Lonjakan harga BBM di Indonesia membuat taksi listrik semakin menarik perhatian sebagai moda transportasi yang lebih hemat. Di tengah kenaikan Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Green 95 per 1 Juli 2026, biaya operasional kendaraan listrik dinilai jauh lebih ringan dibandingkan armada berbahan bakar minyak.
Perubahan ini bukan hanya terasa di Indonesia. Di China, transisi ke taksi listrik sudah berlangsung jauh lebih cepat, dan tren itu kini menjadi gambaran yang dilihat banyak pihak sebagai arah masa depan transportasi perkotaan.
Biaya Lebih Ringan, Minat Meningkat
Harga BBM nasional yang naik kembali menekan biaya perjalanan berbasis mesin konvensional. Pertalite dipatok Rp10.000 per liter, Pertamax Rp16.250, dan Pertamax Green 95 Rp17.000, sementara beberapa jenis nonsubsidi seperti Pertamax Turbo dan Dexlite justru turun harganya.
Namun, bagi banyak pengguna transportasi harian, beban biaya tetap terasa. Taksi listrik lalu muncul sebagai alternatif yang menawarkan biaya operasional lebih rendah dan kebutuhan perawatan yang lebih sederhana.
| Jenis BBM | Harga per Liter | Keterangan |
|---|---|---|
| Pertalite | Rp10.000 | Dipatok per 1 Juli 2026 |
| Pertamax | Rp16.250 | Dipatok per 1 Juli 2026 |
| Pertamax Green 95 | Rp17.000 | Dipatok per 1 Juli 2026 |
China Sudah Bergerak Lebih Cepat
Data Kementerian Transportasi China menunjukkan sepanjang Mei 2026 ada 3,05 miliar perjalanan menggunakan taksi dan layanan ride-hailing, naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Dari total armada taksi, separuh dari 1,3 juta unit di negara itu sudah beralih ke kendaraan listrik.
Platform ride-hailing Didi juga melaporkan bahwa 75% perjalanan mereka kini menggunakan kendaraan listrik atau hybrid. Tarif taksi listrik ikut terdorong menjadi lebih murah karena biaya operasional yang lebih rendah dan makin banyak pengemudi yang bergabung.
Dukungan Publik di Indonesia Masih Besar
Di Indonesia, minat pada kendaraan listrik mendapat dukungan luas dari masyarakat. Survei Litbang Kompas menunjukkan 98% publik mendukung penggunaan kendaraan listrik karena menilai biaya operasionalnya lebih murah, perawatannya lebih sederhana, dan pajaknya lebih ringan.
Dukungan ini memberi modal penting bagi perkembangan taksi listrik. Dalam konteks yang lebih luas, pemerintah juga mendorong percepatan transisi energi melalui program Biosolar B50 yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada Juli 2026.
Infrastruktur Jadi Pekerjaan Rumah
Meski peluangnya besar, tantangan utama masih ada pada infrastruktur pengisian daya. Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum atau SPBKLU perlu diperluas agar operasional taksi listrik bisa berjalan lebih luas dan efisien.
Harga kendaraan listrik yang masih relatif tinggi juga menjadi hambatan lain. Karena itu, insentif fiskal dan subsidi dari pemerintah dinilai penting untuk mempercepat adopsi taksi listrik di Indonesia.
Greenpeace memperkirakan pada 2035, 90% perjalanan taksi dan layanan ride-hailing di China akan menggunakan kendaraan listrik. Jika Indonesia mampu memperkuat infrastruktur, memperluas insentif, dan meningkatkan edukasi publik, taksi listrik berpeluang menjadi tulang punggung transportasi perkotaan yang lebih hemat dan ramah lingkungan.
Di tengah tekanan harga BBM, taksi listrik kini tidak lagi sekadar opsi alternatif. Moda ini mulai terlihat sebagai jawaban yang realistis untuk kebutuhan transportasi harian di kota-kota besar.







