Mobil Listrik Jadi Penyelamat Saat Banjir Guangxi Memutus Listrik Total

Author: Qoo Media

Di Guangxi, China, banjir bandang akibat hujan ekstrem dari Topan Mesaak memutus listrik di banyak wilayah dan membuat komunikasi ikut terganggu. Di tengah kondisi itu, mobil listrik justru berubah menjadi sumber daya darurat untuk warga yang terisolasi.

Fitur vehicle-to-load atau V2L menjadi kunci dari respons spontan para pemilik kendaraan energi baru. Teknologi ini memungkinkan baterai mobil dipakai untuk menyalakan perangkat eksternal, termasuk gawai dan lampu darurat.

Fenomena ini ramai diperbincangkan setelah video amatir tersebar di media sosial. Dalam rekaman itu, warga pengungsian terlihat antre membawa kabel pengisi daya untuk menghidupkan ponsel mereka yang kehabisan baterai.

Posko listrik darurat dari mobil pribadi

Menurut laporan yang dihimpun flotim.pikiran-rakyat.com dari sejumlah media lokal, padamnya gardu listrik membuat jaringan seluler lumpuh dan menyulitkan tim penyelamat memetakan titik evakuasi. Kondisi itu mendorong para pemilik kendaraan listrik bertindak cepat sebagai penyedia daya sementara di area bencana.

Sejumlah pemilik BYD membentuk konvoi sukarelawan untuk menembus area banjir dan mengirim bantuan logistik. Di sisi lain, banyak pemilik kendaraan listrik memilih bertahan di lokasi terdampak untuk mengoperasikan mobil mereka sebagai stasiun daya mini.

Contoh Kendaraan Peran di Lapangan Batas Daya
Geely EX2 / Xingyuan Menjadi pusat pengisian untuk puluhan warga 3.3 kW
BYD DM-i Dipakai dalam bantuan darurat komunitas 3.3 kW
Mobil listrik umum di China Sumber listrik darurat untuk perangkat harian 6.6 kW
Geely Riddara RD6 Suplai listrik kawasan pemukiman dan dukungan drone 36 kW tiga fase

Di salah satu titik, mobil kompak Geely EX2 atau Xingyuan menjadi pusat kerumunan puluhan kepala keluarga. Warga menyambungkan beberapa kabel ekstensi secara paralel atau bertingkat agar satu mobil bisa mengisi 20 hingga 30 ponsel sekaligus.

Metode itu memang menyimpan risiko teknis seperti korsleting jika terkena air, tetapi pilihan warga terbatas saat mereka harus segera menghubungi keluarga di luar kota. Dalam situasi darurat, kemampuan sederhana untuk menyalakan ponsel menjadi kebutuhan paling mendesak.

Pasar EV yang makin besar ikut memperkuat kesiapan warga

Aksi serupa bukan pertama kali terjadi di China. Pada 2021, wilayah Henan juga pernah mengalami banjir besar dan pengalaman itu disebut membuat masyarakat kini lebih siap memakai fitur kelistrikan mobil saat bencana datang.

Kesiapan tersebut juga didorong pertumbuhan penjualan mobil energi baru yang sangat besar di China. Berdasarkan data China EV DataTracker, pada Juni 2026 porsi penjualan kendaraan energi baru mencapai 62,9 persen dari total penjualan mobil baru nasional.

Jumlah kendaraan yang makin banyak membuat akses ke teknologi V2L ikut meluas di tingkat komunitas. Di saat sistem kelistrikan utama tumbang, kendaraan listrik berubah menjadi cadangan energi yang praktis dan cepat dioperasikan.

Secara teknis, sistem ini mengandalkan bi-directional on-board charger yang sudah umum pada EV, PHEV, dan kendaraan listrik dengan pengabutan jarak tempuh atau EREV. Komponen itu tidak hanya mengisi baterai dari arus AC, tetapi juga membalikkan arus DC dari baterai menjadi AC untuk alat elektronik umum.

Untuk pasar domestik China, mayoritas mobil listrik dibatasi pada output V2L sebesar 6.6 kW karena pengisian daya tiga fase masih jarang pada mobil penumpang. Namun, kapasitas itu sudah cukup untuk lampu darurat dan pengisian massal perangkat komunikasi.

Di atas itu semua, Geely Riddara RD6 menunjukkan kemampuan yang jauh lebih besar dengan daya AC tiga fase hingga 36 kW. Dalam kondisi normal, truk pick-up listrik ini kerap dipakai petani untuk mengisi baterai drone penyemprot hama, tetapi saat banjir bandang, fungsinya berubah menjadi penopang listrik skala kecil bagi warga terdampak.

Terbaru