BAIC menyiapkan investasi sekitar Rp65 miliar untuk merakit baterai mobil listrik secara lokal di Indonesia. Langkah ini menjadi bagian penting dari persiapan produksi BAIC T1, mobil listrik baterai pertama merek tersebut di pasar Indonesia.
Produksi lokal T1 disebut baru direncanakan berjalan pada pertengahan 2027. Kehadiran perakitan baterai dinilai krusial karena aturan kandungan lokal kendaraan listrik akan meningkat pada periode yang sama.
BAIC masih perlu mengejar komponen dalam negeri agar produknya memenuhi persyaratan TKDN yang berlaku. Tanpa peningkatan kandungan lokal, biaya kendaraan listrik berpotensi lebih tinggi ketika target TKDN dinaikkan.
Target TKDN Naik Bertahap
Untuk kendaraan listrik berbasis baterai atau BEV, ketentuan TKDN lokal berada di angka 40 persen hingga akhir tahun ini. Angka tersebut akan naik menjadi 60 persen pada 2027 hingga 2029, sebelum kembali meningkat menjadi 80 persen pada 2030.
| Periode | Target TKDN BEV | Implikasi bagi BAIC |
|---|---|---|
| Hingga akhir tahun ini | 40 persen | Menyiapkan fondasi produksi lokal |
| 2027-2029 | 60 persen | Mendorong lokalisasi baterai dan komponen |
| 2030 | 80 persen | Menuntut kandungan lokal lebih besar |
Rencana perakitan baterai menjadi salah satu cara BAIC memperbesar kontribusi komponen lokal pada kendaraan listriknya. Namun, sel baterai masih akan didatangkan dari luar negeri, sementara sebagian besar komponen pendukung baterai berpeluang dirakit di dalam negeri.
Menurut informasi yang dimuat ridertua.com, BAIC berfokus melokalisasi baterai terlebih dahulu sebelum target TKDN kendaraan listrik ditingkatkan. Persiapan itu diharapkan dapat berjalan sebelum T1 memasuki tahap produksi lokal sekitar Juli 2027.
T1 Membuka Babak BEV BAIC
BAIC T1 menjadi mobil listrik murni pertama yang ditawarkan BAIC di Indonesia. Model ini disebut merupakan produk Arcfox di negara asalnya, tetapi akan dipasarkan memakai identitas BAIC untuk memperluas pilihan model di Indonesia.
Sebelum T1, BAIC telah menawarkan BJ30 HEV sebagai model ramah lingkungan di dalam negeri. SUV hybrid itu mendapat respons positif setelah diperkenalkan, dengan desain retro-modern serta banderol yang dinilai kompetitif di kelasnya.
| Model BAIC | Jenis Penggerak | Posisi di Indonesia |
|---|---|---|
| X55-II | Mesin bensin | Salah satu model konvensional |
| BJ40 Plus | Mesin bensin | Model dengan penjualan paling tinggi |
| BJ30 HEV | Hybrid | Model ramah lingkungan |
| T1 | Mobil listrik baterai | BEV pertama BAIC di Indonesia |
Saat ini, BAIC memiliki empat model di pasar Indonesia, terdiri dari X55-II, BJ40 Plus, BJ30 HEV, dan T1. BJ40 Plus disebut menjadi model dengan penjualan paling tinggi berkat karakter desain retro-modern dan kemampuan untuk digunakan di berbagai kondisi jalan.
BAIC juga menempatkan T1 sebagai tambahan pilihan di tengah persaingan SUV dan kendaraan listrik yang semakin padat. Meski disebut sebagai hatchback, model ini diharapkan membantu BAIC menjangkau konsumen yang ingin beralih ke kendaraan listrik.
Persiapan Model Berikutnya
Setelah T1, BAIC disebut berpeluang membawa model Arcfox lain, yakni T5, meski jadwal peluncurannya belum dipastikan. Merek asal China tersebut tetap menyiapkan pengembangan lini kendaraan ramah lingkungan maupun model konvensional di Indonesia.
Perakitan baterai lokal akan menjadi pekerjaan besar BAIC menjelang 2027, terutama saat tuntutan TKDN naik menjadi 60 persen. Keberhasilan lokalisasi komponen akan menentukan seberapa siap T1 bersaing tanpa tekanan biaya yang lebih besar bagi konsumen.







