Motor Listrik 100 Persen Buatan Indonesia Belum Realistis, Ini Komponen Penghambatnya

Author: Qoo Media

Gagasan menghadirkan motor listrik nasional yang dibuat sepenuhnya di Indonesia masih menghadapi hambatan besar pada komponen inti. Indonesia dinilai sudah dapat menguasai sejumlah tahapan penting, tetapi belum mampu memproduksi seluruh teknologi utama kendaraan listrik dari nol.

Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai target produk yang 100 persen lokal belum realistis dalam jangka pendek. Tantangannya bukan sekadar merancang bodi atau merakit kendaraan, melainkan membangun rantai industri untuk komponen strategis.

Komponen inti masih menjadi hambatan

Dalam pengembangan Motor Listrik Indonesia, rangka dan proses perakitan bukan menjadi persoalan paling berat. Hambatan terbesar berada pada ketersediaan industri hulu yang dapat memasok komponen teknologi tinggi secara berkelanjutan.

Yannes menyebut Indonesia belum memiliki produksi sel baterai untuk kendaraan roda dua dalam skala komersial. Negara ini juga belum memproduksi magnet permanen berbasis tanah jarang yang digunakan pada motor penggerak listrik.

Selain baterai dan magnet, fasilitas fabrikasi semikonduktor daya untuk membuat controller motor listrik juga belum tersedia di dalam negeri. Padahal, controller merupakan perangkat yang termasuk dalam sistem elektronika daya kendaraan listrik.

Komponen strategis Kegunaan dalam motor listrik Kondisi yang disebutkan
Sel baterai Menyimpan energi untuk kendaraan roda dua Belum diproduksi secara komersial di dalam negeri
Magnet permanen tanah jarang Digunakan pada motor penggerak listrik Belum diproduksi di Indonesia
Semikonduktor daya Menjadi bagian controller motor listrik Belum ada fasilitas fabrikasi domestik

Tanpa tiga komponen tersebut, produksi motor listrik yang sepenuhnya mengandalkan teknologi dalam negeri akan sulit dilakukan. Produsen masih perlu bergantung pada pemasok luar negeri untuk sel baterai, magnet permanen, dan perangkat elektronika daya.

Kepada Kompas.com pada 18 Juli 2026, Yannes menekankan perlunya melihat kondisi industri secara terbuka. “Secara ilmiah kita perlu jujur secara struktural, sebenarnya asli 100 persen tidak tersedia bagi Indonesia dalam jangka pendek, siapa pun produsennya,” ujarnya.

Penguasaan integrasi menjadi target yang lebih masuk akal

Menurut Yannes, skenario yang lebih realistis adalah memperkuat penguasaan desain kendaraan, pembuatan rangka, integrasi sistem, proses perakitan, dan merek. Model ini tetap memungkinkan industri nasional menghadirkan produk jadi yang siap digunakan masyarakat.

Pendekatan tersebut membedakan kemampuan mengintegrasikan kendaraan dengan penguasaan teknologi penuh atas seluruh komponennya. Sebuah motor dapat dirancang dan dirakit secara lokal, namun bagian inti tertentu masih berasal dari luar negeri.

Pengembangan Baterai Motor Listrik menjadi salah satu titik yang menentukan tingkat kemandirian industri. Sel baterai untuk roda dua disebut belum tersedia dalam produksi komersial domestik, sehingga kebutuhan komponen ini masih harus dipenuhi dari impor.

Hal serupa berlaku untuk magnet permanen berbasis tanah jarang serta perangkat elektronika daya. Ketiganya memiliki peran strategis karena berkaitan langsung dengan sistem penyimpanan energi, penggerak, dan pengendalian motor listrik.

Yannes menilai penguasaan desain dan integrasi tetap merupakan pencapaian penting bagi industri nasional. Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa produsen di Indonesia dapat menyatukan berbagai sistem menjadi kendaraan listrik yang berfungsi sebagai satu produk utuh.

“Itu tetap sebuah pencapaian, tetapi harus dinamai dengan tepat: penguasaan integrasi, bukan penguasaan teknologi penuh,” kata Yannes. Penegasan ini menempatkan kemampuan perakitan dan integrasi sebagai fondasi yang berbeda dari kemandirian komponen inti.

Motor nasional tetap berpeluang memakai komponen impor

Jika motor listrik nasional diluncurkan dalam waktu dekat, produk tersebut kemungkinan tidak seluruh teknologinya dikembangkan dari nol di Indonesia. Model yang lebih mungkin adalah kendaraan dengan desain dan integrasi lokal, sambil memakai sejumlah komponen utama dari luar negeri.

Kondisi itu tidak meniadakan peran Industri Komponen dalam negeri, terutama pada desain kendaraan, rangka, perakitan, dan pengembangan merek. Namun, klaim sebagai motor listrik murni buatan Indonesia perlu dibedakan secara jelas dari produk yang telah menguasai seluruh teknologi inti.

Source: otomotif.kompas.com
Terbaru