Mitsubishi Xforce HEV membawa perubahan yang paling terasa pada kenyamanan berkendara. SUV kompak hybrid ini disebut memiliki bantingan yang jauh lebih lembut, terutama ketika melintasi jalan bergelombang, berbatu, hingga permukaan yang tidak beraspal.
Penyempurnaan tersebut menjadi penting karena karakter suspensi Xforce varian sebelumnya dinilai cenderung keras. Pada Xforce HEV, perbaikan di sektor sasis dan suspensi ditujukan agar mobil tetap stabil tanpa mengorbankan kenyamanan penumpang.
Pengujian yang dilaporkan www.suara.com mencakup rute Jakarta–Karawang serta fasilitas proving ground Bridgestone. Dalam berbagai kondisi jalan itu, guncangan yang masuk ke kabin, termasuk ke kursi baris kedua, terasa lebih minim.
Suspensi disetel untuk permukaan jalan yang beragam
Di tol layang MBZ yang memiliki kontur bergelombang, Xforce HEV tetap memberikan redaman yang lebih lembut saat menggunakan EV Mode. Mode ini menjadi salah satu dari tujuh pilihan berkendara yang tersedia pada mobil tersebut.
Kemampuan suspensinya juga diuji di jalan Karawang Baru yang dipenuhi kerikil dan bagian tanpa aspal. Saat Gravel Mode digunakan, mobil masih dapat menjaga kenyamanan kabin dengan guncangan yang relatif terkendali.
PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia atau MMKSI menyatakan penyempurnaan dilakukan pada suspensi dan sasis Xforce terbaru, termasuk varian HEV. Perubahan itu ditujukan untuk membantu mobil menjaga traksi, stabilitas, dan kenyamanan ketika melaju di jalan berbatu maupun berlubang.
Motor listrik mengambil peran besar
Di balik peningkatan kenyamanan, Xforce HEV mengusung sistem penggerak yang mengandalkan motor listrik pada sebagian besar kondisi berkendara. Peran ini paling dominan saat mobil mulai berjalan, melaju pada kecepatan rendah, dan menghadapi lalu lintas perkotaan.
| Komponen | Spesifikasi | Tenaga | Torsi |
|---|---|---|---|
| Mesin bensin | 1.6L DOHC MIVEC | 107 PS | 134 Nm |
| Motor listrik | Dipadukan dengan mesin bensin | 116 PS | 255 Nm |
Konfigurasi itu membuat respons awal mobil terasa lebih instan, namun tetap mudah dikendalikan. Akselerasinya juga diklaim lebih linear, sementara suasana kabin dapat terasa lebih senyap ketika penggerak listrik bekerja dominan.
Mesin bensin tidak hanya berfungsi sebagai sumber tenaga tambahan. Mesin tersebut dapat mengisi daya baterai atau bekerja bersama motor listrik ketika mobil memerlukan dorongan lebih besar, seperti saat menanjak, menyalip, dan melaju pada kecepatan tinggi.
Karakter lebih agresif muncul ketika Tarmac Mode dipilih karena mode ini menyajikan respons akselerasi yang lebih cepat. Kombinasi tenaga mesin dan motor listrik membuat Xforce HEV memiliki pendekatan berbeda dibanding Xforce varian sebelumnya.
Efisiensi masih perlu diuji lebih jauh
Konsumsi bahan bakar menjadi perhatian utama pada mobil hybrid, tetapi pengujian perjalanan ini belum digunakan untuk memverifikasi klaim jarak tempuh penuh. Data pada MID menunjukkan konsumsi rata-rata 19,7 km per liter setelah mobil menempuh 188 km.
Dalam perjalanan tersebut, indikator bahan bakar hanya turun satu bar dan estimasi jarak tersisa tercatat sekitar 850 km. Angka itu memberi gambaran potensi efisiensi Xforce HEV, meski hasilnya dapat berubah bergantung pada rute dan kondisi penggunaan.
MMKSI menyebut Xforce HEV dapat menempuh hingga 1.000 km apabila tangki 42 liternya terisi penuh. Sementara itu, brand ambassador Mitsubishi di Indonesia, Rifat Sungkar, mencatat jarak hingga 1.170 km dalam pengujiannya dengan tangki penuh.
