini kabarnya diundur lagi ke Agustus.

Pada saat yang sama, pemerintah disebut tengah mengalihkan fokus ke persiapan program mobil nasional. Kondisi ini membuat kepastian soal insentif EV belum terlihat dalam waktu dekat.

Kementerian Perindustrian yang membina sektor otomotif ikut meminta kepastian agar industri dan konsumen tidak terus berada dalam ketidakpastian. Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan keputusan yang tertunda dapat memengaruhi minat beli masyarakat.

“Terkait dengan itu, kami meminta agar industri dan konsumen produk otomotif segera diberi kepastian,” kata Febri melansir Antara, Rabu (1/7).

Ia menilai penundaan dapat menahan keputusan masyarakat dan berpotensi memberi tekanan pada kinerja industri otomotif. Karena itu, Kemenperin meminta kementerian dan lembaga lain segera memberikan kepastian atas insentif tersebut.

“Jadi kami mohon agar segera pengambil kebijakan di kementerian/lembaga lain agar segera memberikan kepastian terkait dengan insentif tersebut,” ujar Febri.

Frans menilai pasar otomotif nasional tahun ini kemungkinan masih bergerak di level yang relatif sama seperti tahun lalu bila kepastian insentif terus tertunda. Meski begitu, ia tetap berharap ada dorongan penjualan pada paruh kedua tahun ini.

Dorongan itu, menurut dia, bisa datang dari gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show yang dimulai akhir Juli. Dalam kondisi pasar yang menunggu arah kebijakan, industri kini masih memantau apakah pemerintah akan segera mengumumkan skema insentif EV atau kembali menundanya.

Source: www.cnnindonesia.com
Terkait