Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menegaskan bahwa klaim penjualan mobil di Indonesia kalah dari Malaysia belum bisa dipastikan karena data resmi untuk kinerja penjualan bulan Juni dan Juli 2025 belum tersedia. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN Automotive Federation (AAF).
Kukuh menjelaskan bahwa data terbaru yang bisa diakses baru sampai Mei 2025. Berdasarkan data AAF tersebut, total penjualan mobil di Indonesia pada periode Januari hingga Mei mencapai 316.981 unit, masih sedikit lebih tinggi dibanding Malaysia yang mencatat 314.019 unit. Namun, Kukuh mengakui bahwa Malaysia unggul pada segmen mobil penumpang.
Perbandingan Penjualan Indonesia dan Malaysia Hingga Mei 2025
- Total penjualan Indonesia (Januari-Mei 2025): 316.981 unit
- Total penjualan Malaysia (Januari-Mei 2025): 314.019 unit
- Segmen mobil penumpang: Malaysia lebih tinggi
- Segmen kendaraan komersial: Indonesia lebih tinggi
“Pada Mei itu kita masih unggul. Januari sampai Mei kita unggul. Passenger-nya memang kalah kita, karena Malaysia lebih tinggi. Tapi total karena ada komersial, akumulasinya kita lebih tinggi,” ujar Kukuh di kantor Kementerian Perindustrian Jakarta, Senin (25/8/2025).
Meski begitu, Gaikindo mencatat tren penurunan pada penjualan nasional sepanjang tahun ini. Sampai Juli 2025, penjualan wholesales (grosir) tercatat 453.390 unit, turun 10,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, penjualan ritel juga mengalami penurunan sebesar 10,8 persen menjadi 453.278 unit hingga Juli 2025.
Gaikindo sebelumnya menargetkan penjualan nasional bisa mencapai 900.000 unit pada tahun ini. Namun, penurunan penjualan di paruh pertama tahun ini menjadi tantangan besar untuk memenuhi target tersebut. Dalam kondisi ini, isu yang menyebutkan Indonesia telah kalah penjualan mobil dari Malaysia dinilai belum berlandaskan data lengkap.
Keterbatasan Data dan Implikasi
Kukuh menekankan pentingnya menggunakan data resmi dan terbaru dalam membandingkan performa pasar otomotif antar negara. Data penjualan pada bulan Juni dan Juli untuk kedua negara dari ASEAN Automotive Federation sampai saat ini belum diterbitkan. Sehingga klaim bahwa penjualan mobil Malaysia telah melampaui Indonesia tidaklah valid.
Menurut Kukuh, analisis yang hanya berdasarkan data parsial atau kabar yang belum diverifikasi dapat menyesatkan publik dan pelaku industri. Dalam konteks ini, peran AAF sebagai sumber data resmi sangat krusial untuk memantau dinamika penjualan regional.
Faktor yang Mempengaruhi Pasar Otomotif Indonesia
Penurunan penjualan mobil nasional juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kondisi ekonomi makro, kebijakan pemerintah terkait pajak dan insentif, serta persaingan brand otomotif baik lokal maupun asing. Contohnya, merek otomotif asing seperti VinFast juga terus berekspansi di Indonesia, yang turut mempengaruhi dinamika pasar.
Namun, segmen kendaraan komersial di Indonesia masih kuat, yang membantu menjaga total angka penjualan secara keseluruhan lebih tinggi dibandingkan Malaysia. Hal ini menunjukkan adanya potensi pertumbuhan di beberapa lini pasar otomotif dalam negeri.
Gaikindo terus memantau perkembangan pasar dengan mengandalkan data resmi dan transparan. Hal ini menjadi dasar dalam membuat kebijakan maupun strategi pengembangan industri kendaraan bermotor nasional ke depan.
Dengan demikian, meskipun ada kabar yang beredar mengenai posisi Indonesia yang tertinggal dalam penjualan mobil dari Malaysia, hingga data lengkap tersedia, klaim tersebut masih harus dibuktikan secara resmi oleh pihak yang berwenang. Gaikindo menegaskan komitmennya untuk menyediakan data yang akurat dan terpercaya demi mendukung perkembangan industri otomotif nasional.







